«

»

Oct 20

Refungsionalisasi Lembaga Pers Mahasiswa

Selama beberapa tahun terakhir, hampir tidak ada lagi ‘produk jurnalistik’ mahasiswa UMM yang dapat dinikmati selain Bestari. Kita tidak dapat lagi menemukan daya kritis mahasiswa yang dituangkan dalam tulisan-tulisan dengan analisis yang menarik dan dengan gaya khas mahasiswa seperti banyak dijumpai dalam berbagai majalah mahasiswa sekitar 4 tahun yang lalu. Lembaga pers mahasiswa (LPM) benar-benar telah tamat?!

Ironis! Pada saat pemerintah (melalui DP2M Dikti) tengah gencar-gencarnya memompa kreatifitas mahasiswa dalam tulis menulis melalui program PKM, LPM yang menjadi ujung tombak aktivitas jurnalistik mahasiswa justru sekarat. Selain mengandalkan kepekaan dan ide-ide yang cemerlang, semua jenis PKM membutuhkan kemampuan tulis menulis mahasiswa, karena pengajuan PKM tersebut diawali dengan proposal (kecuali PKM-GT yang langsung berupa naskah). Banyaknya jumlah proposal PKM dari mahasiswa UMM yang diajukan ke dikti menunjukkan bahwa sesungguhnya LPM masih sangat mungkin untuk bertahan hidup. Sungguh menyedihkan, pada saat mestinya LPM mengambil peran penting dalam melahirkan proposal-proposal PKM yang handal, LPM malah terkebiri eksistensinya.

Sebuah tulisan di Bestari beberapa edisi yang lalu pernah memuat data tentang keberadaan LPM di fakultas-fakultas UMM yang kembang-kempis. Sebagian besar diantaranya kini sudah tidak terbit lagi (atau tidak diterbitkan?). Menurut saya, ada beberapa kemungkinan untuk menjawab ‘kematian’ beberapa LPM di UMM tersebut:

Pertama, LPM mengalami ‘nasib’ yang sama dengan lembaga-lembaga kemahasiswaan yang lain yang juga mati suri. Animo mahasiswa untuk bergabung dengan lembaga kemahasiswaan sudah sedemikian rendahnya. Entah karena faktor lemahnya sistem rekruitmen lembaga-lembaga tersebut, atau karena padatnya beban SKS yang ditanggung oleh mahasiswa sehingga mahasiswa tidak memiliki lagi sisa energi untuk belajar hal lain di luar kelas. Atau mungkin mahasiswa sudah semakin pragmatis dan menganggap bahwa menjadi mahasiswa hanya perlu menyelesaikan 144-148 SKS saya. Predikat aktivitas tidak lagi ‘seksi’ di mata mahasiswa!!

Kedua, untuk bisa tetap eksis, sebuah LPM harus bisa menerbitkan ‘produk’, baik dalam bentuk majalah, tabloid, bulletin, atau apapun. Dan untuk bisa menghasilkan suatu ‘produk’, para aktivis LPM dituntut untuk memiliki ide dan kemampuan untuk mengkomunikasikan ide tersebut. Pertanyaannya adalah, apakah mereka (para aktivis LPM yang mati suri) masih mampu menggali ide-ide segar untuk dikomunikasikan? Bisa jadi, mereka tidak bisa menerbitkan suatu majalah karena mereka ‘kekeringan’ ide!! Pesimisme ini muncul bersamaan dengan hadirnya anggapan bahwa lembaga kemahasiswaan tidak lebih dari sekedar tempat parkirnya mahasiswa-mahasiswa yang ‘pas-pasan’. Tentu saja anggapan ini tidak sepenuhnya benar, karena toh banyak aktivis mahasiswa yang juga jago di bidang akademik, bisa wisuda tepat waktu, bahkan menjadi wisudawan terbaik. Namun kita juga tidak bisa menutup mata bahwa banyak aktivis yang ‘ngos-ngosan’ di dalam kelas, sehingga menjadi aktivis merupakan pilihan untuk menjustifikasi ketidakhadirannya di kelas!?.

Ketiga, disadari atau tidak, diakui atau tidak, eksistensi LPM yang dimanifestasikan dengan terbitnya tulisan-tulisan mahasiswa kadang menjadi ‘menu’ yang kurang sedap bagi beberapa pihak. Kontrol yang dilakukan oleh para aktivis LPM seringkali jauh lebih pedas dan lebih efektif daripada demo-demo yang dilakukan gerakan mahasiswa. Kondisi ini bisa saja memuculkan ketidaknyamanan beberapa pihak sehingga LPM kemudian sengaja di’matikan’ secara sistematis.

Para mahasiswa yang tergabung dalam LPM menginginkan untuk dapat belajar tentang bagaimana menuangkan ide ke dalam tulisan. Mengasah otak untuk menemukan ide-ide segar yang orisinil, kritis, dan menggigit. Untuk dapat mengkomunikasikan ide-ide tersebut, mahasiswa butuh media (buletin, majalah, tabloid, dsb). Sedangkan untuk bisa terbit, media tersebut butuh konsumen (baca:pembaca/pelanggan) yang dapat menyuplai dana bagi penerbitan mereka. Bestari UMM bisa tetap eksis karena sumber dananya jelas!! Bagaimana dengan LPM-LPM di masing-masing fakultas??

Doeloe….majalah yang dihasilkan oleh LPM menjadi bacaan wajib bagi mahasiswa di masing-masing fakultas. Setidaknya setiap musim her-registrasi, mahasiswa ‘harus’ membeli majalah mahasiswa yang dihasilkan oleh LPM. Kadang memang muncul kritik ketika majalah mahasiswa diwajibkan untuk dibeli oleh seluruh mahasiswa yang melakukan her-registrasi. Namun setidaknya, itulah salah satu cara untuk tetap dapat mempertahankan eksistensi sebuah LPM. Bukankah negara pun memberikan proteksi terhadap produk-produk tertentu karya anak bangsa?!

Ketika kemudian dibuat kebijakan agar LPM mencari pasar lain di luar kampus, sesungguhnya sama artinya dengan mulai membunuh LPM secara perlahan. Karena pasti, majalah mahasiswa akan kalah bersaing dengan berbagai jenis media yang ada di pasar. Selain itu, muatan majalah mahasiswa memang disetting untuk dikonsumsi oleh mahasiswa di fakultas tertentu dimana LPM itu ada, sehingga sulit berharap dapat menjual majalah mahasiswa milik fakultas ekonomi, misalnya, kepada mahasiswa fakultas kedokteran!.

Dua momentum

Jika ada good will dari semua pihak untuk menghidupkan kembali LPM, maka sekarang inilah saatnya. Setidaknya ada dua momentum yang dapat menjadi driver bergairahnya kembali aktivitas jurnalistik mahasiswa, yaitu:

Momentum pertama, pada tahun 2009 ini baru saja terjadi pergantian pimpinan fakultas di UMM. Kita bisa berharap pada pimpinan fakultas yang baru (meskipun mungkin orang-orang lama) untuk memiliki perspektif yang lebih bijak terkait keberadaan LPM di fakultas. Bukan hanya Pembantu Dekan III, refungsionalisasi LPM justru lebih banyak ditentukan oleh kemauan Dekan. Sekali lagi, kita boleh berharap lebih kepada pimpinan fakultas yang baru!

Momentum kedua, tingginya gairah mahasiswa UMM untuk mengikuti program kreativitas mahasiswa (PKM) dalam beberapa tahun terakhir menunjukkan adanya minat yang tinggi pula terhadap dunia jurnalistik. Apapun motivasi awalnya (mungkin dana yang Rp 10 juta, atau karena tekanan tugas matakuliah), lahirnya suatu proposal PKM sudah cukup memberikan bukti bahwa sesungguhnya mahasiswa UMM masih sangat kaya dengan ide-ide kreatif (namanya juga program kreativitas mahasiswa!). Situasi ini dapat ditangkap oleh LPM untuk menghidupkan kembali aktivitas-aktivitas jurnalistik yang (bisa saja) muaranya adalah proposal PKM.

Untuk konteks fakultas ekonomi misalnya, kita memiliki perangkat yang sesungguhnya sangat lengkap untuk mendorong lahirnya beragam kreativitas mahasiswa. FE-UMM memiliki sejumlah lembaga semi otonom (LSO) yang sejak awal memang dibangun dengan spesifikasi masing-masing namun tetap sinergis satu dengan yang lain. Forum studi pustaka (Forstupa) menjadi tempat untuk membedah buku-buku baru, kemudian didiskusikan lebih mendalam di Forum Diskusi Mahasiswa Ekonomi (FDME), yang hasil-hasilnya dinarasikan secara apik melalui tulisan-tulisan di LPM Dimek dan kemudian dirumuskan menjadi PKM. Ideal sekali!

Sebuah Solusi (usul)

Menurut saya ada strategi yang mungkin bisa dipakai untuk menyiasati kondisi lesunya LPM. Untuk dapat menjamin bahwa mahasiswa UMM mempunyai media belajar menulis dan menuangkan ide, maka keberadaan LPM mutlak diperlukan, karena Bestari tidak mungkin bisa memenuhi hasrat ratusan mahasiswa UMM yang berminat di dunia jurnalistik.

Mewajibkan seluruh mahasiswa untuk membeli majalah LPM bukanlah sesuatu yang tepat, karena akan membebani mahasiswa secara finansial dalam kurun waktu yang panjang. Namun menghapus sama sekali proteksi fakultas terhadap penjualan majalah LPM juga bukan kebijakan yang bijaksana, karena akan mengantarkan LPM kepada pintu kematian. Dengan tidak mewajibkan kepada mahasiswa untuk membeli majalah mahasiswa, memang mahasiswa sepertinya ‘diuntungkan’ dari sisi finansial. Namun, sesungguhnya mereka telah dirugikan karena hilangnya salah satu fungsi kontrol kelembagaan oleh mahasiswa.

Proteksi atas penjualan majalah LPM tetap mutlak dibutuhkan untuk menjamin bahwa kreativitas tulisan mahasiswa dapat tersalurkan melalui media milik mahasiswa. Pewajiban tersebut bisa dibatasi hanya terhadap mahasiswa angkatan terakhir. Misalnya, pada semester ganjil, yang diwajibkan membeli majalah adalah mahasiswa semester 1 dan 3. Sedangkan pada semester genap, yang diwajibkan membeli majalah adalah mahasiswa semester 2 dan 4. Sehingga, setiap mahasiswa hanya akan ‘terbebani’ untuk membeli majalah LPM selama 2 tahun pertama.

Terkait dengan semua itu, saya mengapresiasi keputusan Dekan Fakultas Ekonomi yang telah ‘memaksa’ LPM Dimek untuk kembali menerbitkan majalah. Apresiasi yang sama saya sampaikan kepada tim LPM Dimek yang sangat militan (tampaknya). Jadi…..SELAMAT DATANG KREATIVITAS MAHASISWA!! Karena pada dasarnya SEMUA MAHASISWA ITU KREATIF, KECUALI YANG TIDAK.

Wallahu a’lamu bisshowab.

Random Posts

Loading…

Did you like this? Share it: