«

»

Oct 01

Konstruksi Komponen Intellectual Capital untuk Perguruan Tinggi di Indonesia

Abstract

 

The purpose of this study is to construct a concept of intellectual capital (IC) components that relevant to Indonesian universities. This concept will very useful for universities to disclose their information on IC, both in their website and annual report. This concept will useful for researchers to assess the extent of information on IC that disclosed by universities.

This study based on Leitner’s framework (2002) that has been widely used in research on university’s IC. The methods used in this study are documentation, interview, and peer examination. The interview was conducted with UMM internal stakeholders which has a direct relationship with the university management of IC. Besides, interview also conducted with BAN-Dikti’s assessors to accelerate between components of IC with accreditation standards BAN-PT.

The result show that this study success to construct a set of component of IC that relevant for Indonesian universities. The resulting number of IC components is 46 items, 7 items more than IC component composed by Leitner (2002).

 

Keywords: intellectual capital, university, board of national accreditation

PENDAHULUAN

Dalam beberapa dekade terakhir, aset tidak berwujud dan intellectual capital (IC) telah menjadi isu tidak hanya bagi para akademisi, namun juga pemerintah, regulator, perusahaan, investor, dan stakeholder lainnya. Berbagai kajian telah dihasilkan tentang tema ini sejak akhir tahun 1990-an, bahkan setidaknya telah ada dua jurnal internasional yang khusus membahas tentang tema IC dan intangible, yaitu journal of intellectual capital dan journal of knowledge mangement.

Meskipun sebagian besar kajian tentang manajemen pengetahuan (knowledge management) dan IC selama ini lebih banyak fokus terhadap perusahaan swasta, namun belakangan mulai muncul ketertarikan untuk mengembangkannya dari organisasi swasta ke organisasi publik, misalnya universitas dan pusat penelitian. Perkembangan terakhir ini terkait dengan fakta bahwa tujuan utama universitas adalah memproduksi dan menyebarluaskan pengetahuan, dan investasi paling penting bagi universitas adalah di sektor penelitian dan pengembangan sumber daya manusia. Meskipun faktanya input dan output utama universitas pada dasarnya adalah intangible, namun sangat sedikit instrumen untuk mengukur dan mengelolanya (Canibano and Sanchez, 2004).

Di sektor privat kajian tentang IC sudah cukup beragam, mulai dari kerangka konseptual, pengklasifikasian, hingga pengukurannya. Bahkan, Pulic (1999, 2000) juga telah menemukan formula untuk mengukur dampak dari keberadaan IC di dalam perusahaan yang diberi label Value Added Intellectual Coefficient (VAIC).

Beberapa metode pengukuran dan pelaporan IC untuk organisasi swasta yang telah berkembang sejauh ini diantaranya:

  1. Balanced Score Card (Kaplan and Norton, 1992);
  2. Navigator of Skandia (Edvinsson and Malone, 1997);
  3. Technology Broker (Brroking, 1996);
  4. West Ontario University (Bontis, 1996)
  5. Canadian Imperial Bank (Saint-Onge, 1996)
  6. Intellectual Asset Monitor (Sveiby, 1997);
  7. Intelectual Capital (Dragonetti and Ross, 1998);
  8. The Value Explorer (Andriessen, 2001); dan
  9. The MERITUM Project (2002)

Dari perspektif sektor publik, IC telah menjadi tantangan penting bagi organisasi publik yang dalam beberapa hal turut mempengaruhi tingkat daya saing suatu negara (OECD, 2001). Oleh karena itu, negara-negara di Eropa misalnya, telah sejak jauh hari menginisiasi suatu bentuk laporan IC untuk organisasi publik, terutama perguruan tinggi.

Tujuan dari pelaporan IC adalah untuk merekam, mengelola, dan mendokumentasikan proses berbasis pengetahuan (knowledge-based processed) serta menginformasikannya kepada manajemen dan stakeholders lainnya (Warden, 2003). Informasi tentang IC yang disajikan dewasa ini, kebanyakan, adalah informasi kualitatif dan non-keuangan (Canibano dan Sanchez, 2004).

Beberapa inisiatif yang telah dilakukan untuk melaporkan IC universitas diantaranya adalah (Benzhani, 2010): (1) INGENIO [Politeknik Universitas Valencia dan Universitas Teknologi Venezuela]; (2) IC in Higher Education Institutions and Research Organisations (HEROs); (3)  Observatory of European University (OEU); (4) PCI Project di Madrid; University of the Basque Country ; dan (5) Intellectual capital report of the Austrian Research Centre (ARC).

Di Indonesia, sejauh ini belum banyak kajian tentang pelaporan IC di perguruan tinggi. Kerangka konseptual pelaporan IC untuk perguruan tinggi dengan perspektif Indonesia juga masih sangat jarang ditemukan. Penelitian Puspitahati et al. (2011) dan Nadia (2011) yang mengkaji pelaporan IC pada website universitas di Indonesia masih menggunakan framework yang dibangun untuk universitas di Eropa, sehingga dalam beberapa item tidak ditemukan pada website perguruan tinggi di Indonesia, bahkan pada PTN sekelas UGM dan ITB sekalipun.

Penelitian ini sangat penting, karena hasil penelitian ini dapat menjadi panduan bagi perguruan tinggi dalam melaporkan pengelolaan IC mereka, dan juga dapat menjadi alat bagi peneliti untuk mengevaluasi praktik pelaporan IC oleh perguruan tinggi di Indonesia. Berdasarkan hal tersebut di atas, rumusan masalah penelitian yang diajukan dalam penelitian ini adalah: Bagaimanakah komponen-komponen intellectual capital yang tepat untuk perguruan tinggi di Indonesia?

mau melanjutkan membaca artikel ini? silahkan donlot yaaaa…. halaalan thoyyiban koq! 😀

01 Ihyaul Ulum

Random Posts

Loading…

Did you like this? Share it: