«

»

Jan 22

Nomor Urut Parpol, Pentingkah?

Artikel ini dimuat di harian Malang Pos edisi Kamis, 17 Januari 2013

 

“Nomor 7 itu dalam bahasa Jawa artinya pitulungan (pertolongan)”, tulis seorang teman aktivis partai di Malang melalui akun facebooknya setelah proses undian nomor urut partai peserta pemilu 2014 di kantor KPU Pusat Senin (14/01) siang. Di dunia twitter lebih seru lagi, sejumlah politisi dan tokoh partai politik (parpol) berusaha ‘bahagia’ dengan hasil pengundian nomor urut yang diperoleh partainya.

Nomor empatnya PDI Perjuangan misalnya disambut dengan kicauan @PDI Perjuangan: (#Empat) Modal PDI Perjuangan; Ideologi, Organisasi, Kader, & Program PerjuanganTuk kesejahteraan Rakyat. Tak Cuma itu, mereka juga yakin bahwa nomor 4 itu artinya adalah bahwa @PDI Perjuangan S4H sebagai Sang Juara dalam meraih KEPERC4Y44N R4KY4T INDONESI4 dalam Pemilu 2014 nanti.

@IndraJPiliang, politisi muda Golkar menulis “Nomor urut 5 Partai Golkar sesuai dengan usia 50 Tahun Partai Golkar pada 20 Oktober 2014”. Para follower @teguhjo (Teguh Juwarno, politisi PAN) menulis: “delaPAN semoga menjadi terdePAN yaa”. “delaPAN penjuru mata angin, menang!”. Wiranto tak ketinggalan menyamakan nomor 10-nya Partai Hanura dengan nomor punggung Messi.

Sejak pemilu multipartai pasca 1998, terbukti bahwa nomor urut tidak ada hubungannya dengan suara partai. PD yang pada Pemilu 2009 mendapat nomor urut 31 akhirnya keluar sebagai pemenang. Mendapat nomor urut 20, Partai Golkar memenangi pemilu 2004. PDI Perjuangan yang mendapat nomor urut 11 pada pemilu 1999 akhirnya juga keluar sebagai pemenang. Jadi, tidak ada hubungannya nomor urut dengan kemenangan.

Namun demikian, masih ada trauma dengan pengalaman pemilu multipartai tahun 1955 dimana partai pemenang seperti PNI, NU, Masyumi, dan PKI adalah partai partai yang mendapatkan nomor urut awal. Meskipun pemilu 2014 hanya diikuti 10 parpol, nomor urut bukan tidak penting lagi:

Pertama, nomor urut melahirkan simbol dalam komunikasi. Jauh lebih mudah memperkenalkan nomor urut daripada memperkenalkan simbol/gambar partai kepada konstituen. Terlebih lagi ketika berhadapan dengan masyarakat dengan tingkat pendidikan yang terbatas. Simbol/gambar partai yang banyak kemiripan akan membingungkan pemilih. Dengan nomor urut, partai jauh lebih mudah untuk dikenalkan.

Tentu kita masih ingat bagaimana dulu PDI Perjuangan sangat terkenal dengan simbol tiga jari (kelingking, jari manis dan jari tengah berdiri, sementara telunjuk dan ibu jari membentuk lingkaran). Simbol ini begitu terkenal dan menjadi motor dalam setiap konvoi gerakan mereka.

Tentu saja yang sangat diuntungkan adalah Partai Nasdem. Dengan nomor urut 1, Nasdem dengan relatif mudah memperkenalkan partainya kepada publik. Terlebih dengan dukungan media yang luar biasa. Nasdem bisa mengklaim angka 1-nya sebagai simbol kemenangan juara 1.

Kedua, nomor urut bisa dikaitkan dengan ideologi partai. Meskipun banyak yang meragukan keampuhan ideologi parpol, namun tetap saja ideologi menjadi bagian yang penting bagi parpol. Nomor urut yang ‘cantik’ bisa dimanfaatkan oleh partai untuk mengkomunikasikan ideologinya kepada konstituen. Dengan menggunakan nomor urut, publik akan lebih mudah ‘dipengaruhi’ untuk mengingat nama dan ideologi partai.

Partai Golkar misalnya, yang pada pemilu 2014 nanti memperoleh nomor urut 5 mengklaim bahwa nomor 5 adalah sesuai dengan Pancasila. Memang, selama ini Golkar memposisikan diri sebagai partai nasionalis yang berideologi Pancasila.

Partai Persatuan Pembangunan (PPP) mungkin adalah partai yang paling bahagia dengan nomor urut di 2014 ini. Nomor 9 adalah nomor yang sama dengan yang pernah mereka dapatkan ketika pemilu 1999. Bagi PPP, nomor 9 bisa menjadi ‘senjata ampuh’ untuk meneguhkan bahwa PPP adalah rumah besarnya umat Islam. Angka 9 adalah angkanya walisongo, penyebar ajaran Islam di tanah Jawa. Angka 9 juga bisa ‘diklaim’ sebagai bintang 9-nya NU. Seperti diketahui, PPP belakangan cukup gencar ‘merayu’ para kiyai NU untuk kembali ke PPP setelah sebulumnya tercecer di banyak partai. Bagaimanapun, PPP tentu paham bahwa jumlah massa NU cukup besar, terutama di pulau Jawa.

Ketiga, nomor urut berkaitan dengan posisi pada kertas suara. Hal yang tidak kalah penting – atau malah yang paling penting – dalam proses pemilu adalah kertas suara. Setting kertas suara menjadi bagian yang tidak terpisahkan dengan nomor urut dalam melakukan komunikasi kepada publik. Posisi gambar partai yang berada di ‘posisi strategis’ dari kertas suara akan lebih mudah memperagakan cara mencoblosnya.

Partai yang berada di ujung kertas suara (nomor 1 misalnya) tentu akan lebih mudah menunjukkan posisi partainya kepada publik, daripada partai yang gambarnya di kertas suara di tengah, tengah agak ke pinggir, atau tengah agak ke atas/bawah. Karena hal inilah maka dapat dipastikan pada saat nanti KPU menggelar sidang tentang model kertas suara akan banyak interupsi dari para pimpinan parpol.

Terlepas dari berbagai hal seputar nomor urut, agaknya menarik untuk menyimak statemen salah satu Ketua Umum Parpol yang menyatakan bahwa nomor urut tidaklah penting, jauh lebih penting adalah kerja keras. ‘Nomor cantik’ akan kalah dengan kerja keras. Mereka yang mendapatkan ‘nomor cantik’ dan kemudian bersantai, tidak mau bekerja akan kalah tergilas oleh mereka yang bekerja keras meskipun nomor mereka tidak ‘seksi’.

Jauh lebih penting dari semua itu adalah melihat bagaimana parpol melakukan rekrutmen politik untuk kepentingan pemilu 2014. Karena dari situlah kualitasnya akan dapat diukur. Jadi, jangan tergoda dengan ‘nomor cantik’ jika partainya penuh konfilik!!

Wallahu A’lam.

Random Posts

Loading…

Did you like this? Share it: