«

»

Mar 21

Menangkap dan Menuangkan Ide

*) Kertas kerja disampaikan pada acara Pembekalan Asisten Baru
Laboratorium Akuntansi Program Studi Akuntansi FE-UMM.
Sabtu, 11 Desember 2009.

PENDAHULUAN

Dunia ilmu pengetahuan salah satunya diukur dan dikembangkan melalui tulisan. Kita dapat mengetahui tingkat kepakaran seseorang melalui tulisan-tulisannya yang dipublikasikan melalui media (apapun). Dari mana kali pertama Anda mendengar dan mengenal nama Kwik Kian Gie, misalnya. Atau orang seperti Nur Cholis Madjid (Alm.), Jalaluddin Rahmat, Faisal Basri, bahkan Gus Dur? Di bidang Akuntansi, melalui media apa Anda mengetahui nama-nama ‘besar’ seperti Mulyadi, Mardiasmo, Abdul Halim, dsb.? Nama-nama tersebut ‘besar’ berangkat dari media tulis, baik media massa maupun buku. Kesimpulannya, menulis itu penting!

Hal mendasar yang harus kita kuasai kalau kita ingin aktif di dunia jurnalistik adalah mengenal dan memahami tradisi tulis (Nurtanio, 1997). Karena itu kita harus segera beranjak dari tradisi lama – yang menurut Mohammed Arkoun dianggap sebagai tingkat peradaban terendah umat manusia – yaitu tradisi lisan menuju tradisi tulis. Tradisi tulis adalah suatu tradisi berkomunikasi yang menempatkan kebiasaan tulis-menulis atau catat-mencatat sebagai pijakan utama media komunikasinya. Di sini yang paling penting adalah adanya kebiasaan untuk menulis. Artinya ada proses merekam semua peristiwa yang penting dan pergulatan pemikiran dalam bahasa tulis. Dalam hal yang sederhana ia bisa berwujud kebiasaan menulis buku harian, menulis surat kepada siapapun (bisa kepada pacar, orang tua, kawan, atau bahkan kepada ‘musuh’ sebagai bentuk intimidasi!), atau menulis catatan perjalanan. Kalau mau agak serius sedikit bisa berbentuk menulis laporan ilmiah, artikel, kolom, atau berita. Untuk menulis tidak harus menjadi wartawan, karena dunia jurnalistik bukan monopoli wartawan!

Intinya adalah membiasakan diri untuk melakukan transformasi komunikasi menuju media tulis. Prosesnya bisa ditempuh dengan belajar mengungkapkan pengalaman, ide, atau mendeskripsikan suasana (lingkungan maupun batin) ke dalam bahasa tulis. Pekerjaan ini sepertinya gampang dan sederhana, namun bagi orang yang tidak biasa menjalaninya tentu hal ini merupakan kesulitan tersendiri. Jalan satu-satunya untuk bisa terampil hanyalah berlatih dan berlatih. Perkara tulisan itu nanti akan dituangkan dalam jenis tulisan kolom, berita, atau artikel, hal itu merupakan perkara sekunder. Karena kalau seseorang sudah menguasai tradisi tulis amatlah mudah baginya untuk menyesuaikan diri dengan jenis-jenis tulisan yang dikehendaki.

MENGENAL JENIS TULISAN

Jika kita adalah ‘pembaca’ media (koran, majalah, tabloid, bulletin, dsb.) yang baik, maka pasti kita dapat mengetahui dan memahami bahwa setiap media memiliki karakter yang berbeda yang menjadi ciri khas masing-masing. Keberbedaan itu bisa dalam bentuk desain fisik, core issue dan atau keberpihakan, dsb. Salah satu perbedaan yang lazim ada dalam koran adalah posisi rubrik Opini atau kadang disebut Kolom, atau juga disebut Artikel yang biasanya selalu ‘bersanding’ dengan Opini Media (Tajuk Rencana).

Kolom sebenarnya bisa merupakan opini yang dimunculkan oleh penulisnya tentang suatu masalah dari sudut pandangnya sendiri (yang tentu saja sangat subjektif!). Tulisan bentuk Kolom sangat mudah dan banyak kita temukan pada berbagai media massa, karena kadang-kadang rubrik Opini yang ada pada surat kabar berisi Kolom. Namun sebenarnya antara Opini dengan Kolom tidaklah sama, Opini relatif lebih mudah disusun. Dengan berbekal kepekaan terhadap isu, memiliki (sedikit) data, dan memahami teknik penulisan, serta mengetahui ‘celah’ suatu media, jadilah sebuah Opini yang kemudian akan berubah menjadi “gizi”. Sedangkan Kolom biasanya lebih mendalam dan tajam analisisnya tentang suatu persoalan. Contoh Kolom misalnya dapat kita temukan di ‘Catatan Pinggir’nya Goenawan Mohammad pada halaman terakhir Majalah TEMPO, atau tulisan pakar yang menyertai investigative report Kompas pada edisi Minggu di rubrik “Fokus”.

Essay merupakan tulisan yang (biasanya) agak puitis. Tema utama tulisan jenis ini tidak jelas (bias) karena memang sengaja dibiaskan dengan penggunaan kata-kata yang puitis. Untuk penulisan Essay (juga Kolom dan Opini), sebaiknya tidak menggunakan judul yang lebih dari 4 (empat) kata. Pilihlah judul yang tajam dan menukik, bila perlu provikatif!.

Feature Berita lain lagi. Menulis Feature Berita berbeda dengan menulis berita secara langsung seperti di koran-koran. Berita koran teknis penulisannya adalah Piramida Terbalik – bagian penting di depan, terus diikuti keterangan-keterangan yang semakin ke bawah semakin tidak penting. Feature Berita tidak demikian, karena lead (intro) dan ending sama pentingnya. Kalau halaman tidak cukup, justru batang tubuhnya yang dipotong. Feature biasanya merupakan berita hasil pengamatan sebuah perjalanan, kisah, dan atau biografi. Ada beberapa jenid lead berita, antara lain: lead ringkasan, lead bercerita, lead deskriptif, lead kutipan, lead pertanyaan, lead menuding, lead penggoda, lead nyentrik, dan lead gabungan (Stanley, 1997).

Lead Ringkasan

Lead jenis ini pelaing gampang karena itu paling sering sering dipakai.

Habis sudah nasib TV Pool. Lembaga yang bertujuan melunakkan berita seputar aksi kerusuhan dan situasi politik aktual itu akhirnya ikut tergilas arus reformasi….

Pembaca sudah bisa menebak, yang mau ditulis adalah kebijaksanaan TV Pool. Bagi pembaca yang percaya bahwa FORUM bisa menggali informasi lebih, bisa meneruskan membaca. Tapi yang tidak berminat dengan persoalan, atau merasa sudah kenyang dengan berita itu di korang-koran, bisa melewatkan berita itu.

Lead Bercerita

Lead ini menciptakan suatu suasana dan membenamkan pembaca seperti ikut jadi tokohnya.

Anggota Reserse itu melihat dengan tajam ke arah senjata lelaki di depannya. Secepat kilat ia meloncat ke samping dan mendepak senjata lawannya sambil menembakkan pistolnya. Dor… Preman itu tergeletak sementara banyak orang tercengang ketakutan menyaksikan adegan yang sekejap itu…..dst…

Pembaca belum jelas benar, cerita ini tentang apa. Menangkap penjarah, maling atau apa. Eh, ternyata operasi penertiban preman Tanah Abang. Jadi, ada daya tarik tersendiri, karena menggiring rasa ingin tahu pembaca.

Lead Deskriptif

Lead ini bisa menceritakan tentang seorang tokoh atau suatu kejadian. Misal, jika berangkat dari profil:

Keringat mengucur di muka lelaki tua yang tangannya buntung itu, sementara pemilik kendaraan merelakan uang kembalinya yang hanya dua ratus rupiah. Namun lelaki itu tetap saja merogoh saku dengan tangan kirinya yang normal, mengambil dua koin ratusan. Pake Saleh, tukang parkir yang bertangan sebelah itu, tak ingin dikasihani….(sudah inti berita)

Ini berangkat dari kejadian/peristiwa:

Jalan Raya Tlogo Mas, Malang, menjadi daerah terlarang pada Senin, 1 Desember lalu. Sejak pagi hari, pintu masuk jalan itu sudah diblokade puluhan tentara Kostrad. Jumlah tentara yang berjagag di sekitar jalan tersebut sekitar 100 orang. Maklum….. (sudah inti berita)

Lead Kutipan

Lead ini bisa menarik jika kutipannya memusatkan diri pada inti cerita berikutnya dan tidak klise. Misal:

“Saya lebih baik tetap tinggal di penjara, dibandingkan bebas dengan pengampunan. Apanya yang diampuni, saya kan tidak pernah bersalah.” Kata Sri Bintang Pamungkas ketika akan dibebaskan dari LP Cipinang. Walau begitu, Sri Bintang toh mau juga keluar penjara dijemput anak dan istrinya….dst..

Pembaca kemudian digiring pada kasus pembebasan tahanan politik (tapol) sebagai tekad pemerintahan yang baru. Hati-hati dengan kutipan klise! Misal:

“Pembangunan itu perlu untuk mensejahterakan rakyat dan hasil-hasilnya sudah kita lihat bersama.” Kata Menteri XX di depan masa yang melimpah ruah. Gombal…

Lead Pertanyaan

Lead ini menantang rasa ingin tahu pembaca, dan agak sinis. Sebaiknya satu alinea dan satu kalimat, dan kalimat berikutnya sudah alinea baru. Misal:

Untuk apa Munas Luarbiasa Golkar diadakan?

Memang ada yang mempertanyakan hal ini, karena Munas itu sendiri sudah dijadwalkan Oktober nanti, hanya tinggal lima bulan. Tapi, orang tidak sabar untuk menyaksikan Harmoko mundur…

Lead Menuding

Lead ini berusaha berkomunikasi langsung dengan pembaca dan ciri-cirinya adalah ada kata “Anda” atau “Saudara”. Pembaca sengaja dibawa untuk menjadi bagian cerita,  walau pembaca itu tidak terlibat pada persoalan. Misal:

Saudara mengira sudah menjadi orang baik di negeri ini. Padahal, belum tentu. Pernahkah Saudara menggunakan jembatan penyeberangan kalau melintas di jalan? Pernahkah Saudara naik ke bus kota dari pintu depan dan tertib keluar dari pintu belakang? Mungkin tak pernah sama sekali. Saudara tergolong punya disiplin yang, maaf, sangat kurang….

Pembaca mungkin belum paham, ini berita apa. Ternyata tentang kampanye disiplin nasional yang tidak berhasil, atau menyoroti perilaku masyarakat kota yang sebenarnya sama sekali tidak berbudaya.

Lead Penggoda

Lead ini hanya sekadar menggoda dengan sedikit bergurau. Lead ini juga masih teka-teki.

Kampanye menulis surat di masa pemerintahan Presiden Soeharto ternyata berhasil baik dan membekas sampai saat ini. Bukan saja anak-anak sekolah yang gemar menulis surat, tetapi juga para pejabat tinggi di masa itu. Nah, sampai di sini pembaca masih sulit menebak, tulisan apa ini? Alinea berikutnya:

Kini, ada surat yang membekas dan menimbulkan masalah bagi rakyat kecil. Yakni, surat sakti Menteri PU kepada Gubernur DKI agar putra Soeharto, Sigit, diajak berkongsi untuk menangani PDAM DKI Jakarta….

Lead Nyentrik

Lead ini bisa berbentuk puisi atau lagu atau sepotong kata-kata pendek. Misal:

Reformasi total. Mundur. Sidang Istimewa. Tegakkan hukum. Hapus KKN

Teriakan itu bersahut-sahutan dari sejumlah mahasiswa di halaman gedung DPR/MPR untuk menyampaikan aspirasi rakyat.

Sama dengan lead kutipan, syaratnya adalah ada kekhasan dalam kata-kata itu, baik bunyi maupun rentetannya.

Lead Gabungan

Lead ini adalah gabungan dari beberapa jenis lead.

“Saya tak pernah mempersoalkan kedudukan. Kalau memang mau diganti, ya, diganti.” Kata Tutut sambil berjalan menuju mobilnya seraya memperbaiki kerudungnya. Ia tetap tersenyum cerah sambil menolah menjawab pertanyaan wartawan. Ketika hendak menutup mobilnya, mantan Mensos ini berkata pendek: “Bapak saya sehat kok, keluarga kami semua sehat…”

ini gabungan lead kutipan dan deskriptif. Lead apapun bisa digabungkan

MENJEMPUT GAGASAN

Sebelum kita menulis, biasanya kita akan berurusan dengan dunia ide. Ide atau gagasan itu yang nanti bakal mendasari tulisan kita. Sebenarnya banyak cara bagaimana kita bisa menangguk gagasan. Asal kita mau peka ‘lingkungan’ sedikit dan kaya wawasan, maka dapat dipastikan ide-ide akan bertaburan menari-nari di sekitar kita.

Ide bisa kita jemput dari masalah-masalah yang mengemuka setelah kita membaca banyak hal, mulai dari buku teks, jurnal ilmiah, majalah, koran, maupun selebaran gelap. Membaca menjadi syarat pertama untuk memulai kativitas menulis. Mustahil orang akan bisa menulis, sebelum ia menjadi ‘pembaca’. Ide juga bisa kita tangguk dari fenomena yang menonjol di lingkungan sekitar kita. Kita bisa menangkap dan mengangkat masalah dari obrolan ringan kita dengan sopir mikrolet yang kita kendarai. Bisa juga berasal dari keluhan Mbok penjual wedang kopi langganan kita. Atau juga dari pemilik rumah tempat kita ‘menumpang’. Ide juga sering tiba-tiba muncul setelah kita menyaksikan fim di televisi atau bioskop. Gagasan bisa muncul dan kita temukan dari mana saja dan kapan saja. Kuncinya adalah kepintaran kita untuk ‘membaca’ segala sesuatu yang ada di sekitar kita. Membaca setiap yang tercipta maupun yang terucap dan tertulis. Dengan rajin membaca dan ‘sedikit’ kemampuan analisis, maka kita akan dapat menjemput gagasan yang berseliweran di sekitar kita. Tinggal, bagaimana kita memanfaatkannya dengan maksimal.

MENUANGKAN IDE KE DALAM TULISAN

Banyak orang yang kaya ide, tapi celakanya hanya sedikit yang mampu mengkomunikasikannnya pada khalayak. Agar ide kita bisa menebar dan sampai kepada orang lain, maka ide itu harus diberi “kaki” dan “sayap”. Salah satu “sayap” dari ide kita bisa berbentuk tulisan. Dengan dituangkannya ke dalam tulisan, ide kita bisa dipahami orang lain. Dalam format sebuah tulisan, ide kita juga berpeluang untuk awet menmbus lintasan jaman. Berkat media tulis, dasar-dasar pengetahuan klasik yang penting dari peradaban Yunani dan Romawi bisa digali dan dilanjutkan oleh peradaban Islam. Sebagai pembanding, kalau ide kita komunikasikan dalam bahasa lisan, maka selain akan lebih sulit untuk dimengerti secara utuh oleh orang lain, ide itu juga akan gampang menguap tak membekas. Itulah salah satu kelebihan tradisi tulis dibandingkan tradisi lisa.

Lantar bagaimana menuangkan ide itu ke dalam tulis? Kegiatan menulis pada dasarnya adalah sebuah kegiatan berkomunikasi. Agar kita sukses dalam melakukan komunikasi, ada baikya kita memahami dasar-dasar komunikasi. Kita harus paham karakter komunikan, komunikator, media, dan pesan yang akan disampaikan. Istilah lainnya kita harus paham konteks. Dengan paham konteks, akan menghindarkan kita dari adanya miskomunikasi yang menyesatkan.

Teknik menulis sendiri kalau diteoritisasikan akan cenderung rumit dan membingungkan. Hal itu hanya akan membuat pemula di bidang tulis-menulis semakin bingung. Analogi yang hampir mirip adalah ketika kita belajar naik sepeda atau belajar renang. Lebih sulit bagi kita kalau mengawalinya dengan hanya terpaku pada teori naik sepeda. Seberapa lama pun Anda menghafalkan teori naik sepeda, Anda tidak akan bisa bersepeda tanpa langsung praktik menaiki sepeda dan mengayuhnya meski disertai jatuh bangun. Makin sering Anda berlatih naik sepeda, Anda makin berpeluang untuk terampil bersepeda. Anda akan bisa standing dengan satu roda belakang atau terbang jumping dengan sepeda Anda, kalau Anda memang rajin bergelut dengan sepeda. Demikian juga dengan menulis! Anda tidak dapat hanya membaca dan menghafalkan berjuta kaidah tentang tata-cara menulis, tetapi Anda harus memulai untuk benar-benar menulis. Menulis, menulis, dan menulis!

Dalam dunia tulis-menulis ada juga cara lain yang efektif kalau kita ingin belajar menguasainya, yaitu dengan menyimak pengalaman penulis sukses. Dengan mengenal perjalanan hidup dan perjalanan sukses seseorang, kita dapat belajar banyak darinya. Ambil contoh pengalaman pemenang Nobel Sastra, John Steinbeck, yang pernah dipergoki aktor Inggris John Mills di lokasi syuting film mereka (Nurtanio, 1997). Menurut John Mills, Steinbeck pagi-pagi selalu menulis memenuhi kertas dan lantar kertas itu dibuangnya ke keranjang sampah. Beberapa waktu kemudian Steinbeck mulai menulis lagi dan kertas yang terakhir ini disusunnya secara rapi dalam filenya.

Yang menarik dari cerita ini, ternyata penulis sekaliber Steinbeck masih sangat hati-hati dalam menulis. Pada kertas pertama yang kemudian dibuangnya itu ternyata ia hanya melakukan pemanasan. Ia melatih dirinya untuk menggambarkan secara tepat, jelas dan hidup suasana kamarnya sendiri, cuaca di luarnya, letak meja, gorden, jendela, dan pintu. Kalau penggambaran hal-hal yang nyata dan konkret itu saja masih gagal dilakukan, bagaimana dia bisa menggambarkan hal-hal yang lebih muskil?

Cara yang ditempuh oleh Steinbeck itu bisa kita pertimbangkan. Pemborosan kata-kata harus diberantas sejak awal. Keterampilan untuk menulis secara jernih, jelas, dan lugas sehingga dimengerti orang lain, memang perlu latihan. Bakat memang menentukan, tetapi kita harus meyakini saran banyak penulis besar, bahwa bakat itu hanyalah unsur sebesar 10%, di luar itu yang 90% tetap diperlukan kemauan, latihan dan pendidikan. Kalau sudah demikian, siapapun berpeluang untuk menjadi penulis asalkan ia mau melatih diri. Bahkan ada kisah, seorang bekas narapidana yang selama hidupnya tidak bisa menulis seperti Henri Charier, pada suatu kali tergerak untuk menuliskan kisah hidupnya, dan dia lakukan. Hasilnya sebuah buku best selleri dunia: Papillon.

Masalah lain yang harus dipahami dalam dunia tulis adalah aturan main yang khas dalam media ini. Setiap media komunikasi selalu punya karakter atau aturan mainnya sendiri yang khas. Aturan main media tulis, dalam beberapa hal sangat berbeda dengan aturan main komunikasi lisan. Seseorang yang jago dalam komunikasi lisan, ketika mencoba untuk menulis seringkali terjebak dalam pola komunikasi lisan. Hal ini tentu saja menyulitkan orang lain untuk memahami isi tulisannya. Ungkapan-ungkapan lisan, struktur dan komposisi bercerita, serta pola persuasi yang biasanya efektif kalau digunakan dalam bahasa lisan tidak dapat diterapkan secara mentah dalam bahasa tulis. Ketika berkomunikasi dalam bahasa tulis tak ada lagi yang bisa membantu selain bentuk dan makna tulisan itu sendiri. Berbeda dengan yang terjadi pada bahasa lisan, dimana kekurangjelasan dalam komunikasi masiih bisa dibantu oleh faktor lain seperti mimik pembicara, gerakan tangan, intonasi, atau umpan balik dari pendengar yang langsung bisa ditangkap pembicara.

Bahasa tulis punya aturan main dan sistem tandanya sendiri. Ia mempunyai sistem tanda baca seperti titik, koma, tanda tanya, tanda seru, huruf kapital, dan sebagainya yang amat menentukan makna tulisan itu. Sebagai sebuah aturan main, sistem tanda baca itu akan sangat membantu kita mengkomunikasikan pesan yang akan kita sampaikan pada pembaca kalau kita terampil menggunakannya secara optimal. Tapi sebaliknya, ia justru akan menjadi bumerang yang mengganggu komunikasi kalau kita tak menguasainya dengan betul.

Dengan penguasaan pada sistem tanda baca serta diksi yang tepat, kita akan leluasa memainkan irama dan greget tulisan. Kemampuan kita memainkan nada dan irama tulisan akan membantu kita mencapai maksud kita dalam berkomunikasi lewat bahwa tulis. Kita bisa memancing emosi dan empati pembaca. Kita bisa juga membuka kelopak pemahaman pembaca terhadap apa yang kita sampaikan dalam media tulis itu.

PENUTUP

Ada sebuah stiker yang sering (bahkan selalu) dibuat oleh aktivits pers mahasiswa. Bunyinya begini: Kalau mulutmu disumpal, angkatlah penamu. Untuk mengakhiri tulisan ini, saya ingin memodifikasi isi stiker itu menjadi: Kalau mulutmu belum juga disumpal, maka sumpallah sendiri. Agar kamu segera tergerak untuk mengangkat penamu.

Random Posts

Loading…

Did you like this? Share it: