«

»

Oct 20

Gayus dan Ayat Akuntan

Sesi 1

Mahasiswa: “Pak, kasus Gayus ini akan menyulitkan kita alumni Akuntansi. Orang akan menganggap bahwa alumni Akuntansi itu ya seperti Gayus.”

Dosen: “Emangnya Gayus itu seperti apa?”

Mahasiswa: “ya begitu pak, koruptor, pencuri uang negara, uang pajak dinikmati sendiri!” (dengan nada tinggi dan sangat serius).

Dosen: “Selain itu apalagi?”

Mahasiswa: “Licin pak, tapi cerdas dan hebat. Buktinya bisa mengatur orang-orang di kepolisian, kejaksaan, dan kehakiman.”

Dosen: “Bagus dong…”

Mahasiswa: “Apanya yang bagus Pak? Lha wong maling gitu koq. Pokoknya gara-gara Gayus nama Akuntan itu jadi rusak!” (dengan gaya khas demonstran).

Dosen: “ya, itu kan Akuntan yang tidak pernah dapat matakuliah Al-Islam dan Kemuhammadiyahan….” (dengan santainya).

***

Sesi 2

Dosen Komunikasi: “Pak, sebenarnya di Akuntansi itu apakah diajarkan ilmu kayak yang dilakukan si Gayus itu ta?”

Dosen Akuntansi: “Ilmu yang mana nih Pak? Kalo penggelapannya jelas tidak dong… di Akuntansi ada matakuliah Tax Planning, tapi tidak untuk menggelapkan pajak!”

Dosen Teknik Mesin: “Lha itu ilmunya darimana koq bisa dapat uang banyak banget dari keberatan dan banding?”

Dosen Akuntansi: “yang bisa membuat perencanaan pajak dan kemudian perusahaan bisa menghemat pembayaran pajak, itu Akuntan, dan itu halal. Akuntan juga memang bisa membuat manipulasi pajak. Tapi jangan lupa, Akuntan juga yang bisa membongkar penyimpangan itu.”

Dosen Komunikasi: “Berarti memang Akuntan kan yang bikin kacau itu!”

Dosen Akuntansi: “ya, Akuntan yang tidak pernah kuliah Al-Islam dan Kemuhammadiyahan itu. Hehehe.”

***

Ayat terpanjang dalam Al-Qur’an (Q.S. Al Baqoroh: 282) adalah ayat yang oleh orang-orang Akuntansi disebut sebagai ayatnya Akuntan. Mengapa? Karena ayat ini berbicara tentang kewajiban untuk mencatat transaksi ekonomi (muamalah) oleh juru tulis dan disaksikan oleh 2 orang saksi:

“Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu bermu’amalah tidak secara tunai untuk waktu yang ditentukan, hendaklah kamu menuliskannya. Dan hendaklah seorang penulis di antara kamu menuliskannya dengan benar. Dan janganlah penulis enggan menuliskannya sebagaimana Allah mengajarkannya, meka hendaklah ia menulis, dan hendaklah orang yang berhutang itu mengimlakkan (apa yang akan ditulis itu), dan hendaklah ia bertakwa kepada Allah Tuhannya, dan janganlah ia mengurangi sedikitpun daripada hutangnya. Jika yang berhutang itu orang yang lemah akalnya atau lemah (keadaannya) atau dia sendiri tidak mampu mengimlakkan, maka hendaklah walinya mengimlakkan dengan jujur. Dan persaksikanlah dengan dua orang saksi dari orang-orang lelaki (di antaramu). Jika tak ada dua oang lelaki, maka (boleh) seorang lelaki dan dua orang perempuan dari saksi-saksi yang kamu ridhai, supaya jika seorang lupa maka yang seorang mengingatkannya. Janganlah saksi-saksi itu enggan (memberi keterangan) apabila mereka dipanggil; dan janganlah kamu jemu menulis hutang itu, baik kecil maupun besar sampai batas waktu membayarnya. Yang demikian itu, lebih adil di sisi Allah dan lebih menguatkan persaksian dan lebih dekat kepada tidak (menimbulkan) keraguanmu. (Tulislah mu’amalahmu itu), kecuali jika mu’amalah itu perdagangan tunai yang kamu jalankan di antara kamu, maka tidak ada dosa bagi kamu, (jika) kamu tidak menulisnya. Dan persaksikanlah apabila kamu berjual beli; dan janganlah penulis dan saksi saling sulit menyulitkan. Jika kamu lakukan (yang demikian), maka sesungguhnya hal itu adalah suatu kefasikan pada dirimu. Dan bertakwalah kepada Allah; Allah mengajarmu; dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu. (QS. Al Baqoroh: 282)

Lantas, apa kaitannya ayat ini dengan kasus Gayus?

Pertama, Gayus tidak ‘mengenal’ ayat ini, atau kalaupun dia tahu, dia tidak memahaminya dengan baik dan benar. Buktinya? Penghujung ayat ini jelas ditutup dengan kalimat “Allah Maha Mengetahui segala sesuatu”. Kalimat penutup ini mengisyaratkan bahwa memang dalam transaksi ekonomi (baca: muamalah), ruang dan peluang untuk terjadinya ‘penyimpangan’ itu sangat besar. Karena muamalah itu menyangkut kebutuhan, uang, dan dominasi.

Kedua, ayat ini secara tegas memerintahkan adanya 2 orang saksi laki-laki, atau 1 orang laki-laki dan 2 orang perempuan. Allah telah memberikan rambu-rambu untuk meminimalisir ‘penyimpangan’ dan ‘pertikaian’ dalam aktivitas ekonomi melalui keberadaan saksi yang dituntut oleh Allah untuk berlaku jujur. Dalam konteks ini, jelas yang dilakukan oleh Gayus (dan teman-temannya) telah menyimpang dari aturan Allah. Catatan yang dibuat, saksi yang dihadirkan, dan pengakuan yang disampaikan, tidak bersandar kepada nilai-nilai ketaqwaan sebagaimana dituntut oleh ayat ini.

Ketiga, menjaga dan menyampaikan amanah adalah wajib. Jabatan dan pekerjaan adalah amanah. Maka menjalankan pekerjaan atas suatu jabatan adalah juga suatu kewajiban. Tidak ada alasan yang dapat membenarkan seseorang untuk memperkaya diri melalui jabatan dan pekerjaannya, di luar ketentuan yang memang berlaku atas dirinya. Meskipun, atas pekerjaan dan jabatan itu, dia hanya mendapatkan ‘imbalan’ yang (menurutnya) ‘tidak layak’. Gaji yang diterima Gayus plus remunerasi-nya, mungkin menurutnya masih terlalu kecil untuk kapasitas dan kemampuannya. Namun hal itu tidak bisa dijadikan alasan untuk mencari sumber pendapatan lain dengan memanfaatkan jabatan dan pekerjaannya!!

Dengan demikian, maka menjadi benar ungkapan penutup dialog di atas: “kalo Akuntan-nya pernah kuliah Al-Islam dan Kemuhammadiyahan, gak mungkin perilakunya seperti Gayus!”

“Gayus” kah kita?

Sebagai catatan penutup, saya ingin mengajak kepada kita semua untuk menghisab diri masing-masing. Jangan-jangan kita cuma pandai menuding dan mencela tindakan dan perilaku Gayus, namun ternyata kita tidak pandai menilai diri sendiri…..

Apakah kita telah tertib menjaga ‘amanah’ dana negara? Apakah kita telah ‘amanah’ terhadap diri kita sendiri? Bagaimana dengan dana-dana hibah yang kita terima tiap tahun itu? Apakah telah sesuai peruntukannya? Apakah kita tidak memanipulasi bukti transaksi? Apakah bukti transaksi yang kita buat itu “sah” di hadapan Allah? Apakah kita ‘memaksa’ diri kita untuk menganggap bahwa semua itu boleh-boleh saja?

Mari tanyatakan pada hati nurani…….
Wallahu a’lam

Random Posts

Loading…

Did you like this? Share it:

3 comments

  1. M. Gazali

    sbelumnya saya minta maaf ya pak………..
    ndk semua orang itu berfikiran seperti itu kannnn
    lok semua orang mkir gitu pasti orang tua saya ndk ngasih kalo sya ngambil akuntansi

  2. M. Gazali

    sya minta maaf ya pak
    tadi slah bca, kirain bpak yang berpendapat seperti itu

  3. @cak_lum

    hehehe

Comments have been disabled.