«

»

Oct 07

Memenangi Persaingan China – ASEAN Free Trade Area (CAFTA) Melalui Optimalisasi Pengelolaan Intellectual Capital*

*) Paper ini telah dipresentasikan pada seminar nasional di FE – UT Tangerang Selatan, 1 Oktober 2010.

Abstrak

Tahun Baru 2010 menandai diberlakukannya Perjanjian Perdagangan China – ASEAN (China – ASEAN Free Trade Area, CAFTA). Dengan kesepakatan ini, maka barang-barang antarnegara China dan ASEAN akan saling bebas masuk dengan pembebasan tarif hingga nol persen. Sejumlah pengusaha menilai, sektor usaha kecil dan menengah akan tergilas karena serbuan barang-barang murah dari China. Dalam konteks ini, kita tidak punya pilihan untuk menunda, apalagi mundur. Satu-satunya hal yang harus kita lakukan adalah berbenah, mempersiapkan diri, dan memenangi persaingan ini.

Di samping peningkatan daya saing produk lokal (yang menjadi harga mati untuk tidak tergilas oleh derasnya arus masuk produk-produk China ke Indonesia), kita juga harus memaksimalkan pengelolaan Intellectual Capital (IC) yang dimiliki oleh masing-masing perusahaan. Strategi ini mutlak diperlukan karena CAFTA ini merupakan pertanda dari munculnya era baru dalam ekonomi, dari old economy kepada new economy. Dalam old economy, kesejahteraan diciptakan melalui peningkatan unit produk dan sistem pengukurannya berdasarkan pada pendapatan (revenue), kos (cost), dan laba (profit). Sedangkan dalam new economy, kesejahteraan diciptakan melalui peningkatan incorporated value added dari produk dan jasa.

Setiap perusahaan memiliki pengetahuan, keterampilan, nilai dan solusi yang unik yang dapat ditransformasikan ke dalam nilai di pasar. Jika pengelolaan sumberdaya tak berwujud (intangible resources) dapat membantu meraih keunggulan kompetitif, maka peningkatan produktivitas dan nilai pasar (market value) bukan lagi sebuah pilihan, tetapi adalah sebuah kepastian (Pulic and Kolakovic, 2003). Hal inilah yang disebut sebagai intellectual capital, yang menjadi kunci bagi perusahaan untuk memanangi kompetisi dalam CAFTA.

IC adalah suatu istilah yang diberikan kepada kombinasi aktiva tidak berwujud dari pasar (intangible assets of market), intellectual property, human-centred dan infrastruktur yang memungkinkan perusahaan untuk bisa berfungsi (Brooking, 1996). IC umumnya diidentifikasikan sebagai perbedaan antara nilai pasar perusahaan (bisnis perusahaan) dan nilai buku dari aset perusahaan tersebut atau dari financial capitalnya.  Hal ini berdasarkan suatu observasi bahwa sejak akhir 1980-an, nilai pasar dari bisnis kebanyakan dan secara khusus adalah bisnis yang berdasar pengetahuan telah menjadi lebih besar dari nilai yang dilaporkan dalam laporan keuangan berdasarkan perhitungan yang dilakukan oleh akuntan (Roslender & Fincham, 2004).

Keywords: CAFTA, intellectual capital, efficiency, competitiveness.

PENDAHULUAN

Sadar atau tidak, siap atau tidak, kita tidak lagi mempunyai pilihan dalam menghadapi situasi perdagangan internasional. Tuntutan munculnya suatu mekanisme perdagangan yang borderless, telah memicu lahirnya berbagai kesepakatan yang membebaskan keluar masuknya barang dan jasa dari berbagai negara. Salah satu dari hal tersebut adalah kesepakatan Perjanjian Perdagangan China – ASEAN (China – ASEAN Free Trade Area, CAFTA).

Banyak pihak yang pesimis – dan kemudian menyalahkan pemerintah – dalam menghadapi CAFTA. Argumen yang diberikan rata-rata berkisar pada anggapan bahwa industri kita, terutama industri kecil dan menengah, belum siap dan tidak akan mampu bersaing dalam menghadapi derasnya arus masuk produk-produk China ke Indonesia.

Namun demikian, tidak sedikit yang dengan penuh optimisme menyambut era CAFTA ini. CAFTA ditempatkan sebagai sebuah peluang besar untuk mengembangkan diri dan meningkatkan efisiensi produksi. Tentu saja dengan setumpuk argumentasi untuk meyakinkan diri bahwa perusahaan dan industri kita dapat memetik keuntungan dari CAFTA. Salah satunya (menurut saya) adalah karena kita memahami betul karakter konsumen kita, dan apa yang mereka butuhkan.

Kekayaan kita atas informasi tentang konsumen, jaringan distribusi untuk menjangkaunya, dan sebagainya adalah merupakan sumberdaya yang luar biasa akan memberikan dampak positif kepada organisasi ketika dikelola secara efektif. Kekayaan tersebut, yang merupakan intangible resources adalah bagian penting dari intellectual capital yang diyakini merupakan driver bagi penciptaan nilai (value creation) bagi perusahaan.

Memahami Intellectual Capital

Ketertarikan akan IC bermula ketika Tom Stewart, pada Juni 1991, menulis sebuah artikel (”Brain Power – How Intellectual Capital Is Becoming America’s Most Valuable Asset”), yang mengantar IC kepada agenda manajemen. Tabel 1 meringkas kronologi beberapa kontribusi signifikan terhadap pengidentifikasian, pengukuran dan pelaporan IC.

Tabel 1: Kronologi Kontribusi Signifikan terhadap Pengidentifikasian, Pengukuran dan Pelaporan IC

Periode Perkembangan
Awal 1980-an Muncul pemahaman umum tentang Intangible value (biasanya disebut “goodwill”)
Pertengahan 1980-an Era informasi (information age) memegang peranan, dan selisih (gap) antara nilai buku dan nilai pasar semakin tampak jelas di beberapa perusahaan.
Akhir 1980-an Awal usaha para konsultan (praktisi) untuk membangun laporan/akun yang mengukur intellectual capital (Sveiby, 1988).
Awal 1990-an Prakarsa secara sistematis untuk mengukur dan melaporkan persediaan perusahaan atas intellectual capital kepada pihak eksternal (misalnya: Celemi and Skandia; SCSI, 1995)
Pada tahun 1990, Skandia AFS menugaskan Leif Edvinsson sebagai “Direktur intellectual capital”. Hal ini adalah untuk kali pertama bahwa tugas pengelolaan intellectual capital diangkat pada posisi formal dan mendapatkan legitimasi perusahaan.
Kaplan dan Norton memperkenalkan konsep tentang balanced scorecard (1992).
Pertengahan 1990-an Nonaka dan Takeuchi (1995) mempresentasikan karya yang sangat berpengaruh terhadap “penciptaan pengetahuan perusahaan”. Meskipun buku ini berkonsentrasi pada ‘knowledge’, pembedaan antara pengetahuan dan intellectual capital dalam buku ini cukup menunjukkan bahwa mereka fokus pada intellectual capital.
Pada tahun 1994, suplemen laporan tahunan Skandia dihasilkan. Suplemen ini fokus pada penyajian dan penilaian Persediaan perusahaan atas intellectual capital. Visualisasi IC menarik minat perusahaan lain untuk mengikuti petunjuk Skandia.
Sensasi lainnya terjadi pada tahun 1995 ketika Celemi menggunakan knowledge audit untuk menawarkan suatu taksiran detail atas pernyataan intellectual capitalnya.
Para pioner intellectual capital mempublikasikan buku-buku laris dengan topik IC (Kaplan dan Norton, 1996; Edvinsson and Malone, 1997; Sveiby, 1997). Karya Edvinsson and Malone lebih banyak mengupas tentang proses dan ‘bagaimana’ pengukuran IC.
Akhir 1990-an Intellectual capital menjadi topik populer dengan konferensi para peneliti dan akademisi, working paper, dan publikasi lainnya menemukan audien.
Peningkatan jumlah proyek-proyek besar (misalnya the MERITUM project; Danish; Stockholm) yang diselenggarakan dengan tujuan, antara lain, untuk memperkenalkan beberapa penelitian tentang intellectual capital.
Pada tahun 1999, OECD menyelenggarakan simposium internasional tentang intellectual capital di Amsterdam.

Sumber: Ulum (2009)

Roos et al. (1997) menyatakan bahwa intellectual capital (IC) mencakup seluruh proses dan aset yang tidak secara normal ditunjukkan dalam neraca dan seluruh aset tidak berwujud (merk dagang, hak paten, dan brand). Sementara Bontis (1998) mengakui bahwa IC adalah elusive, tetapi ketika ia dapat ditangkap dan dikembangkan, ia akan menjadi sumberdaya baru bagi organisasi untuk berkompetisi dan memenangkannya.

Salah satu definisi IC yang banyak digunakan adalah yang ditawarkan oleh Organisation for Economic Co-operation and Development (OECD, 1999) yang menjelaskan IC sebagai nilai ekonomi dari dua kategori aset tak berwujud: (1) organisational (structural) capital; dan (2) human capital. Lebih tepatnya, organisational (structural) capital mengacu pada hal seperti sistem software, jaringan distribusi, dan rantai pasokan. Human capital meliputi sumber daya manusia di dalam organisasi (yaitu sumber daya tenaga kerja/karyawan) dan sumber daya eksternal yang berkaitan dengan organisasi, seperti konsumen dan supplier. Seringkali, istilah IC diperlakukan sebagai sinonim dari intangible assets. Meskipun demikian, definisi yang diajukan OECD, menyajikan cukup perbedaan dengan meletakkan IC sebagai bagian terpisah dari dasar penetapan intangible asset secara keseluruhan suatu perusahaan. Dengan demikian, terdapat item-item intangible asset yang secara logika tidak membentuk bagian dari IC suatu perusahaan. Salah satunya adalah reputasi perusahaan. Reputasi perusahaan mungkin merupakan hasil sampingan (atau suatu akibat) dari penggunaan IC secara bijak dalam perusahaan, tapi itu bukan merupakan bagian dari IC.

IC umumnya diidentifikasikan sebagai perbedaan antara nilai pasar perusahaan (bisnis perusahaan) dan nilai buku dari aset perusahaan tersebut atau dari financial capitalnya.  Hal ini berdasarkan suatu observasi bahwa sejak akhir 1980-an, nilai pasar dari bisnis kebanyakan dan secara khusus adalah bisnis yang berdasar pengetahuan telah menjadi lebih besar dari nilai yang dilaporkan dalam laporan keuangan berdasarkan perhitungan yang dilakukan oleh akuntan (Roslender & Fincham, 2004).

Tabel 2: Perbandingan Konsep IC Menurut Beberapa Peneliti

Brooking (UK) Roos (UK) Stewart (USA) Bontis (Kanada)
Human-centered

assets

Skills, abilities and

expertise, problem solving abilities and leadership styles

Human capital

Competence,

attitude, and intellectual agility

Human capital

Employees are an organization’s most important asset

Human capital

The individual level knowledge that each employee possesses

Infrastructure assets

All the technologies, process and methodologies that enable company to function

Organizational capital

All organizational, innovation, processes, intellectual property, and cultural assets

Structural capital

Knowledge embedded in information technology

Structural capital

Non-human assets or organizational capabilities used to meet market requirements

Intellectual property

Know-how, trademarks and patents

Renewal and development capital

New patents and training efforts

Structural capital

All patents, plans and trademarks

Intellectual property

Unlike, IC, IP is a protected asset and has a legal definition

Market assets

Brands, customers,  customer loyalty and distribution channels

Relational capital

Relationship which include internal and external stakeholders

Customer capital

Market information used to capture and retain   customers

Relational capital

Customer capital is only one feature of the knowledge embedded in organizational relationships

Sumber : Bontis et al. (2000)

IC Sebagai Penciptaan Nilai (Value Creation)

Sekarang ini, logika bisnis didasarkan pada pencapaian keberhasilan pertumbuhan dan penciptaan nilai (value creation) dalam jangka panjang. Masalahnya adalah bahwa indikator tradisional tentang keberhasilan bisnis, seperti peningkatan pendapatan, arus kas, laba, penguasaan pasar, dan kepemimpinan teknologi sesungguhnya tidak mampu menyediakan informasi apakah perusahaan benar-benar telah menciptakan nilai bagi pemilik dan pemegang saham atau belum. Hanya ketika suatu perusahaan mampu menghasilkan sesuatu yang lebih dari sumberdaya yang diinvestasi, maka kita dapat berbicara tentang penciptaan nilai. Dalam konteks ini, kepentingan utama semua stakeholders adalah bahwa strategi bisnis diarahkan pada pencapaian tujuan tersebut – value creation – dan bahwa sistem pengukuran mencerminkan kemampuan manajemen untuk mencapai tujuan tersebut.

Bagaimanapun, meningkatnya tekanan dan tanggung jawab terhadap pemegang saham dan karyawan menyiratkan perhatian kepada penciptaan nilai (value creation) sebagai suatu ukuran baru tentang keberhasilan bisnis (riset yang dilaksanakan di pasar modal membuktikan bahwa terdapat suatu hubungan antara  efisiensi penciptaan nilai dan nilai pasar perusahaan). Tujuan akhirnya adalah untuk meningkatkan kemampuan perusahaan dalam jangka panjang, yang hanya akan dapat dicapai dengan investasi pada sumberdaya intelektual (terutama pada human capital, yang merupakan faktor kunci penciptaan nilai pada bisnis modern) dan peningkatan mobilisasi dari potensi internal perusahaan, terutama adalah intangible.

Premis kunci untuk penciptaan nilai perusahaan adalah bahwa semua kontribusi terhadap penciptaan nilai (value creation) namun juga pembinasaan nilai (value destruction) dapat diukur tanpa kerancuan (ambigu), yang sering kali memerlukan skema organisasi dan indeks-indeks baru. Sebagai tambahan, proses perencanaan dan pengambilan keputusan harus difokuskan pada upaya penciptaan nilai. Untuk efektivitas pengendalian biaya, maka manajemen eksekutif perlu bersama-sama dengan manajemen puncak mengidentifikasi berbagai kemungkinan untuk terus meningkatkan efisiensi penciptaan nilai. Melalui proses ini, semua potensi intelektual yang tersedia di dalam perusahaan dapat dimobilisasi untuk tujuan pencapaian nilai maksimum (baik untuk pemegang saham maupun karyawan).

Penciptaan nilai yang tidak berwujud (intangible value creation) harus mendapatkan perhatian yang cukup, karena hal ini memiliki dampak yang sangat besar terhadap kinerja keseluruhan perusahaan. Sekarang ini, nilai diciptakan melalui hubungan yang kompleks antara penawaran dan permintaan (supply and demand), dimana saat ini penawaran jauh lebih besar daripada permintaan. Peter Drucker mendeskripsikan aktivitas bisnis tradisional sebagai berikut: “membeli dengan murah, kemudian menjual dengan harga tinggi, dan selisihnya adalah keuntunganmu”. Dalam pendekatan ini, laba adalah lebih kecil disebabkan oleh biaya: semakin kecil biaya, maka akan semakin besar keuntungan. Inilah alasan mengapa perhatian khusus diberikan terhadap biaya-biaya selama era industri (Pulic, 1999).

Teori modern mendefinisikan aktivitas bisnis sebagai nilai tambah (value added) dan kekayaan, yang jauh lebih kompleks daripada sebelumnya. Untuk tujuan penciptaan laba, adalah penting membangun hubungan dengan pelanggan ke tingkatan paling tinggi. Lebih dari itu, adalah penting untuk menyadari bahwa format yang terukur/berwujud (tangible form) dari penciptaan nilai  (seperti: pendapatan, nilai tambah) adalah tergantung pada format yang tidak berwujud (intangible form) dari penciptaan nilai (seperti: peningkatan waktu dan efektivitas komunikasi, hubungan yang lebih baik dengan pelanggan, membangun dan mempertahankan reputasi).

Kunci untuk sukses adalah dalam penciptaan sebab akibat hubungan antara dua format penciptaan nilai (tangible dan intangible form). Harus dikatakan bahwa salah satu tantangan utama bagi manajemen adalah menciptakan kondisi yang akan membuka peluang generasi sukses nilai intangible (seperti pengetahuan, layanan, pengalaman, keuntungan, kecepatan, kualitas, kesan) dan transformasinya kepada format tangible (seperti pendapatan, laba, nilai tambah, pangsa pasar, nilai pasar). Manajemen penciptaan nilai yang sistematis didasarkan pada premis bahwa konsep ini melekat di dalam perusahaan sebagai tujuan akhir bisnis. Penting untuk dipastikan bahwa konsep ini “hidup” di semua tingkatan bisnis, pada aktivitas hari ke hari, dirangsang, dihargai, diukur dan dikomunikasikan.

Optimalisasi Intellectual Capital untuk Memenangi CAFTA

CAFTA harus kita tempatkan sebagai peluang untuk meraih kesempatan bisnis secara lebih luas, bukan hanya memenangi persaingan di dalam negeri, tetapi juga untuk bisa menguasai pasar China. Optimisme ini harus dibangun, karena, sekali lagi, kita tidak memiliki alternatif untuk tidak optimis.

Ada beberapa hal yang dapat dielaborasi oleh IKM kita untuk bisa memenangi CAFTA dengan memaksimalkan pengelolaan intellectual capital:

Pertama, pengelolaan karyawan. Karyawan adalah aset terpenting dalam industri. Maka karyawan harus ditempatkan sebagai kekayaan utama perusahaan dan dikelola secara efektif. Karyawan (human capital) adalah ruh dari organisasi. Dalam diri mereka tersimpan segala hal yang dapat mengantarkan organisasi untuk bersaing dan memenangi persaingan. Pengelolaan karyawan yang baik, proporsional, tidak diskriminatif akan menggerakkan roda organisasi secara maksimal. Hubungan yang ‘manusiawi’ antara pemilik dengan karyawan akan dapat meningkatkan efisiensi dan efektivitas organisasi.

Kedua, jalinan pelanggan dan jalur distribusi (relational/customer capital). Untuk memenangi persaingan di dalam negeri, kita telah memiliki ‘kekayaan’ berupa jalinan pelanggan dan jalur distribusi. Kita yang paham betul apa, siapa, dan bagaimana pelanggan kita. Kita juga jauh lebih paham tentang jalur distribusi yang bisa jadi menjadi sumber inefisiensi dalam organisasi lain. Pengelolaan yang lebih baik atas customer capital ini akan meningkatkan loyalitas pelanggan dan dengan sendirinya akan menempatkan produk kita di dalam hati para pelanggan.

Ketiga, menjual keunikan. Salah satu daya tarik utama produk-produk lokal kita adalah keunikannya. Dengan mempertahankan dan menciptakan keunikan-keunikan baru dalam setiap produk IKM kita, maka produk itu akan memiliki daya saing yang tinggi di pasar, baik pasar lokal maupun internasional.

Simpulan

CAFTA bukanlah alternatif, kita tidak punya pilihan! Karena itu, CAFTA harus dihadapi secara optimis untuk meningkatkan efektivitas dan efisiensi pengelolaan organisasi. Salah satu yang sangat penting dalam konteks ini adalah bagaimana organisasi dalam memaksimalkan potensi intellectual capital yang dimiliki untuk memenangi persaingan. Semoga…..

Daftar Pustaka

Bontis, N. 1998. “Intellectual capital: an exploratory study that develops measures and models”. Management Decision. Vol. 36 No. 2. p. 63.

Bontis, N., W.C.C. Keow, S. Richardson. 2000. “Intellectual capital and business performance in Malaysian industries”. Journal of Intellectual Capital. Vol. 1 No. 1. pp. 85-100.

Brooking, A. 1996. Intellectual Capital: Core Assets for the Third Millennium, Enterprise Thomson Business Press, London, United Kingdom.

Organization for Economic Co-operation and Development (OECD). 1999. International Symposium on Measuring and Reporting Intellectual Capital: Experience, Issues and Prospects. Amsterdam, 9-11 June 1999.

Pulic, A. and M. Kolakovic. 2003. “Value creation efficiency in the new economy”. available online at: www.vaic-on.net. (accessed November 2006).

Pulic, A. 1999. Basic information on VAIC™”. Available online at: www.vaic-on.net. (accessed November 2006).

Roos, J., G. Roos, N.C. Dragonetti, and L. Edvinsson. 1997. Intellectual Capital: Navigating in the New Business Landscape. Macmillan Business, Houndsmills.

Roslender, R., and Fincham, R. 2004. “Intellectual Capital: Who Counts, Controls?” Accounting and the Public Interest (API), vol. 4. pp. 1-21

Ulum, I. 2009. Intellectual Capital; Konsep dan Kajian Empiris. PT. Bumi Aksara, Yogyakarta.

—–ooOoo—–

Random Posts

Loading…

Did you like this? Share it: