«

»

Nov 20

Intellectual Capital, an ACCOUNTING perspective

Selama ini, kajian tentang Intellectual Capital (IC) masih dianggap sebagai ‘bidang asing’ di ranah ilmu Akuntansi. Bahkan, pada SNA XV kemarin di Banjarmasin, ketika salah satu pemakalah menyajikan paper tentang IC, moderator berkomentar yang kurang lebih begini: “topik ini memang menarik untuk diteliti. namun tolong dipertimbangkan aspek akuntansinya”.

Secara tidak langsung komentar itu ‘meragukan’ keAKUNTANSIan IC. Namun demikian, di SNA Purwokerto, sudah ada komisi yang khusus mendiskusikan paper2 dengan topik IC [mungkin karena waktu itu cukup banyak paper dengan topik IC yang lolos].

Di banyak kesempatan ujian akhir (skripsi, thesis) atau diskusi2 lepas juga sering dipertanyakan “DIMANA AKUNTANSInya” ketika membahas topik tentang IC.

Oleh karena itu, dalam kesempatan ini saya ingin berbagi tentang perspektif akuntansi dari IC untuk menjawab: INI LHO AKUNTANSINYA INTELLECTUAL CAPITAL, atau dengan kata lain IC itu Akuntansi Bos!!

Tujuan pelaporan keuangan adalah untuk menyajikan informasi yang berguna bagi pengambilan keputusan ekonomi tentang posisi keuangan dan kinerja perusahaan (FASB  1978; SFAS 1; IASC 1989). Meskipun secara umum diterima bahwa investasi pada intangibles adalah sumberdaya yang penting bagi kinerja masa depan, aturan akuntansi tentang pengakuan aset menunjukkan bahwa sebagian besar intangible assets tidak dapat dimasukkan ke necara, khususnya jika mereka dikembangkan secara internal.

Sebaliknya, semua biaya yang dikeluarkan untuk mengembangkan intangible assets biasanya harus langsung dibebankan sebagai biaya dalam laporan laba rugi. Bagi perusahaan yang berinvestasi pada intangibles, pembebanan langsung ini berarti bahwa laba dan posisi keuangan saat ini reduced, sementara laba di masa yang akan datang menjadi overstated.

Argumen utama yang menentang pengakuan intangible assets di neraca adalah ketidakpastian arus ekonomi masa depan dari aset tersebut. Akibtanya, sistem akuntansi saat ini cenderung “front-load the costs” dari investasi terhadap intangibles dan “delay the recognition” keuntungannya (Lev and Zarowin 1999).
Pada akhir 1980-an, akademisi dan praktisi mulai meningkatkan perhatian mereka tentang praktik ini, dengan alasan bahwa jika aturan akuntansi tidak beradaptasi dengan meningkatnya kebutuhan untuk memberikan informasi yang relevan tentang investasi di IC, akuntansi akan kehilangan relevansinya (e.g., Johnson and Kaplan 1987).
Baik organisasi profesional maupun penelitian akademis menekankan perlunya penyesuaian praktik akuntansi yang ada untuk memberikan pandangan yang benar dan wajar kepada pemakai tentang posisi keuangan perusahaan dan kinerja. Salah satu efek yang muncul dari potensi kerugian terkait relevansi informasi akuntansi adalah meningkatnya gap antara market value dan book value ekuitas selama tahun 1980an dan 1990an.
Kerugian dari relevansi informasi akuntansi juga jelas dari Lev and Zarowin (1999), yang menunjukkan bahwa perusahaan yang R&D-intensive mengalami perubahan yang lebih dibandingkan dengan perusahaan no-R&D dan kehilangan niai informatif dari informasi keuangan lebih cepat dibandingkan perusahaan no-R&D. Hal ini tidak dapat dijelaskan dengan tingkat pertumbuhan laba kontemporer tetapi sebagian karena investor mulai menghargai meningkatnya tingkat investasi di IC sebagai sumber potensi profitabilitas masa depan (Nakamura 1999).
Faktanya, investasi R & D pada ekonomi AS dua kali lipat untuk periode 1953-1997, sementara investasi di aset berwujud tetap stabil. Bahkan dengan peningkatan investasi di IC sebagai sumber masa depan dari nilai dan keuntungan, sebagian besar dari mereka harus segera dibebankan, sehingga menurunkan laba saat ini dan nilai buku ekuitas. Faktanya, Lev and Sougiannis (1999) mengkonfirmasi asersi Nakamura’s (1999) bahwa “innovative capital” adalah variabel fundamental yang mendasari efek market-to-book value.
Publikasi AICPA dan laporan serupa yang diterbitkan oleh AIMR yang memimpin FASB untuk melakukan sebuah proyek penelitian difokuskan pada peningkatan pelaporan bisnis pada tahun 1998. Hasilnya, FASB menerbitkan beberapa laporan yang menekankan pentingnya pengungkapan sukarela informasi tentang intangible assets.
Pada Oktober 2001, FASB memulai sebuah proyek tentang pengungkapan sukarela (voluntary disclosure) informasi terkait intangible assets. Perhatian mengenai penurunan relevansi informasi akuntansi tradisional ini dengan cepat melampaui batas-batas AS. The Canadian Institute of Chartered Accountants (CICA), the Danish Agency for Development of Trade and Industry, the Netherlands Ministry of Economic Affairs, the Organization for Economic Cooperation and Development (OECD), the Institute of Chartered Accountants in England and Wales (ICAEW), dan the Chartered Institute of Management Accountants (CIMA) semuanya mengadakan kajian yang kebutuhan untuk mengidentifikasi, mengukur, dan melaporkan informasi tentang intangibles yang merupakan pemicu nilai utama di dalam knowledge economy (Starovic and Marr 2003; Upton 2001).
Argumen utama dari FASB, IASB, dan organisasi pembuat standar yang lain terkait penolakan untuk mencatat intangibles di neraca adalah:

(a) ketidakpastian keuntungan ekonomi masa depan,

(b) lemahnya reliabilitas dari nilai moneter, dan

(c) diskresi yang lebih besar yang diberikan kepada manajer dengan kapitalisasi alternatif dibandingkan dengan membebankan langsung

Lev and Zarowin (1999), Høegh-Krohn and Knivsflå (2000), dan Upton (2001) menawarkan alternatif yang lebih konservatif, yang mendukung baik full-cost atau pendekatan fair value capitalization.
Mirip dengan IAS 38 (IASC 1998a) for development costs, atau SFAS no. 86 for software development expenditures, Lev and Zarowin (1999) dan Høegh-Krohn and Knivsflå (2000) mendukung condition-based cost capitalization approach untuk memperhitungkan intangible assets tertentu.
Lev and Sougiannis (1996), Aboody and Lev (1998), Barth and Clinch (1998), dnd Healy et al. (2002) memberikan bukti mengenai hubungan yang signifikan antara intangibles’ capitalization dan market values, yang mendukung argumen bahwa pendekatan ini menyajikan informasi yang lebih relevan.

Jadi…IC itu jelas bagian dari kajian akuntansi.

Random Posts

Loading…

Did you like this? Share it: