«

»

Apr 18

Renungan Kejujuran

Alangkah bagusnya ungkapan yang menggambarkan tentang kejujuran, sebagaimana bait berikut: Kejujuran adalah satu keharusan atasmu Walaupun dirimu terbakar oleh panasnya janji Carilah olehmu keridhaan al-Maula Celakalah orang yang membuat murka Allah dan mencari ridho manusia

Renungan Pertama (Tentang Definisi)

Kejujuran adalah lawan dari dusta dan ia memiliki arti kecocokan sesuatu sebagaimana dengan fakta. Di antaranya yaitu kata “rajulun shaduq (sangat jujur)”, yang lebih mendalam maknanya daripada shadiq (jujur). Al-mushaddiq yakni orang yang membenarkan setiap ucapanmu, sedang ash-shiddiq ialah orang yang terus menerus membenar-kan ucapan orang, dan bisa juga orang yang selalu membuktikan ucapannya dengan perbuatan. Di dalam al-Qur’an disebutkan (tentang ibu Nabi Isa), “Dan ibunya adalah seorang”shiddiqah.” (Al-Maidah: 75). Maksudnya ialah orang yang selalu berbuat jujur. (Lisanul Arab 10/193-194)

Kejujuran merupakan simbol Islam dan neraca keimanan, pondasi agama, dan menjadi tanda kesempurnaan orang yang memiliki sifat ini. Ia menempati kedudukan yang tinggi di dalam agama dan dalam urusan dunia. Dengan kejujuran akan terpilah orang yang beriman dan orang munafik, terpilih penghuni surga dari penduduk neraka. Dengannya seorang hamba akan dapat meraih kedudukan al-Abrar (orang baik), dan dengannya akan men-dapatkan keselamatan dari api neraka.

Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam disifati dengan ash-shadiqul amin (jujur dan terpercaya) , dan sifat ini telah diketahui oleh orang Quraisy sebelum beliau diutus menjadi rasul. Demikian pula Nabi Yusuf ’alaihis salam juga disifati dengannya, sebagaimana firman Allah subhanahu wata’ala, (Setelah pelayan itu berjumpa dengan Yusuf dia berseru),”Yusuf, hai orang yang amat dipercaya.” (QS.Yusuf:46)

Khalifah Abu Bakar radhiyallahu ‘anhu juga mendapatkan julukan ini (ash-shiddiq). Ini semua menunjukkan hawa kejujuran merupakan salah satu perilaku kehidupan terpenting para rasul dan pengikut mereka. Dan kedudukan tertinggi sifat jujur adalah “ash-shiddiqiyah” Yakni tunduk terhadap rasul secara utuh (lahir batin) dan diiringi keikhlasan secara sempurna kepada Pengutus-Nya (Allah subhanahu wata’ala).

Imam Ibnu Katsir berkata, “Jujur merupakan karakter yang sangat terpuji, oleh karena itu sebagian besar shahabat tidak pernah coba-coba melakukan kedustaan baik pada masa jahiliyah maupun setelah masuk Islam. Kejujuran merupakan ciri keimanan, sebagaimana pula dusta adalah ciri kemunafikan, maka barang siapa jujur dia akan beruntung. (Tafsir Ibnu Katsir 3/643)

Renungan ke Dua (Al-Qur’an dan Kejujuran)

Al-Qur’an menyebutkan sifat jujur dalam banyak ayat serta menganjurkan kepada kejujuran, dan bahwa ia merupakan buah dari ikhlas dan takwa. Di antara ayat-ayat tersebut adalah:

  1. Firman Allah subhanahu wata’ala artinya, “Hai orang-orang yang beriman, bertaqwalah kepada Allah, dan hendaklah kamu bersama orang-orang yang benar.” (QS. At-Taubah:119)

Maksudnya ialah; “Jadilah kalian semua bersama dengan orang-orang yang jujur dalam ucapan mereka, dalam perbuatan dan segala keadaan mereka. Mereka adalah orang-orang yang yang ucapannya jujur, perbuatannya dan keadaannya tiada lain kecuali kejujuran semata, bebas dari kemalasan, kebosanan, selamat dari tujuan-tujuan yang buruk, dan selalu memuat keikhlasan dan niat yang baik. (Tafsir Ibnu Sa’di hal 355)

  1. Firman Allah subhanahu wata’ala artinya, “Supaya Allah memberikan balasan kepada orang-orang yang benar itu karena kebenarannya.” (QS. al-Ahzab:24)
    Yakni mereka memperoleh semua itu dengan sebab kejujuran mereka dalam ucapan, keadaan dan interaksi mereka dengan Allah subhanahu wata’ala, serta kesesuaian mereka antara lahir dengan batinnya.( Tafsir Ibnu Sa’di hal 661)
  2. Firman Allah subhanahu wata’ala artinya, “Allah berfirman, “Ini adalah suatu hari yang bermanfaat bagi orang-orang yang benar kebenaran mereka.” (QS. al-Maidah:119).

Kejujuran mereka ketika di dunia akan memberikan manfaat kepada mereka di hari Kiamat. Dan tidak ada sesuatu yang bermanfaat bagi seorang hamba pada hari Kiamat serta tidak ada yang menyelamatkannya dari adzab Allah kecuali kejujuran.

  1. Firman Allah subhanahu wata’ala artinya, “Dan gembirakanlah orang-orang beriman bahwa mereka mempunyai kedudukan yang tinggi (qadama shidqin) di sisi Rabb mereka.” (QS.Yunus:2) Maksudnya yaitu keimanan yang benar (jujur), bahwasannya mereka kelak akan mendapatkan “qadama shidqin” yakni balasan yang tak terhingga, pahala yang amat banyak di sisi Rabb mereka dengan sebab apa yang dulu pernah mereka lakukan berupa amal shalih dan kebenaran (jujur). (Tafsir Ibnu Sa’di hal 661). Ibnu Abbas z berkata, “Qadama shiqin” maknanya adalah rumah kejujuran (di surga, red),” dan diriwayatkan darinya juga, “Pahala yang baik karena perbuatan mereka dahulu (di dunia) yang baik.” (Al-Jami’ Liahkamil Qur’an 8/306)
  2. Firman Allah subhanahu wata’ala artinya, “Dan orang yang membawa kebenaran (Muhammad) dan membenarkannya, mereka itulah orang-orang yang bertaqwa.” (QS. Az-Zumar:33)  Imam Ibnul Qayyim rahimahullah berkata, “Kejujuran saja belum cukup bagimu, bahkan merupakan keharusan untuk membenarkan (mempercayai) orang-orang yang jujur. Amat banyak manusia yang jujur namun dia menolak untuk membenarkan (mempercayai) orang lain yang jujur, entah karena sombong atau karena hasad atau selain keduanya.” (Madarij as-Salikin 1/306)
  3. Allah subhanahu wata’ala menyifati Diri-Nya dengan kejujuran dan kebenaran, sebagaimana firman-Nya artinya, “Katakanlah, “Benarlah (apa yang difirmankan) Allah”. (QS. Ali Imran:95). Dan juga firman-Nya, “Dan siapakah yang lebih benar perkataan(nya) daripada Allah.” (QS. An-Nisa’:87)
  4. Allah subhanahu wata’ala menyebutkan tentang “qadama shidqin”, “lisana shidiqin”, “maq’ada shidqin” dan juga “mudkhala/mukhraja shidqin”. Penjelasannya adalah sebagai berikut,
    1. Firman Allah subhanahu wata’ala artinya, “Dan gembirakanlah orang-orang beriman bahwa mereka mempunyai kedudukan yang tinggi (qadama shidqin) di sisi Rabb mereka”. (QS.Yunus:2). Ibnu Abbas berkata radhiyallahu ‘anhu (sebagai-mana tersebut di atas), “Makna qadama shidqin ialah rumah kejujuran, disebabkan oleh perbuatan mereka yang telah lalu (di dunia).”
    2. Firman Allah subhanahu wata’ala artinya, “Dan Kami anugerahkan kepada mereka sebagian dari rahmat Kami dan Kami jadikan mereka buah tutur yang baik lagi tinggi (lisana shidqin).” (QS. Maryam:50) Diriwayatkan juga dari Ibnu Abbas i]radhiyallahu ‘anhu, bahwa makna firman Allah “lisana shidqin” adalah pujian-pujian yang baik.
    3. Firman Allah subhanahu wata’ala artinya, “Sesungguhnya orang-orang yang bertaqwa itu di dalam taman-taman dan sungai-sungai, di tempat yang disenangi (maq’adi shidqin) di sisi (Rabb) Yang Maha Berkuasa.” (QS. 54:54-55)
      Makna “maq’adi shidqin” yaitu majlis (tempat duduk) yang haq yang tidak ada kesia-siaan dan ucapan kotor di dalamnya yakni surga. (Al-Jami’liahkam Al-Qur’an 17/150)
    4. Firman Allah subhanahu wata’ala artinya, “Dan katakanlah, “Ya Rabb-ku, masukkanlah aku secara masuk yang benar dan keluarkanlah (pula) aku secara keluar yang benar.” (QS. Al-Israa’: 80)

Artinya adalah “Jadikan permulaan (mulai) dan pengakhiran (selesai) dari segala sesuatu adalah dalam rangka ketaatan kepada-Mu, dan dalam keridhaan-Mu.” Ini disebabkan karena memuat keikhlasan dan kesesuaian dengan apa yang diperintahkan. (Tafsir Ibnu Sa’di hal 465)

Imam Ibnul Qayyim berkata, “Kelima macam ini (yang tersebut di atas, red) merupakan hakikat kejujuran, yaitu kebenaran yang berkesinambungan, terhubung dengan Allah subhanahu wata’ala dan sampai kepada-Nya, yaitu segala sesuatu yang sesuai dengan perintah Allah dan dilakukan karena-Nya berupa ucapan dan perbuatan.” Maka balasan dari semua itu di dunia dan di akhirat adalah (taufik untuk) masuk (mulai) perbuatan dengan benar dan keluar (selesai) darinya dengan benar, yaitu dari awal hingga akhirnya adalah haq, eksist, dan dengan petunjuk Allah serta dalam rangka mencari keridhaan-Nya. (Madarij as-Salikin 2/270).

Penjelasan As-Sunnah

Banyak sekali hadits-hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam yang membicarakan keutamaan jujur, di antaranya adalah:

Diriwayatkan dari Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu dia berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Wajib atas kalian semua untuk jujur, karena jujur akan membimbing kepada kebaikan, dan kebaikan akan membimbing ke surga. Seseorang senantiasa berbuat jujur dan memilih kejujuran sehingga dia ditulis di sisi Allah sebagai orang yang jujur. Dan jauhilah oleh kalian dusta, karena dusta akan membawa kepada keburukan, dan keburukan akan menyeret ke neraka. Seorang hamba senantiasa berdusta, dan dia memilih kedustaan, sehingga ditulis di sisi Allah sebagi pendusta.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim).

Al Munawi rahimahullah tatkala menjelaskan hadits di atas mengatakan:
(Wajib atas kalian jujur), yaitu ucapan yang benar (haq), dan kadang pula mencakup pada perbuatan anggota badan, misalnya jika seseorang yang jujur dalam berperang, maka tentu dia akan menunaikan hak-haknya.

(Sesungguhnya kejujuran akan membimbing kepada kabaikan), yaitu kepada amal shalih yang murni, sedang al-birr maknanya adalah sebuah sebutan untuk sesuatu yang mencakup segala macam kebaikan.

(Kebaikan akan membimbing ke surga), yakni akan mengantarkan masuk ke dalam surga.

Ibnul Arabi rahimahullah berkata, “Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam menjelaskan bahwa kejujuran adalah pangkal segala macam kebaikan. Karena seseorang jika telah menjatuhkan pilihan pada kejujuran maka dia tidak akan bermaksiat kepada Allah. Sebab -misalnya- dia ingin meminum khamer, atau berzina, atau menyakiti orang maka dia akan takut dicap sebagai peminum atau pezina. Sebab jika dia ditanya tentang perbuatan itu, maka kalau diam berarti dia dalam keraguan, jika menjawab tidak maka dia berdusta, dan kalau dia jujur menjawab ya, maka jatuhlah kehormatan dan harga dirinya. Dan akhirnya dia pun me-milih untuk menjauhi perbuatan itu.

(Seseorang senantiasa jujur), maksudnya jujur dalam ucapannya.

(Memilih kejujuran), yakni berusaha maksimal dalam melaksanakan kejujuran itu.

(Sehingga ditulis disisi Allah sebagai orang jujur), yakni dia dihukumi dengan kejujuran itu dan berhak menyandang predikat sebagai orang yang jujur.

(Jauhilah dusta), yaitu berhati-hatilah darinya.

(Karena dusta akan mengantarkan kepada keburukan), yakni dia akan mengajak untuk condong dari jalan yang lurus serta akan membangkit-kan kemaksiatan.

(Dan dusta akan mengantarkan ke neraka), yakni menjadikan pelakunya terjerumus di dalamnya.

(Seseorang selalu berusta dan memilih dusta sehingga ditulis di sisi Allah I sebagai pendusta), yakni dia dihukumi sebagai orang pendusta, dan berhak mendapatkan julukan tersebut berikut berbagai konsekuensinya.

Diriwayatkan dari Ubadah Ibnu ash-Shamit radhiyallahu ‘anhu, bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Berilah aku jaminan dengan enam perkara, maka aku akan menjamin untuk kalian dengan surga. (Yaitu) jujurlah kamu jika berbicara, tepatilah jika kamu berjanji, tunaikanlah amanat jika engkau diberi kepercayaan, jagalah kemaluan kalian, tundukkan pandangan kalian, dan tahanlah tangan kalian (jangan mengganggu atau menyakiti).” (HR. Ahmad)

Diriwayatkan dari Abu Umamah radhiyallahu ‘anhu bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Aku memberikan jaminan dengan sebuah rumah di dalam surga bagi orang yang meninggalkan dusta, meskipun hanya senda gurau. “ (HR. al-Baihaqi)

Diriwayatkan dari Aisyah radhiyallahu ‘anha dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam beliau bersabda, “Seorang mukmin dikenali dengan sikap rendah hatinya, kelembutan ucapannya dan kejujuran ucapannya.”

Renungan Ke Empat, Bersama Para Salaf

Terdapat banyak ungkapan tentang kejujuran dan hakikatnya yang disampaikan oleh para salaf, di antaranya sebagai berikut:

  1. Umar radhiyallahu ‘anhu berkata, “Kalian wajib untuk jujur, meskipun membawamu kepada kematian.”
  2. Dan perkataan beliau yang lainnya, “Kejujuran yang membuatku menjadi terhina lebih aku sukai daripada kedustaan yang mengangkat kedudukanku.”
  3. Al-Hasan al-Bashri rahimahullah berkata, “Jika engkau ingin menjadi orang-orang yang benar (jujur) maka wajib atasmu sikap zuhud dalam urusan dunia dan menahan diri dari menyakiti ahlul millah (sesama muslim).”
  4. Imam Ahmad bin Hanbal rahimahullah berkata, “Seandainya kejujuran diletakkan pada luka, maka tentu luka itu akan sembuh.”
  5. Abu Sa’id al Qurasyi rahimahullah berkata, “Orang jujur adalah orang yang siap menghadapi kematian dan dia tidak malu terhadap keburukan dirinya seandainya tersingkap, sebagaimana firman Allah, “Katakanlah, “Jika kamu (menganggap bahwa) kampung akhirat (surga) itu khusus untukmu di sisi Allah, bukan untuk orang lain, maka inginilah kematian(mu), jika kamu memang benar.” (QS. Al-Baqarah:94)
  6. Abdul Wahid bin Zaid rahimahullah berkata, “Jujur adalah menepati janji terhadap Allah dengan beramal.”
  7. Bisyar al-Haafi rahimahullah mengatakan, “Barang siapa yang bermuamalah dengan Allah I secara jujur maka dia akan merasa sepi dari manusia. Dan juga dikatakan, “Jujur adalah kesesuaian antara yang tersembunyi dengan yang terucap.”
  8. Dikatakan juga bahwa jujur adalah kesamaan antara yang disembunyikan dengan yang tampak. Artinya bahwa orang yang berdusta adalah orang yang menampakkan kebaikan tetapi batinnya menyembunyikan keburukan seperti halnya orang munafik yang secara lahir adalah seperti orang yang baik padahal batinnya tidak demikian.
  9. Ada sebagian yang mengatatakan, “Kejujuran adalah mengucapkan kebenaran dalam kondisi yang membahayakan.”

10.  Ada pula yang lain mengatakan, ” Jujur adalah berkata benar di hadapan orang yang kau takuti dan kau harapkan.” (16)

11.  Ada pula seseorang yang berkata, “Barang siapa yang tidak melakukan kewajiban yang kontinyu, maka tidak akan dapat melaksanakan kewajiban yang temporer. Ditanyakan, “Apakah kewajiban yang kontinyu itu? Lalu dijawab, “Jujur.”

12.  Dikatakan pula, “Barang siapa yang mencari keridhaan Allah dengan jujur maka Allah akan memberikan kepadanya cermin yang dengannya dia bisa melihat yang haq dan yang batil.

13.  Juga dikatakan, “Wajib atasmu berlaku jujur meskipun engkau khawatir bahwa jujur itu akan memberikan madharat kepadamu, padahal sesungguhnya dia akan memberikan manfaat kepadamu. Dan tinggalkan dusta meskipun engkau melihat bahwa dusta itu memberimu manfaat, sebab ia jutru akan mendatangkan madharat kepadamu.

Renungan Kejujuran (3) Macam dan Buah Kejujuran

Kejujuran ada bermacam-macam dan bukan hanya satu macam saja. Oleh karena itu merupakan kekeliruan jika ada orang yang berkeyakinan bahwa jujur itu hanya terbatas pada lisan saja. Yang benar adalah kejujuran itu ada dalam ucapan, perbuatan dan segenap keadaan. Imam Ibnul Qayyim berkata, “Orang yang jujur adalah orang yang segala urusannya adalah kejujuran, baik dalam ucapan, perbuatan dan keadaannya.”

Penjelasan secara global dari tiga macam kejujuran ini yaitu:

  1. Jujur dalam ucapan ialah lurusnya lisan di dalam berbicara sebagaimana sesuainya ranting dengan batang pohon.
  2. Jujur dalam perbuatan yaitu kesesuaian perbuatan dengan perintah dan mutaba’ah (selaras) sebagaimana kesesuaian kepala dengan badan.
  3. Jujur dalam keadaan yaitu kesesuaian perbuatan hati dan anggota badan dengan keikhlasan, dengan memanfaat-kan kesempatan dan mencurahkan kemampuan secara maksimal.

Dengan ini semua maka seorang hamba akan tergolong sebagai hamba yang jujur dengan sebenarnya. Dengan melaksanakan segala macam kejujuran tersebut secara utuh dan terus menegakkannya, maka akan diperoleh predikat “shiddiqiyyah”. Oleh karena itu Abu Bakar radhiyallahu ‘anhu mendapat gelar as-Shiddiq secara mutlak dan beliau telah meraih puncak kejujuran (shiddiqiyyah) yang tertinggi. (Madarij as-Salikin 2/270). Ke tiga macam kejujuran di atas dapat dijelaskan secara lebih terinci sebagai berikut:

Jujur Dalam Ucapan

Yaitu wajib bagi setiap muslim untuk menjaga lisannya, dan tidak berbicara kecuali dengan jujur dan benar. Karena Allah subhanahu wata’ala akan meminta pertanggung-jawaban atas ucapan lisan, sebagaimana firman-Nya, artinya:
“Pada hari (ketika) lidah, tangan dan kaki mereka menjadi saksi atas mereka terhadap apa yang dahulu mereka kerjakan.” (QS.An-Nur:24)

Dan selayaknya seorang muslim menjauhi kata-kata kiasan atau sindiran kecuali dalam kondisi diperlukan dan akan mendatangkan maslahat (manfaat). Umar Ibnul Khaththab radhiyallahu ‘anhu berkata, “Sesungguhnya dalam kalimat kiasan tidak terdapat unsur dusta.” (Az-Zuhd, Hinad bin As-Sirri 2/636)

Masuk kategori jujur dalam ucapan adalah jujur dalam menyampaikan berita, dan termasuk juga menepati janji yang diucapkan.

Jujur Dalam Perbuatan

Yaitu kesesuaian antara yang terlihat dan yang tersembunyi, atau lahirnya tidak ada perbedaan dengan batinnya. Abdul Wahid bin Zaid al-Bashri berkata, “Hasan al-Bashri apabila beliau memerintahkan manusia dengan sesuatu, maka dia adalah orang yang paling giat dalam melaksanakannya. Dan apabila beliau melarang manusia dari sesuatu, maka dia adalah orang yang paling menjauhinya. Dan aku tidak pernah melihat seseorang yang paling sama antara yang tersembunyi dengan yang tampak melebihi dia.”

Dan berkata Mutharrif, “Apabila seorang hamba sesuai antara yang tersembunyi dengan yang tampak, maka Allah subhanahu wata’ala akan berkata, “Ini adalah hamba-Ku yang sebenarnya.”

Jujur dalam Segala Keadaan

Ini adalah tingkatan jujur yang tertinggi, seperti jujur dalam niat yang ikhlas dan dalam rasa takut, dalam bertaubat, pengharapan, zuhud, cinta, tawakkal dan selainnya. Oleh karena itu segala amalan hati pada dasarnya bermuara dalam kejujuran, sehingga kapan saja seorang hamba jujur dalam seluruh kondisi tersebut, maka dia akan terangkat dan tinggi kedudukannya di sisi Allah. Allah subhanahu wata’ala berfirman, artinya:
“Sesungguhnya orang-orang yang beriman hanyalah orang-orang yang beriman kepada Allah dan Rasul-Nya kemudian mereka tidak ragu-ragu dan mereka berjihad dengan harta dan jiwa mereka pada jalan Allah mereka itulah orang-orang yang benar.” (QS. Al-Hujurat:15)

Al Imam Ibnul Qayyim berkata, “Abu bakar ash-Shiddiq radhiyallahu ‘anhu telah mencapai puncak kejujuran (shiddiqiyyah), dan beliau disebut sebagai ash-Shiddiq secara mutlak, yang maknanya lebih mendalam daripada ash-Shaduq, ash-Shuduq atau ash-Shaadiq. Maka puncak tertinggi sifat jujur adalah ash-shiddiqiyyah yaitu ketundukan yang sempurna terhadap utusan Allah subhanahu wata’ala (rasul) disertai sempurnanya keikhlasan terhadap Pengutusnya. (Madarij as-Salikin 2/270)

BUAH KEJUJURAN

Masuk Surga

Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam pernah ditanya tentang amal yang dapat memasukkan ke dalam surga, maka beliau menjawab, “Kejujuran.” (HR. Ahmad). Dan juga pada hari Kiamat tidak ada yang dapat memberikan manfaat dan menyelamatkan dari adzab selain kejujuran.

Allah subhanahu wata’ala berfirman, artinya, “Ini adalah suatu hari yang bermanfaat bagi orang-orang yang benar kebenaran mereka. Bagi mereka surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai; mereka kekal di dalamnya selama-lamanya; Allah ridha terhadap mereka, dan merekapun ridha terhadap-nya. Itulah keberuntungan yang paling besar”. (QS. Al-Maidah:119)

Mendapatkan Taufik

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam telah berkata kepada Ka’ab bin Malik radhiyallahu ‘anhu, salah seorang yang tidak ikut berperang dalam Perang Tabuk yang secara jujur mengakui kesalahannya dan tidak membuat alasan dusta, “Adapun dia, maka sungguh telah berlaku jujur.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim). Sehingga turun ayat pengampunan untuknya.

Memperoleh Keselamatan

Kejujuran akan mendatangkan keselamatan, melepaskan dari kesempitan dan bencana, sebagaimana dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh al-Bukhari tentang sekelompok orang yang terjebak dalam gua yang pintunya tertutup oleh batu besar. Salah satu dari mereka berkata, “Tidak ada yang dapat menyelamatkan kalian selain kejujuran, maka hendaklah masing-masing berdo’a dangan suatu amalan yang diketahui bahwa dia telah jujur dalam amalan tersebut.” (HR. Al-Bukhari)

Baiknya Batin

Barang siapa yang jujur dalam amalan yang lahir dan tampak maka itu menunjukkan bahwa batinnya adalah baik.

Memperoleh Maslahat

Kejujuran akan mendatangkan manfaat dan maslahat di dunia dan di akhirat, sebagaimana firman Allah subhanahu wata’ala dalam surat al-Maidah 119 di atas.

Mendatangkan Ketenangan

Kejujuran akan mendatangkan ketenangan dan kebahagiaan, sebagai-mana sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, “Kejujuran adalah ketenangan sedangkan dusta adalah kege-lisahan dan keraguan.” (HR. At-Tirmidzi, dan berkata hadits hasan shahih)

Ketegaran

Seorang yang jujur akan selalu tegar dan tidak goyah di dalam menghadapi berbagai ujian kehidupan.

Jujur Pangkal Kebaikan

Pokok seluruh kebaikan adalah kejujuran dan sebaliknya pangkal seluruh keburukan adalah dusta, sebagaimana telah disabdakan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dalam awal pembahasan dari bab ini.

Terlepas Dari Kemunafikan

Seorang yang selalu jujur, maka akan terbebas dari sifat kemunafikan, sebagaimana disebutkan di dalam Shahih al-Bukhari dan Shahih Muslim dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,
“Tiga perkara yang jika terdapat pada seseorang maka dia adalah seorang munafik. (Yaitu); Apabila berbicara dusta; Apabila berjanji menyelisihi; Dan apabila dipercaya berkhianat.”

Turunnya Malaikat

Malaikat turun kepada orang yang jujur sedangkan syetan turun kepada orang yang dusta. Allah subhanahu wata’ala berfirman, “Apakah akan Aku beritakan kepadamu, kepada siapa syaitan-syaitan itu turun? Mereka turun kepada tiap-tiap pendusta lagi yang banyak dosa.” (QS. Asy-Syu’ara’:221-222)

Orang yang jujur akan diberikan firasat yang benar.

Orang yang jujur dalam mengemukakan pendapat akan menang hujjahnya, sebab Allah subhanahu wata’ala akan meneguhkan orang-orang yang beriman dengan ucapan yang teguh dan kuat di dunia dan di akhirat.

Orang yang jujur berhak mendapatkan pujian dari manusia, sebagaimana firman Allah subhanahu wata’ala ketika menyebutkan para nabi, artinya,
Dan Kami anugerahkan kepada mereka sebagian dari rahmat Kami dan Kami jadikan mereka buah tutur yang baik lagi tinggi.” (QS. Maryam:55)

Jujur dalam mu’amalah dan jual beli akan mendatangkan keber-kahan, sedangkan dusta dan menyembunyikan cacat akan menghalangi barakah.

Kisah Teladan dan Fenomena Hilangnya Kejujuran

Kisah Ke Satu

Bilal radhiyallahu ‘anhu meminangkan seorang wanita bangsa Quraisy untuk saudara-nya, maka dia berkata kepada keluarga wanita tersebut, “Kami adalah orang yang telah anda ketahui dan anda kenal, dahulu kami adalah budak, lalu Allah subhanahu wata’ala memerdekakan kami, dahulu kami orang yang sesat, lalu Allah subhanahu wata’ala memberikan petunjuk dan kami dahulu adalah orang yang fakir, lalu Allah subhanahu wata’ala memberikan kami kecukupan. Maka aku meminang kepada anda si Fulanah untuk saudaraku ini, jika kalian mau menikahkan, maka segala puji hanya milik Allah dan jika kalian menolak, maka Allah Maha Besar.

Maka sebagian mereka saling melihat kepada sebagian yang lain, kemudian salah seorang dari mereka berkata, “Bilal adalah orang yang telah kalian ketahui latar belakangnya, kedekatan dan kedudukannya di sisi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, maka nikahkanlah saudaranya itu. Maka mereka pun akhirnya menerima lamaran itu dan menikahkan saudara Bilal dengan wanita tersebut. Ketika seluruh urusan sudah selesai, berkatalah saudara Bilal kepadanya, “Semoga Allah mengampunimu, adapun engkau maka engkau hanya menyebutkan latar belakangmu dan kebersamaanmu dengan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dan tidak menyebutkan selainnya. Maka Bilal radhiyallahu ‘anhu berkata, “Oh iya, engkau benar, maka sekarang aku nikahkan kamu dengan kejujuran.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim)

Kisah ke Dua

Diriwayatkan dari Sahl bin Aqil rahimahullah dia berkata, “Suatu ketika Ismail ’alaihis salam membuat janji untuk datang ke rumah seseorang. Maka datanglah Ismail, tetapi orang tersebut lupa. Maka beliau pun menunggu dan bermalam di tempat itu sehingga datang orang tersebut dari kepergiannya kemarin.” Oleh karena itu di dalam al-Qur’an beliau disebut sebagai “shadiqul wa’di” (orang yang menepati janji), sebagaimana difirmankan Allah subhanahu wata’ala, artinya:  “Dan ceritakanlah (hai Muhammad kepada mereka) kisah Ismail (yang tersebut) di dalam al-Qur’an. Sesungguh-nya ia adalah seorang yang benar janjinya, dan dia adalah seorang rasul dan nabi.”(QS. Maryam:54)

Kisah Ke Tiga

As’ad bin Ubaidillah al-Makhzumi rahimahullah berkata, “Abdul Malik bin Marwan rahimahullah memerintahkan aku agar mengajari anak-anaknya kejujuran, sebagaimana aku mengajari mereka al-Qur’an.”

Kisah Ke Empat

Ismail bin Ubaidillah rahimahullah berkata, “Ketika ayahku sudah dekat ajalnya, dia mengumpulkan seluruh anak-anaknya lalu berkata kepada mereka,” Wahai anak-anakku! Wajib atas kalian semua taqwa kepada Allah, membaca al-Qur’an dan merutinkannya. Dan wajib atas kalian untuk jujur walaupun jika salah seorang dari kalian membunuh seseorang lalu ada salah satu kerabatnya yang bertanya. Demi Allah aku tidak pernah berdusta sama sekali semenjak aku membaca al-Qur’an.”

Kisah Ke Lima

Ja’far bin Muhammad bin Ali bin Al-Husain bin Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu, beliau lebih dikenal dengan Ja’far ash-Shadiq rahimahullah karena kejujurannya di dalam berbicara.

Fenomena Hilangnya kejujuran

Orang yang memperhatikan kondisi manusia di masa ini, maka akan mendapati betapa telah terabaikannya sisi kejujuran ini. Di antara sebabnya adalah karena lemahnya keimanan di dalam hati kaum muslimin, tersebarnya kemaksiatan di setiap tempat serta ber-lebihan di dalam mencintai kehidupan dunia. Maka rasa takut terhadap sesama manusia telah mendominasi sehingga menyebabkan hilangnya kejujuran dalam ucapan, perbuatan dan segala kondisi mereka.

Dalam hadits disebutkan bahwa kejujuran merupakan ketenangan, maka jika kejujuran telah hilang akan hilang pula ketenangan dalam kehidupan dan pergaulan antar sesama. Sehingga yang tersebar adalah rasa gelisah dan saling curiga sebagai ganti dari rasa tenang.

Di antara fenomena yang tersebar di tengah masyarakat yang mengindikasikan lemahnya kejujuran adalah sebagai berikut:

Tersebarnya Ucapan Dusta

Bahkan bukan hanya ucapan dusta, tetapi termasuk juga amalan dan segala kondisi, padahal ia merupakan salah satu dosa besar. Allah subhanahu wata’ala berfirman, artinya: “Kemudian marilah kita bermubahalah kepada Allah dan kita minta supaya laknat Allah ditimpakan kepada orang-orang yang dusta.” (QS. Ali Imran:61)

Diriwayatkan dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Tiga hal, barang siapa yang pada dirinya terdapat ketiganya maka dia adalah orang munafik. Yaitu jika berbicara dusta, jika berjanji menyelisihi dan jika dipercaya berkhianat.”(HR. Al-Bukhari dan Muslim)

Fenomena Ingkar Janji

Ingkar janji sebagaimana disebutkan di dalam hadits di atas merupakan salah satu ciri kemunafikan. Kini ingkar janji telah menjadi hal yang lumrah bagi sebagian orang, bahkan di antara mereka ada yang dikenal dengan manusia ingkar janji.

Di antara bentuk ingkar janji yang sering dianggap remeh oleh kebanyakan manusia adalah: Terlambat atau mengundur keda-tangan dengan tanpa ada alasan, seperti seseorang yang berjanji akan datang jam delapan tetapi dia baru datang jam sembilan, dengan tanpa alasan yang dibenarkan. Termasuk juga orang tua yang mengingkari janji terhadap anak-anaknya untuk membelikan sesuatu atau memberinya sesuatu.

Abdullah Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu berkata, “Dusta itu tidak layak baik dalam bergurau atau sungguh-sungguh, dan janganlah seseorang di antara kalian berjanji terhadap anaknya dengan sesuatu lalu tidak melaksanakannya.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim)

Mengkhianati Amanah

Amat banyak manusia yang tidak menjalankan kewajiban sebagaimana mestinya, misalnya seorang pegawai tidak melakukan hal-hal atau pekerjaan yang seharusnya dituntut dan menjadi tugasnya. Di antara contohnya adalah terlambat datang di tempat kerja, dan jika datang bukannya melaksanakan pekerjaan dan tugasnya tetapi menelpon ke sana-sini bukan untuk urusan kerja, membaca majalah atau koran dalam jam kerja, atau nonton acara televisi dan lain sebagianya.

Demikian juga mengambil cuti sakit padahal tidak sakit, dan dia lupa bahwa dirinya dengan demikian telah memakan harta orang lain dengan tanpa bekerja. Apa hak dia mengambil upah secara utuh sementara hari kerja yang seharusnya dia masuk bekerja dikurangi dengan tanpa alasan yang dibenarkan?

Menipu Dalam Jual Beli

Di antara bentuknya adalah dengan menyembunyikan cacat barang dagangan, padahal si penjual ini mengetahui bahwa dagangannya cacat, tetapi dia tidak memberitahukan kepada si pembeli. Dia beralasan bahwa itu salah pembeli sendiri mengapa tidak meneliti dahulu barang yang akan dia beli. Menyembunyikan aib barang dagangan merupakan sebab hilangnya barakah, sebagaimana diriwayatkan dari Hakim bin Hizam radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,
“Penjual dan pembeli melakukan khiyar (pilih barang dan tawar menawar) selagi mereka belum berpisah. Jika keduanya jujur dan menjelaskan (cacat) maka diberkahi keduanya dan jika keduanya menyembunyikan cacat dan berdusta maka dihapus keberkahannya.” (HR. al-Bukhari dan Muslim)

Berpura-pura Fakir

Yaitu mengaku dirinya orang miskin dan butuh bantuan padahal sebenarnya kecukupan, dan dia meminta bantuan hanya sekedar untuk memperbanyak atau menumpuk harta benda. Diriwa-yatkan dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu dia berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Barang-siapa yang meminta-minta harta benda kepada orang lain untuk memperbanyak kepemilikannya, maka sesungguhnya dia sedang meminta bara api.” (Tarikh Dimasyq 14/373, Al-Mustathraf 2/15)

Menyembunyikan Aib Pelamar atau Wanita yang Dilamar

Yakni masing-masing dari pelamar atau wanita yang sedang dilamar menutup-nutupi kekurangannya baik dalam masalah fisik atau akhlaknya. Masing-masing hanya menonjolkan kebaikan dan kelebihannya saja, serta berlebih-lebihan di dalam memberi pujian, padahal ini dapat menghilangkan berkah pernikahan.

Wallahu a’lam.

(dikutip dari sumber virtual….tapi lupa…<mohon maaf>)

Random Posts

Loading…

Did you like this? Share it: