«

»

Nov 27

“yang ini jangan ditulis di daftar pustaka ya…”

Menulis (buku) bagi sebagian orang adalah hoby. Bukan (hanya) demi royalti dan kepangkatan akademi, tetapi menulis lebih merupakan media untuk menyalurkan hasrat. Selain itu, menulis adalah sarana lain dalam beribadah. Media untuk mengingatkan diri sendiri, dan mencari jalan untuk menjadi manusia yang bermanfaat bagi orang lain guna memenuhi hadits nabi bahwa sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi sesamanya.

Menulis bukan tanpa resiko. Jika menulis sesuatu yang tidak benar, tidak berdasar, dan atau tidak akademik, maka penulisnya bisa kena ‘marah’ forum pembaca. Itulah makanya ada kaidah, tata krama, etika, sopan santun, dalam dunia tulis menulis.

Kita diajari untuk menulis sesuatu yang benar, ada buktinya, bukan khayalan (kecuali memang untuk tulisan fiksi). Disini saya bicara tentang tulisan akademik, buku misalnya!

Ketika ‘meminjam’ kalimat dari tulisan orang lain pun kita diajari untuk secara jujur mengakui bahwa itu bukan kalimat kita dengan cara menyebut sumber kutipan dan kemudian mencantumkannya di daftar pustaka. Sesuatu yang kita kutip untuk kepentingan tulisan itu didasarkan pada kesesuaian topik dari tulisan kita.

Kita baca tulisan orang, artikel, hasil wawancara, buku, dan sebagainya, APAPUN JUDULNYA, yang penting sesuai dengan yang kita butuhkan, maka kita kutip tulisan itu. Kita mengutip berdasarkan KONTEN, bukan berdasarkan JUDUL BUKU!!! 

Maka menjadi ‘aneh’ dan bisa jadi bahan tertawaan di dunia persilatan, ketika seorang dosen dengan lugas dan tegas MENCORET draft skripsi mahasiswa yang sedang ujian yang mencantumkan sebuah sumber kutipan. Dengan santai dosen itu berujar: “jangan mengutip buku ini, dan jangan dicantumkan di daftar pustaka”. Karena di forum ujian, sang mahasiswa tidak berani membantah dan akhirnya mengikuti saja untuk menghapus sumber pustaka yang TIDAK DISUKAI oleh dosen pengujinya. Sialnya, dosen penguji yang satunya lagi pun mengamini yang dilakukan oleh sang dosen tersebut.

Pada periode berikutnya, giliran mahasiswa bimbingan skripsinya yang diberi ‘pencerahan’ tentang larangan mengutip dan mengacu pada sumber pustaka tertentu. Namun kali ini mahasiswanya bertanya: “kenapa tidak boleh?” sang dosen menjawab: “karena judulnya bukan metodologi penelitian bisnis!”. Menurut sang dosen, yang penting dari sebuah buku adalah judulnya, sebaik apapun isinya, kalau judulnya tidak pas yang jadi tidak baik.

Misalnya, untuk bagian Bab III skripsi (biasanya tentang Metpen), maka menurut dosen ini hanya buku dengan judul Metodologi Penelitian Bisnis yang boleh dikutip. Buku lain meskipun isinya adalah metpen tidak boleh dikutip. Misalnya ada buku dengan judul “Step by Step dalam Penyusunan Skripsi”, “Panduan Praktis Menyusun Proposal Skripsi”, “Bagaimana Menyusun Bab Metode Penelitian dalam Skripsi?”, atau buku dengan judul “Klinik Skripsi”. Buku-buku seperti ini tidak boleh dikutip dan tidak boleh dicantumkan di daftar pustaka. ‘Kesannya kurang ilmiah’, begitu mungkin pikir sang dosen yang hingga sekian puluh tahun menjadi dosen tidak memiliki satu judul buku pun ini!

Ah…masak begitu sih! bisa jadi saya salah kabar nih. Jangan-jangan hanya buku yang ditulis oleh penulis tertentu saja yang tidak boleh dikutip. Ooooo… iya! pasti itu sebabnya, bukan judulnya yang membuat buku itu terlarang, tetapi nama penulisnya. Sang dosen rupanya tidak nyaman dengan nama penulis buku itu. ‘Cari buku yang lain deh, asal buku tulisannya si ini..’, begitu kira-kira perintah sang dosen kepada mahasiswa bimbingannya.

Hmmmm…. OK! jadi teringat status FB seorang kawan. “Mengomentari [termasuk mencari kesalahan] sebuah buku jauh lebih mudah daripada menulis buku itu sendiri.”

Baiklah…tidak mengapa, ndak apa-apa. lha wong andai buku kita dikutip oleh seluruh mahasiswa di sebuah kampus, itu belum tentu berkorelasi positif dengan jumlah royalti yang akan kita terima koq. Bisa saja mahasiswa itu cuma pinjem buku, atau lebih parahnya memfoto copy buku kita!

Biar saja sang dosen puas dengan ‘onaninya’ sendiri, menikmati sendiri ‘kekuasaan’ akademiknya. Cuma sayang, mahasiswa menjadi korban karena kemudian si mahasiswa memahami bahwa dalam mengutip sebuah buku, jauh lebih penting adalah melihat judul buku dan siapa penulisnya, bukan isinya. Padahal Islam pun mengajarkan: “Lihatlah pada apa yang dikatakan, jangan melihat siapa yang mengatakan”

Kalau melihat siapa yang bicara, maka bisa jadi Islam tidak akan bisa berkembang seperti sekarang. Karena Sunan Kalijaga itu mantan rampok, sahabat Umar bin Khottob dulunya orang jahat, bahkan pernah mengubur hidup-hidup puterinya.

Apa pesan yang ingin disampaikan dari hal ini? saya cuma ingin mengatakan, pertimbangkan efek dari yang kita lakukan kepada orang lain. jika ndak suka dengan seseorang jangan membutakan perilaku kita karena itu justru akan merendahkan martabat kita sendiri. jika ada yang salah dar sebuah buku yang ditulis oleh kolega kita, mari diskusikan dan kasih masukan, tunjukkan dimana salahnya, dimana letak ketidaklayakannya untuk dikutip, atau bila perlu, dan kalu BISA, silahkan tulis buku tandingan untuk meluruskan kesalahan buku itu!!

Semoga Allah menjaga perilaku kita.

Amiin…

Random Posts

Loading…

Did you like this? Share it: