«

»

Mar 19

Skripsi: menulis “Latar Belakang Masalah”

Latar Belakang Masalah berisi hal-hal sebagai berikut (secara berurutan dalam tiap paragraph):

  1. Fenomena saat ini tentang tema yang akan dikaji
  2. Pandangan teoritis atas fenomena tersebut
  3. Penelitian/kajian yang telah pernah dilakukan atas fenomena/tema tersebut (minimal 2 penelitian/kajian)
  4. Positioning – Uraian tentang apa yang akan dikaji dalam penelitian ini, termasuk kelebihan  dan pentingnya penelitian ini dilakukan.

Berikut contoh penulisan LBM (tema riset: Intellectual Capital dan Kinerja Keuangan)

paragraph 1 (fenomena) :

Sejak tahun 1990-an, perhatian terhadap praktik pengelolaan aset tidak berwujud (intangible assest) telah meningkat secara dramatis (Harrison dan Sullivan, 2000). Salah satu pendekatan yang digunakan dalam penilaian dan pengukuran intangible assest tersebut adalah intellectual capital (IC) yang telah menjadi fokus perhatian dalam berbagai bidang, baik manajemen, teknologi informasi, sosiologi, maupun akuntansi (Petty dan Guthrie, 2000; Sullivan dan Sullivan, 2000).

paragraph 2 (pandangan teoritis) :

Selama ini, pembedaan antara intangible assets dan IC telah disamarkan ke dalam pengertian intangible yang keduanya dirujuk pada istilah goodwill (APB, 1970; ASB, 1997; IASB, 2004). Hal ini dapat ditelusuri pada awal tahun 1980-an ketika catatan dan pemahaman umum tentang nilai intangible, biasanya diberi nama goodwill, mulai tampak dalam praktek bisnis dan akuntansi (IFA, 1998).

Dalam penelusuran praktek pencatatan intangible tersebut, Guthrie et al. (1999) dan IFA (1998) menemukan bahwa akuntansi tradisional tidak dapat menyajikan informasi tentang identifikasi dan pengukuran intangibles dalam organisasi, khususnya organisasi yang berbasis pengetahuan. Jenis intangible baru seperti kompetensi karyawan, hubungan dengan pelanggan, model-model simulasi, sistem administrasi dan komputer tidak diakui dalam model pelaporan manajemen dan keuangan tradisional. Bahkan dalam prakteknya, beberapa intangible tradisional, seperti pemilikan merek, paten dan goodwill, masih jarang dilaporkan di dalam laporan keuangan (IFA, 1998; IASB, 2004). Kenyataannya, IAS 38 tentang Intangibles assets melarang pengakuan merk yang diciptakan secara internal, logo (mastheads), judul publikasi, dan daftar pelanggan (IASB, 2004).

paragraph 3 (riset terdahulu) :

Hubungan antara VAIC™ dengan kinerja keuangan telah dibuktikan secara empiris oleh Firer dan Williams (2003) di Afrika Selatan. Hasilnya mengindikasikan bahwa hubungan antara efisiensi dari value added IC (VAIC™) dan tiga dasar ukuran kinerja perusahaan (yaitu profitabilitas ROA, produktivitas ATO, dan MB – market to book value) secara umum adalah terbatas dan tidak konsisten. Secara keseluruhan, hasil penelitian ini menunjukkan bahwa phisical capital merupakan faktor yang paling signifikan berpengaruh terhadap kinerja perusahaan di Afrika Selatan.

Chen et al. (2005) menggunakan model Pulic (VAIC™) untuk menguji hubungan antara IC dengan nilai pasar dan kinerja keuangan perusahaan dengan menggunakan sampel perusahaan publik di Taiwan. Hasilnya menunjukkan bahwa IC (VAIC™) berpengaruh secara positif terhadap nilai pasar dan kinerja keuangan perusahaan. Bahkan, Chen et al. (2005) juga membuktikan bahwa IC (VAIC™) dapat menjadi salah satu indikator untuk memprediksi kinerja perusahaan di masa mendatang. Selain itu, penelitian ini juga membuktikan bahwa investor mungkin memberikan penilaian yang berbeda terhadap tiga komponen VAIC™ (yaitu physical capital, human capital, dan structural capital).

paragraph 4 (positioning) :

Penelitian ini mengukur pengaruh intellectual capital (dalam hal ini diproksikan dengan VAIC™) terhadap kinerja keuangan perusahaan di sektor perbankan di Indonesia. Pemilihan sektor perbankan sebagai sampel mengacu pada penelitian Kamath (2006); Mavridis (2005); dan Firer dan William (2003). Sektor perbankan dipilih karena menurut Firer dan William (2003) industri perbankan adalah salah satu sektor yang paling intensif IC-nya. Selain itu, dari aspek intelektual, secara keseluruhan karyawan di sektor perbankan lebih homogen dibandingkan dengan sektor ekonomi lainnya (Kubo dan Saka, 2002).

Semoga bermanfaat…..

Random Posts

Loading…

Did you like this? Share it: