«

»

Jan 25

Short Course Akuntansi Syariah Angkatan ke-3

Fenomena moneter dewasa ini (kontemporer) banyak mendapat sorotan dari pakar ekonomi dunia. Fenomena itu ialah kondisi faktual pertumbuhan sektor finansial di dunia saat ini, sangat tak seimbang dengan pertumbuhan sektor riil. Realitas ketidakseimbangan arus finansial dengan arus barang (riil) tersebut, mencemaskan banyak pakar ekonomi dunia, karena ia dapat mengancam krisis ekonomi di berbagai negara.

Sekedar ilustrasi dari fenomena ketidakseimbangan tersebut, terlihat dari data peredaran uang di muka bumi ini setiap hari, dana yang beredar mencapai US$ 2 triliun sampai US$ 3 triliun atau sekitar lebih US$ 700 tirliun dalam satu tahunnya Tetapi dana yang benar-benar digunakan untuk sektor riil (kegiatan perdagangan barang dan jasa) hanya berkisar US$ 7 triliun. Dengan demikian arus uang lebih cepat dibandingkan dengan arus barang.

Dengan demikian, hampir seluruh dana tersebut (99%) beredar secara maya, artinya, gentayangan dalam transaksi non sektor riil, seperti peredaran uang di pasar modal dan pasar uang dunia secara spekulatif. Inilah ketidakseimbangan antara arus uang dan barang yang dicela dan dihindari ekonomi syariah dikategorikan sebagai riba.

Menurut konsep ekonomi syariah, jumlah uang yang beredar, bukanlah variabel yang dapat ditentukan begitu saja oleh pemerintah sebagai variabel eksogen. Dalam ekonomi syariah, jumlah uang yang beredar ditentukan di dalam perekonomian sebagai variabel oksogen. Dalam ekonomi syariah, jumlah uang yang beredar ditentukan dalam perekonomian sebagai variabel endcogen, yaitu ditentukan oleh banyaknya permintaan uang disektor riil. Atau dengan kata lain, jumlah uang yang beredar sama banyaknya dengan nilai barang dan jasa dalam perekonomian. Dalam ekonomi syariah, sektor financial mengikuti pertumbuhan sektor riil. Inilah perbedaan konsep syariah dengan ekonomi konvensional, jelas memisahkan antara sektor financial dan sektor riil.

Spekulasi mata uang yang bisa mengganggu ekonomi dunia, umumnya dilakukan dipasar – pasar uang. Pasar uang di dunia saat ini, dikuasai oleh enam pusat keuangan dunia (London, New York, Chicago, Tokyo, Hong Kong, dan Singapura). Nilai uang mata uang negara lain, bisa saja tiba- tiba menguat atau sebaliknya. Dipasar uang tersebut, peran spekulan cukup signifikan untuk menggoncang ekonomi suatu negara. Lihatlah Inggris, sebagai negara yang kuat ekonominya, ternyata pernah sempoyongan gara – gara ulah spekulan di pasar uang, apalagi kondisinya seperti di Indonesia, jelas menjadi bulan – bulanan para spekulan.

Bagi sepekulan, tidak penting apakah nilai menguat atau melemah. Bagi mereka yang penting adalah mata uang selalu befluktuasi. Tidak jarang mereka melakukan rekayasa untuk menciptakan fluktuasi bisa ada momen yang tepat, biasanya suatu peristiwa politik yang menimbulkan ketidakpastian. Menjelang momentum tersebut, secara perlahan – lahan, mereka membeli rupiah, sehingga permintaan akan meningkat. Ini akan mendorong nilai rupiah menguat. Penguatan rupiah secara semu ini, akan menjadi makanan empuk para spekulan. Bila momentumnya muncul dan ketidakpastian mulai merebak, mereka akan melepas rupiah secara sekaligus dalam jumlah yang besar. Pasar akan kebanjiran rupiah dan tentunya nilai rupiah akan anjlok.

Dalam ekonomi syariah, segala bentuk transaksi maya dilarang. Bila transaksi ini dibolehkan, maka pasar uang akan tumbuh jauh lebih cepat daripada pertumbuhan pasar barang dan jasa. Pertumbuhan yang tidak seimbang akan menjadi sumber krisis seperti yang terjadi sekarang ini. Transaksi mudharabah (Trust financing/ trust invesment) dan musyarakah (joint financing) yang diterapkan Bank Syariah, jelas mengaitkan sektor moneter dan sektor riil. Demikian pula transaksi jual beli murabahah (deferred payment sale), salam (in – front payment sale), istisna (purchase by order or manufacture), dan ijarah (leasing), semakin tampak keterkaitan antara sektor moneter dan sektor riil.

Di sisi lain, tren perkembangan perbankan dan lembaga keuangan syari’ah menuntut lulusan akuntansi untuk memiliki pengetahuan dan ketrampilan yang memadai di bidang akuntansi syari’ah. Perkembangan inilah yang mendorong program studi Akuntansi melalui lab. Akuntansi untuk mengadakan short course Akuntansi Syariah.

Short course Akuntansi Syariah ini dilaksanakan pada hari Rabu-Jum’at, tanggal 19-21 Januari 2011 bertempat di aula BAU Universitas Muhammadiyah Malang, diikuti oleh 120 peserta.

Materi yang disajikan dalam short course Akuntansi Syariah ini adalah:

1.      Fiqh Mu’amalat (Dr. Agustianto, MA. – Sekjen Ikatan Ahli Ekonomi Islam, Jakarta)

2.      Lembaga Keuangan Syariah (BMI)

3.      Memahami paket PSAK tentang Akuntansi Syariah (PSAK 101-108) (Drs. Wiroso, MBA – IAI DSAS)

4.      Workshop implementasi paket PSAK tentang Akuntansi Syariah

————————- gambar2nya nyusul ya………………………..

Random Posts

Loading…

Did you like this? Share it: