«

»

Mar 28

Value Added Intellectual Coefficient (VAIC™)

“Hal terpenting dalam manajemen di abad ke-20 adalah peningkatan hingga 50 kali lipat produktivitas pekerja manual dalam memproduksi. Kontribusi penting manajemen yang harus dibuat di abad ke-21 adalah dengan cara yang sama meningkatkan produktivitas pekerjaan pengetahuan (knowledge work) dan pekerja berpengetahuan (knowledge workers). Aset yang paling berharga bagi perusahaan di abad ke-20 adalah peralatan produksinya. Aset yang paling berharga institusi di abad ke-21 adalah pekerja berpengetahuan (knowledge workers) dan produkvitasnya.” Demikian kira-kira maksud dari pernyataan Peter Drucker yang kalimat aslinya adalah sebagai berikut (Pulic, 1999):

“The most important and indeed truly unique contribution of management in the 20th century was the fifty fold increase in the productivity of the manual worker in manufacturing. The most important contribution management needs to make in the 21st century is similarly to increase the productivity of knowledge work and knowledge workers. The most valuable asset of a 20th Century Company was its production equipment. The most valuable asset of a 21st century institution will be its knowledge workers and their productivity”.

*****

Metode value added intellectual coefficient (VAIC™) dikembangkan oleh Pulic pada tahun 1997 yang didesain untuk menyajikan informasi tentang value creation efficiency dari aset berwujud (tangible asset) dan aset tidak berwujud (intangible assets) yang dimiliki perusahaan. (VAIC™) merupakan instrumen untuk mengukur kinerja intellectual capital perusahaan. Pendekatan ini relatif mudah dan sangat mungkin untuk dilakukan, karena dikonstruksi dari akun-akun dalam laporan keuangan perusahaan (neraca, laba rugi).

Model ini dimulai dengan kemampuan perusahaan untuk menciptakan value added (VA). Value added adalah indikator paling objektif untuk menilai keberhasilan bisnis dan menunjukkan kemampuan perusahaan dalam penciptaan nilai (value creation). VA dihitung sebagai selisih antara output dan input.

Output (OUT) merepresentasikan revenue dan mencakup seluruh produk dan jasa yang dijual di pasar, sedangkan input (IN) mencakup seluruh beban yang digunakan dalam memperoleh revenue. Hal penting dalam model ini adalah bahwa beban karyawan (labour expenses) tidak termasuk dalam IN. Karena peran aktifnya dalam proses value creation, intellectual potential (yang direpresentasikan dengan labour expenses) tidak dihitung sebagai biaya (cost) dan tidak masuk dalam komponen IN. Karena itu, aspek kunci dalam model Pulic adalah memperlakukan tenaga kerja sebagai entitas penciptaan nilai (value creating entity).

VA dipengaruhi oleh efisiensi dari Human Capital (HC) dan Structural Capital (SC). Hubungan lainnya dari VA adalah capital employed (CE), yang dalam hal ini dilabeli dengan VACA. VACA adalah indikator untuk VA yang diciptakan oleh satu unit dari physical capital.

Pulic (1998) mengasumsikan bahwa jika 1 unit dari CE menghasilkan return yang lebih besar daripada perusahaan yang lain, maka berarti perusahaan tersebut lebih baik dalam memanfaatkan CE-nya. Dengan demikian, pemanfaatan CE yang lebih baik merupakan bagian dari IC perusahaan.

Hubungan selanjutnya adalah VA dan HC. ‘Value Added Human Capital’ (VAHU) menunjukkan berapa banyak VA dapat dihasilkan dengan dana yang dikeluarkan untuk tenaga kerja. Hubungan antara VA dan HC mengindikasikan kemampuan dari HC untuk menciptakan nilai di dalam perusahaan. Konsisten dengan pandangan para penulis IC lainnya, Pulic berargumen bahwa total salary and wage costs adalah indikator dari HC perusahaan.

Hubungan ketiga adalah “structural capital coefficient” (STVA), yang menunjukkan kontribusi structural capital (SC) dalam penciptaan nilai. STVA mengukur jumlah SC yang dibutuhkan untuk menghasilkan 1 rupiah dari VA dan merupakan indikasi bagaimana keberhasilan SC dalam penciptaan nilai. SC bukanlah ukuran yang independen sebagaimana HC, ia dependen terhadap  value creation (Pulic, 1999). Artinya, semakin besar kontribusi HC dalam value creation, maka akan semakin kecil kontribusi SC dalam hal tersebut. Lebih lanjut Pulic menyatakan bahwa SC adalah VA dikurangi HC, yang hal ini telah diverifikasi melalui penelitian empiris pada sektor industri tradisional (Pulic, 2000).

Rasio terakhir adalah menghitung kemampuan intelektual perusahaan dengan menjumlahkan koefisien-koefisien yang telah dihitung sebelumnya. Hasil penjumlahan tersebut diformulasikan dalam indikator baru yang unik, yaitu VAIC™ (Tan et al., 2007).

Secara lebih ringkas, formulasi dan tahapan perhitungan VAIC™ adalah sebagai berikut:

Tahap Pertama: Menghitung Value Added (VA). VA dihitung sebagai selisih antara output dan input (Pulic, 1999).

VA=OUT – IN

Dimana:

  1. OUT = Output: total penjualan dan pendapatan lain.
  2. IN = Input: beban penjualan dan biaya-biaya lain (selain beban karyawan).

Value added (VA) juga dapat dihitung dari akun-akun perusahaan sebagai berikut:

VA = OP + EC + D + A

Dimana:

  1. OP = operating profit (laba operasi)
  2. EC = employee costs (beban karyawan)
  3. D = depreciation (depresiasi)
  4. A = amortisation (amortisasi)

Tahap Kedua: Menghitung Value Added Capital Employed (VACA). VACA adalah indikator untuk VA yang diciptakan oleh satu unit dari physical capital. Rasio ini menunjukkan kontribusi yang dibuat oleh setiap unit dari CE terhadap value added organisasi.

VACA = VA/CE

Dimana:

  1. VACA = Value Added Capital Employed: rasio dari VA terhadap CE.
  2. VA = value added
  3. CE = Capital Employed: dana yang tersedia (ekuitas, laba bersih)

Tahap Ketiga: Menghitung Value Added Human Capital (VAHU). VAHU menunjukkan berapa banyak VA dapat dihasilkan dengan dana yang dikeluarkan untuk tenaga kerja. Rasio ini menunjukkan kontribusi yang dibuat oleh setiap rupiah yang diinvestasikan dalam HC terhadap value added organisasi.

VAHU = VA/HC

Dimana:

  1. VAHU = Value Added Human Capital: rasio dari VA terhadap HC.
  2. VA = value added
  3. HC = Human Capital: beban karyawan.

Tahap Keempat: Menghitung STructural capital Value Added (STVA). Rasio ini mengukur jumlah SC yang dibutuhkan untuk menghasilkan 1 rupiah dari VA dan merupakan indikasi bagaimana keberhasilan SC dalam penciptaan nilai.

STVA = SC/VA

Dimana:

  1. STVA = Structural Capital Value Added: rasio dari SC terhadap VA.
  2. SC = Structural Capital : VA – HC
  3. VA = value added

Tahap Kelima: Menghitung Value Added Intellectual Coefficient (VAIC). VAIC™ mengindikasikan kemampuan intelektual organisasi yang dapat juga dianggap sebagai BPI (Business Performance Indicator). VAIC™ merupakan penjumlahan dari 3 komponen sebelumnya, yaitu: VACA, VAHU, dan STVA.

VAIC = VACA + VAHU + STVA

Keunggulan metode VAIC™ adalah karena data yang dibutuhkan relatif mudah diperoleh dari berbagai sumber dan jenis perusahaan. Data yang dibutuhkan untuk menghitung berbagai rasio tersebut adalah angka-angka keuangan yang standar yang umumnya tersedia dari laporan keuangan perusahaan. Alternatif pengukuran IC lainnya terbatas hanya menghasilkan indikator keuangan dan non-keuangan yang unik yang hanya untuk melengkapi profil suatu perusahaan secara individu. Indikator-indikator tersebut, khususnya indikator non-keuangan, tidak tersedia atau tidak tercatat oleh perusahaan yang lain (Tan et al., 2007). Konsekuensinya, kemampuan untuk menerapkan pengukuran IC alternatif tersebut secara konsisten terhadap sample yang besar dan terdiversifikasi menjadi terbatas (Firer dan Williams, 2003).

Random Posts

Loading…

Did you like this? Share it:

2 comments

  1. Fadli

    Sdr Ihyaul saya mau tanya mengenai Capital Employed disitu tertulis (ekuitas, laba bersih) apa ya maksudnya? Bisa kasih tau gak dapet reverensi Capital Employed tersebut darimana?
    Saya mau membuat skripsi mengenai Intellectual Capital,

    Terimakasih sebelumnya atas bantuanya
    Fadli

  2. @cak_lum

    silahkan baca artikel arsinya Ante Pulic ttg VAIC. search aja di google, tulis VAIC+Pulic. ntar pasti keluar tuh artikel. gutlak.

Comments have been disabled.