«

»

Nov 05

Mahasiswa Tawuran, Mahasiswi jadi ‘Ayam Kampus’

Dalam beberapa hari terakhir, pemberitaan tentang dunia kampus lebih didominasi hal-hal yang tidak membanggakan. Bukan kabar tentang prestasi dan kreativitas mahasiswa di bidang akademik, namun berita yang mengemuka justru tentang tawuran antar mahasiswa, demo yang berakhir ricuh, dan teranyar tentang ‘profesi’ mahasiswi yang lazim disebut ‘ayam kampus’.

Dua hari berturut-turut (30 dan 31 Oktober 2012), dua media online menulis berita tentang ‘ayam kampus’ di Malang. Openingnya pun nyaris sama. Bedanya, edisi tanggal 30 ‘menyerang’ pemain bola asing, sementara edisi tanggal 31 ‘menjejak’ dosen-dosen muda yang dituduh bisa ‘disogok’ dengan seks para ‘ayam kampus’.

Mahasiswi yang nyambi menjadi “ayam kampus” di Malang mengaku sering melayani pemain sepakbola, terutama para pemain asing yang merumput di liga Indonesia. “Banyak pemain bola yang sering booking teman-teman, tak hanya pengusaha atau pejabat,” kata perempuan yang kini masih kuliah di salah satu perguruan tinggi negeri di Malang. Demikian tulis Kompas.com (30 Oktober 2012).

Mahasiswi yang nyambi menjadi “ayam kampus” mengaku kerap mengajak kencan para dosen yang mengajarnya di kampus. Hal itu dilakukan untuk mendapatkan nilai bagus walau sering tidak masuk kuliah dan tidak maksimal mengerjakan tugas mata kuliahnya. “Mengajak kencan dosen yang ngajar lebih efektif, tetapi tidak semua dosen diajak dan mau diajak,” tutur SF, salah seorang mahasiswi di salah satu perguruan tinggi di Malang, saat ditemui di sebuah rumah kontrakan di Kota Malang, Senin (29/10/2012) malam. Umumnya, kata SF, dosen yang bisa diajak kencan usianya masih muda. Kencannya dilakukan di hotel sederhana. “Kalau dosen ambil hotel sederhana. Tak terlalu mahal.” Tulis Tribunnews.com pada edisi tanggal 31 Oktober 2012.

Bukan Berita Baru

Cerita tentang mahasiswi yang jadi ‘ayam kampus’ sesungguhnya bukan hal baru, sudah ada sejak lama. Tidak hanya di Malang, namun juga menyebar di kampus-kampus di Jokjakarta, Semarang, Bandung, Jakarta, dan kota-kota lain yang menjadi pusat pendidikan tinggi.

Bahkan, pada awal tahun 2000, dua media cetak di Jawa Timur pernah melakukan investigasi tentang perilaku mahasiswa (anak-anak kost) di Malang. Liputan itu tidak secara khusus menyoroti tentang ‘ayam kampus’, tetapi tentang mahasiswa secara umum yang terjebak dalam gaya hidup bebas.

Hasilnya? Cukup mencengangkan! Anak-anak kost (mahasiswa) cenderung memilih rumah kost yang tidak ada bapak/ibu kostnya, atau bahkan mereka lebih suka rumah kontrakan daripada rumah kost. Alasannya tentu saja atas nama kebebasan.

Faktanya, banyak rumah kost yang terpisah dari pemiliknya. Hanya ditunggui oleh pesuruh yang datang untuk membersihkan lingkungan rumah. Rumah kost macam ini cenderung sangat bebas. Tidak ada jam malam, dan tidak ada aturan tentang kunjungan teman lawan jenis. Tamu bisa masuk kamar secara leluasa, bahkan menginap!

Lebih parah lagi, ada banyak rumah kost yang three in one. Satu rumah, satu area, dihuni oleh anak kost laki dan perempuan! Model rumah kost seperti ini banyak ditemukan di Jokja, Jakarta, Malang, dan bahkan juga di Semarang.

Rumah-rumah kost yang bebas inilah yang biasanya menjadi pemicu munculnya aktivitas ‘ayam kampus’. Bermula dari kebiasaan berperilaku liar dengan pacar, kemudian berkenalan dengan teman-teman yang sudah lebih dahulu masuk dalam dunia ‘ayam kampus’, maka bertambahlah komunitas ‘ayam’ di kampus-kampus.

Peran Dosen

Dalam pemberitaan Tribunnews edisi 31 Oktober 2012 ditulis bahwa para ‘ayam kampus’ itu sering mengajak kencan dosen yang mengajar di kampusnya demi mendapatkan nilai yang bagus. Bahkan, lanjut berita itu, dosen juga seringkali ketagihan dan mengajak kencan ‘ayam kampus’. Ditambahkan pula bahwa dosen yang demikian itu kebanyakan adalah dosen-dosen muda.

Secara pribadi, berdasarkan pengalaman sebagai dosen muda, saya tidak terlalu percaya dengan berita tersebut. Hal ini setidaknya untuk tiga alasan,

Pertama, secara logika, para mahasiswi yang berperilaku menyimpang tersebut akan berusaha sebaik-baiknya agar status ‘ayam kampus’nya tidak diketahui oleh pihak kampus, termasuk dosen. Karena jika sampai ketahuan, maka hal itu bisa mengancam statusnya sebagai mahasiswi di kampus. Dia bisa dikeluarkan dari kampus dan tidak memiliki status sebagai mahasiswi lagi, dan tentu saja akhirnya ‘pasarannya’ akan turun karena statusnya bukan ‘ayam kampus’, tetapi sama dengan PSK liar yang lain.

Kedua, jika yang ‘disasar’ dan ‘dituduh’ sebagai konsumen ‘ayam kampus’ tersebut adalah para dosen muda, ini justru tidak masuk akal. Dosen-dosen muda biasanya cenderung memiliki idealisme yang lebih tinggi. Sebagai junior, mereka akan sangat berhati-hati berurusan dengan nilai akhir mahasiswa. Tidak mungkin mereka mempemainkan nilai mahasiswa dengan imbalan seks seperti yang diberitakan.

Ketiga, mahasiswi yang memilih untuk menjadi ‘ayam kampus’ biasanya sudah tidak memperdulikan lagi kuliahnya. Mereka tidak pernah masuk kuliah, apalagi mengerjakan tugas. Pada dasarnya mereka tidak punya keinginan untuk lulus, karena jika mereka lulus maka status ‘ayam kampus’ nya akan hilang. Justru dengan memiliki KTM (Kartu Tanda Mahasiswa) itulah yang dapat meningkatkan nilai jualnya. Jadi, kecil kemungkinannya mahasiswi jenis ini ‘rela’ merayu dosen dan memberikan layanan gratis demi nilai akhir kuliah, karena mereka sesungguhnya tidak ingin lulus kuliah!

Terlepas dari itu, jikalau toh berita itu benar adanya, maka sungguh sangat memprihatinkan dunia pendidikan kita. Komplit sudah kerusakannya, mahasiswanya suka tawuran, mahasiswinya jadi ‘ayam kampus’, dan dosennya menjual nilai dengan ‘layanan khusus’.

Dosen harusnya tidak hanya bertugas untuk mengajar di kelas. Tugas dosen tidak berakhir ketika jam tatap muka di kelas berakhir. Dosen memiliki tanggung jawab atas pendidikan moral para mahasiswanya. Layaknya seorang guru (ustadz dalam bahasa Arab), dosen juga berkewajiban untuk memastikan bahwa mahasiswanya memiliki karakter yang baik.

Merujuk pada UU No. 14 Tahun 2005 tentang Guru dan Dosen, seorang guru harus memiliki empat kompetensi, yaitu kompetensi profesional, pedagogis, personal, dan sosial. Dari keempat kompetensi tersebut, aspek yang paling mendasar untuk menjadi seorang guru yang berkarakter dan layak diteladani adalah aspek kepribadian (personalitas). Karena aspek kepribadian inilah yang menjadi cikal bakal lahirnya komitmen diri, dedikasi, kepedulian, dan kemauan kuat untuk terus berbuat yang terbaik dalam kiprahnya di dunia pendidikan.

Dalam perspektif Islam, dosen/guru (ustadz/ulama’) adalah warostatul ambiya’ (pewaris para Nabi). Bagaimana mungkin bisa menjadi pewaris para Nabi jika dosen menjual nilai dengan cara-cara yang tidak benar dan tidak dibernarkan. Tidak benar menurut aturan akademik, dan tidak dibenarkan dalam ketentuan hukum Allah.

Pembinaan Aktivitas Kemahasiswaan

Selama ini, ada kesan seolah-olah tugas pembinaan kemahasiswaan adalah tanggung jawab Wakil (Pembantu) Dekan III. Hal ini tidak sepenuhnya benar, karena mestinya seluruh dosen punya kewajiban untuk turut serta dalam proses pembinaan kemahasiswaan.

Munculnya tawuran antar mahasiswa di dalam satu kampus misalnya, adalah bentuk ketidakpedulian dosen dalam ikut serta mengawasi dan membina perilaku mahasiswa. Dosen cenderung cuek dan tidak berinteraksi dengan mahasiswa di luar kelas. Komunikasi yang dibangun cenderung kaku dan formal. Akhirnya mahasiswa tidak merasa memiliki ikatan emosional dengan dosen dan kampusnya. Maka terjadilah kerusuhan di dalam kampus. Mahasiswa dengan bangganya merusak fasilitas kampusnya sendiri. Mahasiswa tidak memiliki kebanggaan atas almamaternya!

Wallahu A’lam.

Random Posts

Loading…

Did you like this? Share it: