«

»

Jun 01

“Korupsi” Komisi ?

“Beginikah mungkin yang dialami oleh para pejabat publik?”. Pertanyaan ini muncul dalam benak saya setelah beberapa kali mengalami kejadian yang ‘modus’nya sama.

Sebagai ‘pejabat’ kelas paling bawah dalam struktur organisasi, saya memiliki aktivitas yang berhubungan dengan beberapa pihak di luar yang berorientasi bisnis. Misalnya, untuk pelaksanaan praktikum dan penerbitan bulletin saya berhubungan dengan perusahaan percetakan; untuk ‘mengamankan’ modul-modul setelah praktikum, saya berhubungan dengan para pengepul kertas bekas (tentu saja dengan syarat mereka memiliki alat penghancur kertas); ketika pelaksanaan Pelatihan Perpajakan Brevet ABC dan Pelatihan Manajemen Ekspor Impor saya berhubungan dengan (perusahaan) konsultan dan pengusaha konveksi; demikian juga ketika pengadaan ‘iklan berjalan’ Jaket, saya juga berhubungan dengan para pengusaha konveksi; ketika mengelola kunjungan industri (SE) saya pun berurusan dengan perusahaan travel….

Baru beberapa bulan saya berurusan dengan hal-hal seperti ini, saya menemukan sebuah perilaku yang membuat saya sempat terbelalak.

Hampir semua pengusaha yang berhubungan dengan saya untuk hal-hal tersebut, menawarkan ‘komisi pribadi’ kepada saya untuk mengikat saya dalam kerjasama jangka panjang. Mereka tahu persis bahwa setiap semester, setiap tahun, saya akan melakukan pengadaan barang-barang yang bisa mereka sediakan. Mereka juga tahu bahwa ada banyak pesaing di luar sana (karena saya juga menerima tawaran kerja sama dari banyak pengusaha). Mereka tentu berharap dengan memberikan ‘komisi pribadi’ kepada saya, proyek pengadaan barang itu bisa saya berikan kepada mereka secara kontinyu…..Dalam perspektif tander, saya memegang prinsip untuk mengambil vendor yang bisa menawarkan harga terendah dengan kualitas yang saya tetapkan. Dan setelah itu tercapai, berarti saya sudah menjalankan tugas dengan benar….

Ketika kemudian mereka memberikan penawaran ‘komisi pribadi’, awalnya saya sempat berpikir, “ini bentuk terima kasih mereka kepada saya“……namun sejurus kemudian berbagai pertanyaan memenuhi akal sehat saya: “memangnya saya melakukan apa sehingga berhak mendapatkan terima kasih? bukankah ini pekerjaan dan tugas saya? apakah saya akan bisa memberikan proyek kepada para pengusaha itu kalau saya tidak sedang mengemban tugas dan amanah ini? bukankah komisi ini ada karena ‘jabatan’ saya?”………..

Pertanyaan-pertanyaan seperti terus membombardir akal sehat sehat dan sesekali disisipi pikiran setan: “ya..saya berhak atas komisi ini. toh saya sudah memilih vendor dengan harga terbaik! saya tidak merugikan siapapun dalam hal ini. wajar dong saya mereka memberikan komisi kepada saya karena mereka mendapatkan keuntungan dari proyek yang saya berikan!”………..dan sejenisnya…….

Singkatnya…saya kemudian memutuskan untuk menerima ‘komisi pribadi itu sebagai potongan harga dan saya minta kwitansi dengan nominal yang menyatakan adanya potongan. Dengan begitu, saya tidak mempunyai ikatan apapun dengan mereka, dan saya masih tetap MERDEKA untuk menentukan kepada siapa saya akan berhubungan terkait dengan pengadaan barang-barang yang merupakan tugas dan amanah saya…..

MUHASABAH / REFLEKSI

Dari salah satu rekanan yang berhubungan dengan saya, saya kemudian paham bahwa pola seperti ini (memberikan ‘komisi pribadi’ kepada pejabat pemberi proyek) adalah sesuatu yang sudah sangat lumrah terjadi dalam bisnis mereka. Itu adalah strategi bisnis mereka untuk mendapatkan dan mengikat mitra secara personal. Nanti jika pejabatnya ganti, mereka akan melakukan upaya yang sama untuk bisa mengikat pejabat baru itu.

Jika menggunakan cara pikir ‘syetan’, tentu saja tawaran mereka sangat menggiurkan. Apalagi jika kemudian saya memainkan harga dengan mereka….. Misalnya, saya buat saja harganya lebih tinggi dan kemudian saya akan menerima komisi lebih besar. Karena ada diantara mereka yang menawarkan pola ‘komisi’ itu dengan sistem 50:50. “Harga dasarnya sekian Pak, terserah Bapak mau tetapkan harganya berapa, nanti keuntungannya kita bagi rata” dia bilang…menggiurkan bukan?!

Saya berpikir….mungkinkah seperti ini yang dihadapi para pejabat publik kita? Menerima komisi dari setiap proyek yang berada di bawah tanggungjawabnya…..dan menikmati komisi itu sebagai keuntungan pribadi? Inikah mungkin yang membuat suatu jabatan publik jadi rebutan? Inikah pula salah satunya yang menjadi sumber kekayaan para pejabat publik itu? Bukankah sudah menjadi lazim di negeri ini, PNS yang gajinya sesungguhnya tidak terlalu besar, tetapi memiliki kekayaan luar biasa….(tentu saja kecuali mereka dapat warisan atau usaha/bisnis di luar PNS-nya!).

Wahai para pejabat publik, marilah kita renungkan beberapa pertanyaan dan pernyataan ini…..

  1. Kita berhubungan dengan para pengusaha itu karena posisi kita. Maka seyogjanya segala hal yang terkait dengan itu, kita kembalikan kepada organisasi dimana kita diposisikan.
  2. Apakah ketika misalnya kita (karena jabatan kita) mengalami kerugian dalam suatu aktivitas, kita akan menanggung kerugian itu dan membayar ganti ruginya kepada organisasi dengan menggunakan uang pribadi kita?
  3. Jika tidak (dan saya kira juga tidak mungkin), maka mengapa kita merasa berhak menikmati ‘keuntungan’ organisasi sebagai hak milik kita!?
  4. Komisi yang diberikan para pengusaha itu kepada kita merupakan sinyal bahwa sesungguhnya mereka bisa memberikan harga yang lebih rendah. Keuntungan mereka berlebih sehingga kita mendapatkan bagian dari keuntungan itu. Artinya, sesungguhnya keuntungan itu adalah hal organisasi. Komisi itu bukan buat kita, tetapi buat organisasi karena menjadi bukti bahwa kita gagal melakukan negosiasi harga sampai di tingkat paling rendah.
  5. Komisi pribadi itu, menurut saya, adalah korupsi!
  6. Korupsi, dalam perspektif ini, tidak hanya mengambil barang milik organisasi, tetapi menikmati keuntungan pribadi atas nama dan atau dengan memanfaatkan jabatan dalam organisasi juga adalah korupsi! Apapun bentuk dan caranya!!

BERAPAPUN NOMINAL YANG KITA TERIMA DARI ‘KOMISI PRIBADI’ ITU, YAKINLAH ITU TIDAK AKAN BERKAH. KARENA ITU BUKAN HAK KITA. ITU MILIK ORGANISASI, MAKA KEMBALIKAN KEPADA ORGANISASI.

Jika kita berpikir….”lha ini sudah biasa sekali, semua pengusaha melakukan itu….”. OK, tidak apa-apa. Ambil komisi itu, dan serahkan kepada organisasi. Dengan begitu malah kas organisasi yang kita pimpin akan bertambah dari setiap aktivitas yang kita lakukan…kita kumpulkan dari setiap komisi itu…..

JANGANLAH PERNAH MERASA BERHAK MENIKMATI SESUATU YANG KITA PEROLEH KARENA POSISI/JABATAN KITA. Tentu saja kalo tunjangan jabatan itu hak kita dong…. Mendapatkan HR atas aktivitas yang kita lakukan terkait dengan posisi/jabatan kita juga adalah hak kita… bahkan meskipun Anda tidak melakukan apapun dalam kegiatan itu, tetapi Anda berhak menerima HR sebagai manajemen fee (itu ex officio dong….).

Saya bersyukur dan beruntung karena berada dalam organisasi dengan nuansa ke-Islaman yang sangat kental…. Setiap saat saya mendapat pencerahan tentang amanah, keikhlasan, dan peribadatan….sehingga itu mengendalikan kita dalam menjalankan tugas… Alhamdulillah….

Wallahu a’lam.

Random Posts

Loading…

Did you like this? Share it: