«

»

May 05

Resource-Based Theory (RBT)

Resource-Based Theory kali pertama disampaikan oleh Wernerfelt (1984) dalam artikel pionernya berjudul “A Resource-based view of the firm” yang menggabungkan ide ‘distinctive competencies’ nya Selznick (1957) dan karya Penrose (1959) tentang ‘definition of the firm as a system of productive resources’ (Nothnagel 2008). Namun teori yang paling berpengaruh dalam hal ini dialamatkan kepada artikel Barney (1991) yang berjudul ‘Firm Resource and Sustained Competitive Advantage’. Kontribusi lainnya yang cukup signifikan dalam membangun teori ini  diberikan oleh Rumelt (1984, 1991), Grant (1991), Peteraf (1993, 2003), Dierickx and Cool (1989), Mahoney and Pandian (1992), Wernerfelt (1989, 1991, 1995) dan Barney (2001, 2003, 2005) (Nothnagel 2008).

RBT menyatakan bahwa perusahaan memiliki sumber daya yang dapat menjadikan perusahaan memiliki keunggulan bersaing dan mampu mengarahkan perusahaan untuk memiliki kinerja jangka panjang yang baik. Resources yang berharga dan langka dapat diarahkan untuk menciptakan keunggulan bersaing, sehingga resources yang dimiliki mampu bertahan lama dan tidak mudah ditiru, ditransfer atau digantikan.

Ada dua asumsi yang melekat pada RBT (Nothnagel 2008), yaitu resource heterogeneity  dan resource immobility. Resource heterogeneity  (juga disebut resource divercity) menyinggung apakah sebuah perusahaan memiliki sumber daya atau kapabilitas yang juga dimiliki oleh perusahaan lain yang menjadi kompetitornya, sehingga sumberdaya tersebut dianggap tidak dapat menjadi suatu keunggulan bersaing. Sedangkan resource immobility menunjuk pada suatu sumber daya yang sulit didapat oleh kompetitor karena sulit untuk mendapatkan atau jika menggunakan sumber saya tersebut biayanya sangat mahal.

Barney (1991) menyatakan bahwa dalam perspektif RBT, firm resources meliputi seluruh aset, kapabilitas, proses organisasional, atribut-atribut perusahaan, informasi, knowledge, dan lain-lain yang dikendalikan oleh perusahaan yang memungkinkan perusahaan untuk memahami dan mengimplementasikan strategi guna meningkatkan efisiensi dan efektivitas perusahaan.  Lebih lanjut Barney (1991) menyarankan bahwa untuk memahami sumber dari keunggulan kompetitif berkelanjutan (sustained competitive advantages), perlu dibangun suatu model teoritis yang bermula dari sebuah asumsi bahwa sumberdaya perusahaan adalah heterogen dan immobile. Agar menjadi sumberdaya potensial dalam sustained competitive advantages, maka sumberdaya perusahaan harus memiliki empat atribut, yaitu: (a) valuable, (b) langka (rareness), (c) tidak dapat ditiru (inimitability), dan (d) tidak ada sumberdaya pengganti (non-substitutability).

              RBT sangat tepat untuk menjelaskan penelitian tentang IC, terutama dalam konteks hubungan antara kinerja IC dan nilai perusahaan. Dalam perspektif IC, intangible assets perusahaan diklasifikasikan dalam tiga kategori utama yaitu human capital, structural capital, dan customer capital (Bontis 1998).

 

Menurut Pulic and Kolakovic (2003), setiap perusahaan memiliki knowledge yang unik, keterampilan, nilai dan solusi – intangible resources – yang dapat ditransformasikan menjadi ‘nilai’ di pasar. Pengelolaan sumberdaya intangible dapat membantu perusahaan untuk mencapai keunggulan kompetitif, meningkatkan produktivitas dan nilai pasar. Paparan Pulic and Kolakovic (2003) ini sejalan dengan logika Barney (1991) ketika menjelaskan hubungan antara dua asumsi sumberdaya dalam RBT dengan empat atribut sumberdaya potensial untuk keunggulan kompetitif.

 

to be bersambung…. 😀

 

 

Random Posts

Loading…

Did you like this? Share it: