«

»

Jul 27

Marhaban Yaa Ramadhan…..

”TIGA DIMENSI PUASA”

“Kam min shooimin laisa lahuu min shiyaamihi illa al juu’u wal ‘athsyu”. Begitu kurang lebih sebuah hadits yang pernah saya dengar dari Pak kiyai ketika mengaji di langgar di kampung saya waktu masih ‘agak’ kecil dulu. Artinya, kata Pak kiyai: “Banyak orang yang berpuasa tetapi tidak mendapatkan apa-apa dari puasanya itu selain rasa lapar dan haus”. Orang Islam yang berpuasa (baik puasa di bulan Ramadhan maupun di bulan-bulan yang lain), masih kata pak kiyai, pada dasarnya adalah menahan diri dari makan dan minum serta syahwat kepada lawan jenis sejak terbit fajar di ufuk timur hingga terbenamnya matahari di senja hari. Ini hukum asalnya, pokoknya tidak makan dan tidak minum serta tidak jima’ (bersenggama) sudah sah puasanya secara hukum fiqih. Tetapi, kata Pak kiyai selanjutnya, puasa itu tidak akan bernilai apa-apa di hadapan Allah jika kita hanya sekedar menahan lapar dan haus saja, sementara kebiasaan buruk lainnya jalan terus. Puasa kita akan hangus nilainya jika kita masih suka berkata dusta, marah, takabbur, iri, khianat dan sebagainya. Jadi yang didapatkan hanya rasa lapar dan haus saja!!.

Hakekat puasa adalah menahan diri dari segala yang dapat membatalkan puasa dan membatalkan pahala puasa. Yang dapat membatalkan puasa adalah sengaja memasukkan sesuatu ke dalam mulut (makan, minum, merokok, dsb) atau berhubungan seksual dengan lawan jenis. Sedangkan yang dapat membatalkan pahala puasa adalah perbuatan-perbuatan hati dan indera kita yang keji. Berkata bohong, marah, sombong dan seterusnya adalah amalan-amalan indera dan hati yang dapat menghapus pahala puasa.

Ulama’-ulama’ membagi puasa menjadi tiga jenis, yaitu : pertama shoumul ‘aam, yaitu puasa yang biasa-biasa saja (umum). Puasa tingkatan ini hanya menahan lapar dan haus serta jimak saja, sementara hati dan pikirannya tidak puasa. Kedua shoumul khowash, yaitu puasa spesial, ibarat nasi goreng pake telor dan babat. Puasa tingkatan ini selain tidak makan dan tidak minum serta tidak melakukan jimak, indera yang lain juga ikut puasa. Hati, lidah dan pikiran ikut puasa. Artinya selama berpuasa lidah tidak pernah berkata dusta, hati dan pikiran tidak pernah terlintas sesuatu yang jahat dan atau keji. Biasanya ini adalah puasanya para ulama’. Ketiga shoumul khowashil khowash, yaitu puasa istimewa (VIP). Ini adalah puasanya para Nabi dan Rasul. Yaitu selain pada tingkatan yang kedua, puasa tingkatan tertinggi ini hati dan pikirannya tidak pernah berpaling kepada selain Allah SWT.             Tingkatan puasa yang pertama (shomul ‘aam) inilah yang dimaksud dengan hadits di atas. Artinya secara hukum fiqh kewajiban puasa telah gugur, namun nilai puasa adalah NOL.

Sesungguhnya Allah SWT telah memberikan fasilitas yang sangat berharga selama bulan suci Ramadhan untuk dapat meningkatkan rangking puasa kita. Karena pada bulan ini musuh besar kita, yakni syaithan telah dibelenggu oleh Allah agar tidak mengganggu manusia. Lawan kita saat puassa tinggal nafsu kita sendiri.

Sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Ibn Abbas menceritakan bahwa pada malam pertama bulan Ramadhan Allah SWT. mengutus Jibril untuk turun ke bumi dan membelenggu syetan kemudian dibuang ke dasar laut agar tidak dapat merusak puasa ummat Muhammad. Keutamaan lain bulan Ramadhan adalah bahwa pada bulan ini Allah memerintahkan kepada malaikat Ridlwan untuk membuka semua pintu syurga bagi ummat Muhammad yang berpuasa di bulan ini, dan memerintahkan kepada malaikat Malik untuk mengunci pintu neraka dari ummat Muhammad yang berpuasa. Setiap malam pada bulan Ramadhan Allah berseru tiga kali, pertama “adakah diantara kalian yang meminta, maka akan Aku (Allah) penuhi permintaannya”. Kedua “Adakah diantara kalian orang yang bertaubat, maka Aku terima taubatnya”. Ketiga “Adakah diantara kalian yang meminta ampun, maka akan Aku ampuni”. Dan masih banyak lagi keutamaan bulan Ramdhan ini yang jika disebutkan akan menghabiskan tinta printer kita.

Pada pertemuan berikutnya Pak kiyai yang polos itu mengatakan bahwa tidak hanya gambar dan film yang bisa dibuat ‘tiga dimensi’, puasa juga mempunyai tiga dimensi. Namun Pak kiyai tidak langsung menyebutkan apa tiga dimensi puasa tersebut, sambil membetulkan letak sorbannya yang melorot, pak kiyai kemudian menjelaskan tentang dispensasi dan ‘hukuman’ bagi mereka yang meniggalkan puasa di bulan Ramadhan. Jika satu hari saja orang meninggalkan puasa Ramadhan tanpa sebab apapun, maka dosanya tidak dapat ditebus meskipun dengan berpuasa selama setahun penuh. Kemudian bagi orang sakit yang tidak dapat diharapkan lagi kesembuhannya (secara medis) maka dia boleh tidak puasa dan mengganti puasanya dengan membayar fidyah, yaitu memberi makan kepada fakir miskin setiap satu hari satu mud. Demikian juga bagi wanita menyusui yang mengkhawatirkan kesehatan anaknya, dia boleh tidak puasa dan menggantinya dengan membayar fidyah. Adapun bagi orang yang entah karena apa melanggar larangan jima’ di siang hari, maka ‘hukumannya’ adalah dia harus memerdekakan budak mukmin, atau berpuasa selama dua bulan berturut-turut atau memberi makan fakir miskin sebanyak 60 orang masing-masing satu mud. ‘Hukuman’ ini harus dilakukan secara berurutan dari yang pertama, baru kalau tidak mampu boleh pada urutan berikutnya.

”Tiga dimensi puasanya yang mana pak Kiyai”, tanya seorang santri. Kemudian secara panjang lebar pak kiyai menjelaskan: dari definisi, pembagian kemudian sampai pada dispensasi dan hukuman puasa, sebenarnya puasa mempunyai tiga dimensi, yaitu pertama dimensi keimanan. Artinya bahwa puasa mengajarkan kepada manusia untuk semakin beriman dan bertaqwa kepada Allah SWT. Indikasinya adalah bahwa yang berhak menilai lulus tidaknya puasa seseorang hanyalah Allah, karena memang urusan puasa hanya Allah yang tahu. Kita tidak bisa mengetahui misalnya ada yang nyolong ngombe saat wudlu dan sebagainya. Kita juga tidak bisa mengklaim seseorang puasa atau tidak dari kondisi bibirnya kering atau basah, atau dari penampilan seseorang yang (me)lemas atau bugar. Hanya iman yang mengontrol kita dalam berpuasa.

Kedua, dimensi kemanusiaan. Artinya bahwa Allah tidak pernah membebani manusia dengan sesuatu yang manusia tidak sanggup memikulnya. Allah sangat tahu batas-batas kemampuan manusia, karena itu dalam berpuasa Allah memberikan dispensasi bagi mereka yang tidak mampu menjalankannya. Ini adalah ta’bir bagi kita bahwa sebenarnya kita sangat lemah di hadapan-Nya, kita juga mestinya tidak memaksakan diri untuk melakukan sesuatu yang kita tidak mampu dan atau kita mestinya tidak membebani orang lain dengan sesuatu yang dia tidak sanggup. Ada batas-batas kemanusiaan. Allah tahu persis kemampuan kita, karena DIA yang menciptakan kita.

Ketiga dimensi sosial. Artinya bahwa Allah dan Islam sangat peduli terhadap sesama. Bahkan dimensi sosial ini jauh lebih besar muatannya dalam Islam. Kita dapat melihat, secara fiqih orang yang meninggalkan puasa ’dihukum’ untuk memberi makan kepada fakir miskin. Ini menunjukkan bahwa di balik kewajiban puasa ini sebenarnya Allah ingin mengatakan kepada manusia bahwa menahan lapar dan haus itu sakit, karenanya jangan pelit kepada si miskin. Bayangkan jika kamu tidak menemukan makan minum selama berhari-hari seperti yang biasa dialami oleh si miskin, sementara dalam sehari saja kamu menahan lapar dan haus kadang-kadang kamu masih minta ‘proteksi’?!.

Dimensi sosial ini bahkan tampak lebih dominan dalam puasa. Buktinya? Ayat yang berisi perintah untuk berpuasa diakhiri dengan pernyataan tujuan diwajibkannya puasa adalah agar kita menjadi orang yang bertaqwa. Sementara, kriteria orang bertaqwa sangat erat kaitannya dengan perilaku pro sosial (lihat misalnya: QS. Al Baqoroh: 3 – 4; Ali Imran: 134 – 135; Adz Dzariyat: 16 – 19).

Wallahu A’lam

.

Random Posts

Loading…

Did you like this? Share it: