«

»

Feb 02

Privilege Belajar di Universitas

Bulan Juni hingga September adalah bulan-bulan ‘sibuk’ di mana banyak aktivitas berbagai kelompok masyarakat tertuju kepada satu tempat yang bernama “SEKOLAH”. Mereka yang mempunyai anak usia SD, SMP dan SMU sibuk mensurvei dan mendaftarkan anaknya di sekolah yang mereka anggap ‘punya nama’. Anak-anak yang baru saja menyelesaikan pendidikan di tingkat SMU, gelisah menentukan pilihan untuk melanjutkan ke perguruan tinggi. Bahkan tidak jarang para pekerja kantor ‘rela’ meninggakan pekerjaannya dan ikut antri di pintu gerbang sebuah bangunan berlabel “SEKOLAH” untuk meyakinkan bahwa anaknya diterima di tempat itu.

Aktivitas yang sama ternyata juga terjadi di lingkungan pengelola ‘sekolah’. Mereka disibukkan oleh sebuah target pemenuhan penerimaan siswa (mahasiswa) baru. Di berbagai sudut jalan perkotaan mulai ramai terpampang spanduk (baca: iklan) penerimaan siswa dan mahasiswa baru dari berbagai jenis dan jenjang pendidikan. Pendeknya, sekolah dalam berbagai bentuknya memiliki pengaruh yang begitu mendalam dalam diri masyarakat kita.

“Jangan sampai putus sekolah, kalau putus sekolah bisa berabe,” demikian ujar Mandra dalam pariwara AYO SEKOLAH yang disponsori oleh UNICEF. Begitu pentingnya sekolah sehingga Bank Pembangunan Asia (ADB) dan Bank Dunia (Word Bank) bersedia dengan segera mengucurkan hutang baru bagi Indonesia (dan negara-negara berkembang lainnya) untuk menjamin anak-anak tetap di bangku sekolah di masa krisis. Bahkan para ‘pengelola’ Republik Indonesia ‘rela’ mengalokasikan 20% anggarannya untuk sektor pendidikan, meskipun hingga kini tidak pernah terwujud!!.

Terlepas dari apapun dan bagaimanapun masyarakat kita telah menempatkan ‘sekolah’ dalam tatanan sosialnya, tulisan ini bermaksud mengemukakan pernyataan : apa itu sekolah; dan apa yang dilakukan oleh sekolah ?

Asal Usul Sekolah

Mungkin telah terjadi kekeliruan pada saat kali pertama disebut kata school, yakni asal mula kata sekolah dalam bahasa kita sekarang. Karena dalam bahasa aslinya, yakni kata skhole, scola, scolae atau schola (Latin), kata itu secara harfiah berarti “waktu luang” atau “waktu senggang”. (Roem Topatimasang, 1998)

Melihat asal-muasalnya, penggunaan kata – kata itu (skhole, scola, scolae dan schola) tidaklah salah karena dulunya kata itu memang digunakan untuk menyebut sebuah kegiatan yang dilakukan oleh orang Yunani Kuno untuk mengisi waktu luangnya. Mereka pada waktu itu menggunakan waktu senggangnya untuk mengunjungi suatu tempat atau seseorang pandai tertentu untuk mempertanyakan dan mempelajari hal-ikhwal yang mereka rasakan memang perlu dan butuh untuk mereka ketahui. Keempatnya mempunyai arti yang sama :”waktu luang yang digunakan secara khusus untuk belajar” (leisure devoted to learning).

Lama-kelamaan, kebiasaan mengisi waktu luang mempelajari sesuatu itu akhirnya tidak lagi semata-mata jadi kebiasaan kaum lelaki dewasa. Kebiasaan itu juga kemudian diberlakukan bagi para putra-putri mereka. Di tempat itu, anak-anak bisa bermain, berlatih melakukan sesuatu, dan belajar apa saja yang memang patut untuk dipelajari sampai tiba masanya mereka harus pulang kembali ke rumah menjalankan kehidupan orang dewasa.

Sejak saat itulah telah beralih sebagian dari fungsi scola matterna (pengasuh ibu sampai usia tertentu), yang merupakan proses dan lembaga sosialisasi tertua umat manusia, menjadi scola in loco parentis (lembaga pengasuhan anak pada waktu senggang di luar rumah, sebagai pengganti ayah dan ibu). Itulah pula sebab mengapa lembaga pengasuhan ini kemudian biasa disebut juga ‘ibu asuh’ atau ‘ibu yang memberikan ilmu’ (alma mater).

Demikianlah waktu terus berlalu hingga John Amos Comenius melalui mahakaryanya yang kemudian dianggap sebagai fons et erigo nya ilmu pendidikan, yakni kitab Didactica Magna, melontarkan gagasan untuk melembagakan pola dan proses pengasuhan anak-anak itu secara sistematis. Gagasan ini kemudian diteruskan dan disempurnakan oleh Johann Heinrich Pestalozzi pada abad ke-18.

Pelaksanaan Fungsi Sekolah

Sekolah dimaksudkan untuk mendidik, inilah ideologi sekolah, tujuan umum sekolah. Sekolah-sekolah telah bergantung tanpa tantangan sampai akhirr-akhir ini, sebagian karena pendidikan itu sendiri adalah suatu istilah yuang berbeda-beda artinya bagi berbagai orang. Tetapi secara berangsur-angsur sekolah di semua negara dari segala jenis pada segala tingkiatan memadukan empat fungsi sosial yang berbeda-beda custodial care, yaitu fungsi perwalian (pengawasan kanak-kanak); seleksi peranan sosial; indoktrinasi; dan fungsi pendidikan yang biasanya diwujudkan dalam bentuk pengembangan kecakapan dan pengetahuan. (Everett Reimer, 2000)

Fungsi perwalian sekarang dilakukan secara universal oleh sekolah-sekolah sehingga sukar mengingatkan susunan-susunan yang terdahulu. Para orang tua dengan begitu saja telah menyerahkan sebagian besar tanggungjawabnya atas pengawasan anak-anaknya kepada sekolah. Fungsi inilah yang justru memeras waktu lebih banyak daripada fungsi lainnya. Waktu belajar (time study) yang diadakan di Puerto Rico oleh Anthony Laurie misalnya, menunjukkan bahwa kurang dari 20 % waktu seorang guru tersedia untuk aktivitas-aktivitas pengajaran. Sisa waktunya dihabiskan untuk mengawasi tingkah laku siswa dan tugas-tugas administratif.

Pada saat anak-anak menjadi mahasiswa penuh, mereka tetap menjadi anak-anak ekonomis, politis, bahkan secara hukum. Meskipun tidak ada sanksi hukum formal yang dikenakan terhaadap para mahasiswa, mereka selalu dapat dicabut haknya untuk bersekolah, dan dengan demikian dicabut pula haknya atas pekerjaan dan status sosial yang diinginkan. Sekolah itu sendiri, selaku wali dari orang-orang yang jumlahnya makin banyak untuk memperbesar proporsi masa kehidupan mereka untuk jumlah jam dan kepentingan yang makin bertambah sedang menuju ke arah integrasi dengan pasukan angkatan bersenjata, penjara-penjara, dan rumah sakit-rumah sakit jiwa sebagai salah satu lembaga total masyarakat.

Fungsi lain sekolah yang lebih langsung kaitannya dengan tujuan-tujuan pendidikan itu daripada custodial care, ialah pemisahan anak-anak muda ke dalam celah sosial yang akan mereka tempati di dalam kehidupan dewasa. Di antara pemisahan ini ada yang berlangsung pada tingkatan sekolah menengah dan college, ketika para pelajar/mahasiswa mulai memilih suatu jabatan atau usaha dan memasuki kurikulum-kurikulum khusus untuk persiapan kejuruan. Akibat dari aspek pemilihan kerja ini pun tidak bermanfaat dan sering kali berbahaya. Sebagian dari ketidakmanfaatan itu ialah tingginya angka drop out tidak saja dari sekolah-sekolah kejuruan dan sekolah usaha, melainkan dari jabatan dan usaha itu sendiri seringkali setelah dilakukan investasi yang lama dan mahal.

Privilege Belajar Perguruan Tinggi

Belajar merupakan hak setiap orang. Akan tetapi, kegiatan belajar di suatu perguruan tinggi merupakan suatu privilege karena hanya orang yang memenuhi syarat saja yang berhak belajar di lembaga pendidikan tersebut. Belajar di perguruan tinggi merupakan pilihan strategik untuk mencapai tujuan individual bagi mereka yang menyatakan diri untuk belajar melalui jalur formal. (Suwardjono, 1991)

Klaim tersebut tampaknya benar adanya. Hanya mereka yang privileged bisa ‘menikmati’ belajar di perguruan tinggi.

Pertama, di semua negara biaya sekolah naik lebih pesat daripada angka pendaftaran pelajar, dan lebih pesat daripada pendapatan nasional. Meskipun anggaran untuk pendidikan dalam pendapatan nasional itu dapat naik dengan perlahan-lahan sementara pendapatan nasional bertambah, tetapi pendapatan sekolah tak dapat terus naik dengan kecepatan sekarang. Akibatnya, hanya sebagian kecil kelompok masyarakat yang mampu menikmati belajar di sekolah.

Kedua, mereka yang ‘lolos’ dalam tahapan masuk sekolah juga tidak semuanya bisa ‘menikmati’ belajar. Einstein, dalam memberikan komentar tentang periode yang singkat di mana ia harus berada di sekolah untuk mempersiapkan diri menghadapi ujian, mengatakan bahwa sebagai akibat hal itu selama beberapa tahun berikutnya ia tak mempunyai minat untuk melakukan pekerjaan kreatif. Hanya mereka yang benar-benar berminat akan memperlajari hal-hal yang diajarkan (baca: didoktrinkan) di sekolah, sementara sebagian besar lainnya tidak berminat.

Apa yang dikeluhkan oleh Einstein, terlihat jelas lagi dengan membandingkan pengaruh sekolah terhadap anak-anak dari golongan privileged dan anak-anak underprivileged. Anak-anak underprivileged, yang lingkungan rumah tangganya tidak ada alat-alat khusus seperti di sekolah, dengan pengalaman kegagalan dan keyakinan bahwa dirinya tidak memenuhi syarat, serta perasaan tidak suka terhadap alat-alat pelajaran khusus yang selanjutnya bukan menjadi hak mereka. Anak-anak yang privileged, yang lingkungan rumah tangganya mempunyai banyak alat khusus dari sekolah itu, yang akan mempelajari sendiri banyak hal yang diajarkan oleh sekolah, merasakan sukses relatif di sekolah dan menjadi terikat pada suatu sistem yang memberinya pujian untuk belajar tanpa mengeluarkan usaha atau inisiatif. (Everett Reimer, 2000)

Anak-anak miskin dicabut haknya, baik atas motivasi maupun atas alat-alat yang disediakan oleh sekolah bagi anak-anak yang privileged. Anak-anak miskin juga dicabut haknya untuk memperoleh pekerjaan, status sosial, dan penghargaan yang hanya bisa bisa diraih melalui institusi sekolah. Mungkin, logika para pengelola pendidikan masih belum beranjak dari hukum Parkinson: “Pekerjaan berkembang susuai jumlah waktu yang dibutuhkan untuk menyelesaikannya, bahwa biaya-biaya meningkat jumlahnya sesuai dengan makin meningkatnya juga jumlah penerimaan dan bahwa pertumbuhan memang sama dengan semakin ruwetnya permasalahan”.(Cyrill Parkinson, 1946)

Random Posts

Loading…

Did you like this? Share it: