«

»

Mar 07

Sholat Jama’ah bagi Pria

Allah SWT berfirman: ”Dirikanlah shalat, tunaikanlah zakat dan rukuklah beserta orang-orang yang rukuk”.(Al Baqarah : 43). Ayat ini merupakan nash tentang kewajiban shalat berjamaah.

Dan apabila kamu berada ditengah-tengah mereka (sahabatmu) lalu kamu hendak mendirikan shalat bersama-sama mereka, maka hendaklah segolongan dari mereka berdiri (shalat) besertamu dan menyandang senjata…..” (An Nisa’ 102).

An Nisa’ 102 dengan tegas Allah mewajibkan shalat berjamaah bagi kaum muslimin dalam keadaan perang. Apalagi bila dalam keadaan damai!. Ini adalah dalil bahwa shalat berjamaah adalah fardhu ‘ain, bukan fardu kifayah, ataupun sunnah. Jika hukumnya fardhu kifayah, pastilah gugur kewajiban berjamaah bagi kelompok kedua karena penunaian kelompok pertama. Dan jika hukumnya adalah sunnah, pastilah alasan yang paling utama adalah karena takut.

Abu Hurairah r.a. berkata: ”Seorang laki-laki buta datang kepada Nabi dan berkata: Wahai Rasulullah, aku tidak mempunyai penuntun yang akan menuntunku ke Masjid. Maka dia minta keringanan untuk shalat di rumah, maka diberi keringanan. Ketika si-buta pergi, Nabi memanggilnya seraya berkata: apakah kamu mendengar adzan? ”Ya”, jawab si-buta. Nabi berkata: ”Kalau begitu penuhilah (hadirilah)!”

Di dalam hadits ini Rasulullah SAW tidak memberikan keringanan kepada Abdullah bin Ummi Maktum r.a. untuk shalat dirumahnya (tidak berjamaah) kendati ada alasan, diantaranya: keadaan beliau buta; tidak adanya penuntun ke masjid; jauh rumahnya dari masjid; tua umurnya dan telah lemah tulang-tulang-nya.

Abu Hurairah r.a. meriwayatkan bahwa Nabi SAW telah bersabda: ”Aku berniat memerintahkan kaum muslimin untuk mendirikan shalat. Maka aku perintahkan seorang untuk menjadi imam dan shalat bersama. Kemudian aku berangkat dengan kaum muslimin yang membawa seikat kayu bakar menuju orang-orang yang tidak mau ikut shalat berjamaah, dan aku bakar rumah-rumah mereka”. (HR. Bukhari-Muslim)

Hadits di atas telah menjelaskan bahwa tekad Rasulullah SAW untuk membakar rumah-rumah disebabkan mereka tidak keluar untuk shalat berjamaah di masjid, meskipun mereka shalat di rumah-rumah mereka.
Ibnu Hajar berkata: ”Hadits ini telah menerangkan bahwa shalat berjamaah adalah fardhu ‘ain, karena kalau shalat berjamaah itu hanya sunnah saja, Rasulullah tidak akan berbuat keras terhadap orang-orang yang meninggalkannya, dan kalau fardhu kifayah pastilah telah cukup dengan pekerjaan beliau dan yang bersama beliau”

Abdullah bin Mas’ud r.a. berkata: Engkau telah melihat kami, tidak seseorang yang meninggalkan shalat berjamaah, kecuali ia seorang munafik yang diketahui kemunafikannya atau seseorang yang sakit, bahkan seorang yang sakitpun berjalan dengan dipapah untuk mendatangi shalat berjamaah di masjid. Beliau menegaskan : Rasulullah SAW mengajarkan kita jalan-jalan hidayah, dan salah satu jalan hidayah itu adalah shalat yang dikerjakan di masjid. (Shahih Muslim).

Ibnu Mas’ud juga berkata: Barang siapa ingin bertemu dengan Allah SWT di hari akhir nanti dalam keadaan muslim, maka hendaklah memelihara semua shalat yang diserukan-Nya. Allah SWT telah menetapkan jalan-jalan hidayah kepada para Nabi dan shalat termasuk salah satu jalan hidayah. Jika kalian shalat di rumah maka kalian telah meninggalkan sunnah Nabi kalian, dan kalian akan sesat. Setiap Lelaki yang bersuci dengan baik, kemudian menuju masjid, maka Allah SWT menulis setiap langkahnya satu kebaikan, mengangkatnya satu derajat, dan menghapus satu kejahatannya.

Ibnu Mas’ud, Abdullah bin Abbas dan Abu Musa Al-Asy’ari r.a. berkata:  Barangsiapa yang mendengar adzan kemudian dia tidak mendatanginya tanpa udzur, maka tidak ada shalat baginya.

Ali bin Abi Thalib berkata: Tidak ada tetangga masjid kecuali shalat di masjid. Ketika ditanyakan kepada beliau: Siapa tetangga masjid? Beliau menjawab: Siapa saja yang mendengar panggilan adzan. Kemudian kata beliau: Barangsiapa mendengar panggilan adzan dan dia tidak mendatanginya maka tidak ada shalat baginya, kecuali dia mempunyai udzur.

Hadits mengenai wajibnya shalat berjamaah dan kewajiban melaksanakannya di masjid sangat banyak. Oleh karena itu setiap muslim wajib memperhatikan, dan bersegera melaksanakannya. Juga wajib memberitahukan hal ini kepada anak-anaknya, keluarga, tetangga, dan seluruh teman-teman se-aqidah agar mereka melaksanakan perintah Allah SWT dan rasul-Nya dan agar mereka takut terhadap larangan Allah dan rasul-Nya dan agar mereka menjauhkan diri dari sifat-sifat orang munafik yang tercela, diantaranya malas mengerjakan shalat.

BAGAIMANA JIKA SHOLAT JAMAAH DI RUMAH ?

Dalil-dalil di atas telah dengan jelas menunjukkan wajibnya sholat jamaah di masjid. Tidak ada alasan untuk sholat di rumah, baik sendiri maupun berjamaah. Sholat jamaah yang dilakukan di rumah bersama keluarga tidak menggugurkan kewajiban untuk sholat jamaah di masjid. Apalagi, menurut sebagian ulama, sholat jamaah yang tidak dilakukan di masjid, tidak memperoleh keutamaan sholat jamaah.

Ibnu Hajar mengatakan bahwa keutamaan 25 dan 27 derajat sholat jamaah adalah khusus untuk shalat jamaah yang dilakukan di masjid (Fathul Bari, juz 2, hal. 159). Hal ini berdasarkan hadits: “Shalat seseorang dengan berjamaah dilipatgandakan atas shalatnva di rumahnya dan di pasar dengan 25 kali lipat. Hal ini dia peroleh apabila ia berwudlu, lalu menyempurnakan wudlunya kemudian keluar menuju masjid….” (HR. Bukhari Muslim).

Seorang laki-laki (ayah) tetap berkewajiban sholat jamaah di masjid. Bagaimana dengan istri dan anaknya? Jika si-anak adalah laki-laki dan telah mengerti sholat, maka ia harus diajarkan untuk sholat jamaah di masjid, bukan di rumah! Tapi jika si-anak adalah perempuan, maka hukumnya sama dengan istri, yaitu bahwa sholah di rumah lebih baik daripada di masjid.

Sabda Nabi SAW: “Sebaik-baik masjid bagi wanita adalah di dalam rumah-rumah mereka”. (HR. Ahmad, Ibnu Khuraimah, dan Baihaqi). Hadits lainnya: “…….Shalat (seorang perempuan) di kamarnya lebih utama daripada shalat di rumahnya. Shalat di rumahnya lebih utama daripada shalat di masjid kaumnya, dan shalat di masiid kaumnya lebih utama daripada mereka shalat bersamaku (di masiidku)” (HR. Ahmad, Ibnu Khuzaimah dan Ibnu Hibban).

Keutamaan shalat bagi wanita di dalam rumahnya sebagaimana telah dijelaskan di atas tidak menafikan bolehnya para wanita shalat berjamaah di masjid. Bahkan mengharuskan bagi wali atau suami untuk tidak melarang mereka jika hendak shalat berjamaah di masjid, tentunya dengan syarat. Syarat-syarat yang telah disebutkan oleh para ulama yang diambil dari hadits-hadits yaitu: tidak memakai wangi-wangian, tidak memakai gelang kaki yang dapat terdengar suaranya, tidak memakai baju yang mewah, tidak berbaur dengan kaum laki-laki dan bukan gadis yang dapat menimbulkan fitnah, dll.

Sebagian ulama berpendapat bahwa bagi wanita, sholat jamaah di masjid hukumnya sunah. Sabda Nabi: “Janganlah kalian mencegah hamba-hamba Allah (wanita) ke masjid, meskipun rumah-rumah mereka adalah lebih baik bagi mereka”. (HR Bukhari).

Random Posts

Loading…

Did you like this? Share it: