«

»

Oct 30

Rahasia (Malaysia) Mendongkrak Publikasi Ilmiah Internasional

[tulisan ini disalin apa adanya tanpa edit dari sumbernya: http://edukasi.kompasiana.com/2012/02/19/rahasia-malaysia-mendongkrak-publikasi-ilmiah-internasional/]

Heboh perihal surat edaran Dirjen Dikti tentang kewajiban menulis makalah ilmiah di jurnal kepada setiap lulusan S1, S2 dan S3 masih tetap hangat agaknya. Berbagai respon pro dan kontra terus bermunculan di berbagai kalangan. Ada yang mempersoalkan kenapa harus membandingkan dengan pencapaian negara tertentu, ada yang mempersoalkan kenapa pula harus diterapkan kepada calon lulusan S1, bahkan ada pula yang mempersoalkan tak ada kaitannya sama sekali penulisan makalah dalam jurnal ilmiah internasional dengan sumbangan kepada pembangunan bangsa.

Namun, umumnya semua pihak menyadari bahwa inti kebijakan tersebut sudah sesuai pada jalurnya. Sudah umum diketahui bahwa kalangan berpendidikan apalagi pendidikan tinggi ya sudah wajib dan harus mampu menghasilkan karya tulis ilmiah. Kalau tidak mampu menulis, ya jangan jadi sarjana dong. Kemungkinan besar penolakan yang muncul di sebagian kalangan ini disebabkan kebijakan yang tiba-tiba tanpa ada tanda-tanda awal, sehingga seperti mendengar petir di siang bolong. Namun setelah masa cooling down beberapa saat, suasana akan kembali tenang dan semua pihak akan mampu mempersiapkan diri untuk menyesuaikan dengan keadaan baru yang mulai berubah ini.

Walaupun karya ilmiah sudah menjadi produk wajib di kalangan perguruan tinggi, namun produktifitas Indonesia secara keseluruhan dalam publikasi karya ilmiah dibandingkan dengan negara-negara lain di dunia masih sangat jauh tertinggal. Jangankan untuk level dunia, level Asia Tenggara saja, kita masih tercecer. Padahal sepatutnya, Indonesia adalah pemimpin di kawasan ini. Dengan jumlah penduduknya yang terbesar, jumlah perguruan tingginya juga terbesar. Secara logika, untuk kondisi normal, produk ilmiah yang dihasilkan oleh PT-PT Indonesia tentunya akan menjadi terbesar pula di kawasan ini.

Bagaimana kita tahu tingkat produktifitas karya ilmiah di kalangan perguruan tinggi kita? Telah ada beberapa sistem ranking perguruan tinggi yang cukup objektif menilai kinerja sebuah institusi pendidikan di seluruh dunia. Seperti ARWU-Jiao Tong di China, Leiden di Belanda, TIMES di Inggris, dan Webometrics di Spanyol, yang menyusun ranking universitas-universitas di dunia berdasarkan berbagai kriteria. Selain sistem yang dikembangkan tersebut ada satu lagi sistem sejenis yang dibuat oleh Middle East Technical University (METU) dari Turki.

Sistem yang dinamakan URAP (University Ranking by Academic Performance) tersebut didasarkan kepada enam kriteria (indikator kinerja akademik), yaitu:

1. Jumlah karya ilmiah dalam 1 tahun tertentu,

2. Jumlah total karya ilmiah sejak tahun 2005 sampai tahun tertentu,

3. Jumlah pengutipan terhadap karya ilmiah (citation) pada tahun tertentu,

4. Jumlah kumulatif karya ilmiah dalam jurnal ber-faktor impak (impact-factor) sejak tahun 2005,

5. Jumlah kumulatif pengutipan terhadap karya ilmiah dalam jurnal ber-faktor impak (journal citation impact total) sejak tahun 2005,

6. Kerjasama internasional.

 

Data dikumpulkan dari sumber terbuka (open sources) dari Google Scholar dan ISI (Information Sciences Institute) dan sumber lainnya yang kredibel, menampilkan kinerja sekitar 2500an universitas di dunia. Dari sini dapat dilihat bahwa institusi yang memproduksi artikel ilmiah yang dimuat oleh jurnal-jurnal bergengsi (ISI) yang akan berpeluang besar menduduki ranking teratas, karena memang kriteria utama pemilihan adalah jumlah karya ilmiah yang dihasilkan. Tujuan sistem ini disebutkan bukanlah untuk menilai institusi bagus atau jelek, namun lebih kepada upaya membantu institusi untuk melihat dirinya pada posisi dimana dan bagaimana di antara kalangan institusi pendidikan tinggi di dunia.

Bagaimana dengan Indonesia? Syukurlah ada 5 PT kita yang terdata dalam sistem URAP, yang menunjukkan kinerja PT kita tersebut telah mampu menembus 2000an PT dunia untuk dinilai produktifitas karya ilmiahnya. Namun, seperti sudah diduga, rankingnya jauh di bawah, yaitu antara 1506 untuk UI dan 1969 yang diraih oleh Unair; lihat Tabel 1. Suatu pencapaian yang jauh tertinggal jika dibandingkan dengan Malaysia, lihat Tabel 2. Ada 7 PT Malaysia yang terlacak oleh sistem URAP, dan 2 di antaranya masuk dalam 500 besar, dengan kategori A.

Tabel 1. Ranking perguruan tinggi Indonesia menurut URAP tahun 2011

Country Ranking

University Name

World Ranking

Category

Article

Citation

Total Document

JIT

JCIT

Collaboration

Total

1

University of Indonesia

1506

B

30.88

34.34

20.07

36.32

29.94

45.27

196.83

2

Bandung Institute of Technology

1686

B

29.21

15.39

20.31

21.34

9.09

45.02

140.36

3

Universitas Gadjah Mada

1700

B

25.19

20.72

12.10

20.44

13.82

45.10

137.37

4

Bogor Agricultural University

1867

B

16.16

13.97

6.54

15.12

9.56

33.48

94.83

5

Airlangga University

1969

B

12.14

12.92

4.15

11.54

13.23

19.33

73.31

Tabel 2. Ranking perguruan tinggi Malaysia menurut URAP tahun 2011

Country Ranking

University Name

World Ranking

Category

Article

Citation

Total Document

JIT

JCIT

Collaboration

Total

1

Universiti Malaya (UM)

378

A

70.66

63.77

32.08

54.73

45.40

49.09

315.73

2

Universiti Sains Malaysia (USM)

423

A

69.79

63.70

31.81

54.62

45.24

48.29

313.45

3

Universiti Putra Malaysia (UPM)

641

B++

67.14

63.19

30.97

54.25

45.02

46.32

306.89

4

Universiti Kebangsaan Malaysia (UKM)

746

B++

65.50

63.20

31.32

54.13

45.02

45.83

305.00

5

Universiti Teknologi Malaysia (UTM)

1331

B+

63.79

44.61

30.46

43.61

23.49

45.35

251.31

6

Multimedia University (MMU)

1479

B+

52.96

37.18

30.17

34.23

11.58

40.46

206.58

7

Universiti Teknologi Mara (UiTM)

1609

B

61.96

20.53

30.16

22.90

13.11

23.98

162.63

Dari kondisi ini sudah jelas secara objektif kita memang tertinggal dengan Malaysia dalam hal pencapaian produktifitas karya ilmiah dalam percaturan ilmiah dunia. Mungkin ini pula lah yang membuat Dirjen Dikti geregetan sehingga terbit surat edaran yang menyatakan jumlah karya ilmiah kita hanya sepertujuh Malaysia.

Tentunya untuk dapat bangkit mengejar ketertinggalan ini perlu ada langkah-langkah yang komprehensif dan terencana dengan logis dan matang, tidak grasa-grusu, hantam kromo, wajib sana dan wajib sini. Malaysia sendiri menggapai kondisi yang seperti ini tidak dengan cara mewajibkan sarjana S1 nya menulis paper di jurnal. Ada beberapa langkah sistematis yang dibuat oleh pemerintah Malaysia dalam mendongkrak produktifitas paper mereka. Seperti peningkatan anggaran pendidikan tinggi, insentif untuk penelitian, perekrutan dosen-dosen asing, insentif untuk penulisan di jurnal internasional, dan lain-lain yang umumnya bersifat mendorong dengan penghargaan (motivation by award). Dosen-dosen PT di sana dimanjakan dengan dana riset yang berlimpah, pembelian peralatan lab yang canggih, dan penggajian yang menarik. Setelah kondisi yang nyaman diciptakan, barulah kewajiban-kewajiban sebagai seorang akademisi dituntut, seperti kewajiban publikasi jurnal internasional minimal per tahun, kehadiran, dan kewajiban lainnya.

Untuk kalangan mahasiswa S1 sama sekali tidak ada kewajiban menulis jurnal yang terkesan membebani, malah mereka dituntut untuk segera menyelesaikan kuliahnya dalam 4 sampai 4,5 tahun saja. Kalau pun ada penulisan paper atas tugas akhirnya, itu dilakukan oleh dosen pembimbing yang mengolah data riset si mahasiswa menjadi paper di jurnal internasional.

Untuk mahasiswa S2 dan S3, ya memang wajib menulis di jurnal internasional. Sebagai contoh, di Universiti Putra Malaysia, setiap mahasiswa minimal sudah memiliki 1 paper di jurnal internasional (di-index oleh Scopus) untuk mahasiswa S2 dan 2 paper untuk mahasiswa S3 yang akan mengajukan thesisnya.

Selain itu, setiap dosen diwajibkan dalam 1 tahun mempublikasi paper internasional minimal dalam jumlah tertentu disesuaikan dengan kepangkatannya. Uniknya, untuk setiap paper yang berhasil terbit dalam jurnal berimpak tinggi diberikan dana insentif sesuai dengan nilai faktor impak jurnal tersebut. Bahkan institusi pun akan membayar biaya penerbitan (jika jurnal berbayar) untuk paper yang diterima pada jurnal ber-faktor impak.

Lepas dari itu semua, kebijakan Dikti dalam hal ini patut kita apresiasi dalam rangka mendongkrak produktifitas publikasi ilmiah kalangan akademisi Indonesia di percaturan dunia. Jika Malaysia saja yang tidak mewajibkan mahasiswa S1nya menulis di jurnal dapat sukses, apalagi Indonesia nantinya. Tentunya, setelah ini akan ada lagi kebijakan-kebijakan lanjutan yang lebih terarah, sistematis dan komprehensif serta logis untuk mendongkrak pencapaian publikasi ilmiah Indonesia di masa depan.

Sumber Tabel: URAP (http://www.urapcenter.org/2011/)

Random Posts

Loading…

Did you like this? Share it: