«

»

Mar 21

Manajemen Penerbitan Media Berkala

*) Kertas kerja disampaikan pada acara Pembekalan Asisten Baru
Laboratorium Akuntansi Program Studi Akuntansi FE-UMM.
Sabtu, 11 Desember 2009.
Jurnalisme adalah habitat yang berbahaya. Lihat saya istilah-istilahnya. Misalnya, pers adalah watchdog, anjing penjaga, kata orang Amerika. Kita terlanjur memakai kata “anjing” sebagai makian. Entah kalau mengejanya jadi “anjink” atau “anjeeng” atau lainnya lagi, sebab “ejaan” itu penting.

(Omi Intan Naomi, 1996)

Pendahuluan

Kalimat di atas sengaja saya kutip untuk mengawali diskusi ini karena – menurut saya – sangat pas untuk membangkitkan gairah kita dalam mengelola sebuah media. Kalimat di atas saya kutip dari buku “Anjing Penjaga Pers di Era Orde Baru” yang ditulis Omi Intan Naomi pada awal 1996. Hampir keseluruhan buku setebal lebih kurang 300 halaman itu berbicara tentang intimidasi dan tekanan yang dilakukan oleh pemerintah terhadap pers. Mulai dari pencekalan, penculikan, hingga pembredelan yang populer pada saat Menteri Penerangan dijabat oleh Harmoko (‘Menteri Atas Petunjuk Presiden’!).

Pada saat itu, pengelolaan media massa begitu dipersulit. Jangankan untuk membangun penerbitan baru, untuk menjaga keberlangsungan sebuah media yang telah ada saja luar biasa repot. Kita tentu masih ingat ketika majalah TEMPO dibredel karena tulisan-tulisannya yang mengkritik pemerintah (Soeharto!). Kebebasan pers yang saat ini dinikmati oleh dunia jurnalistik hanyalah mimpi pada saat itu. Padahal, pers adalah salah satu pilar dalam sebuah negara yang mengklaim sebagai negara demokrasi. Tiga pilar lainnya adalah Trias Politika (Eksekutif, Legislatif, dan Yudikatif). Ibarat sebuah meja, jika salah satu dari empat kakinya dipotong, maka meja itu tidak akan dapat berdiri dengan sempurna. Demikian pula demokrasi tanpa pers, ia akan merangkak dengan tertatih-tatih.

Saat ini, kita menikmati sebuah kondisi di mana melahirkan media massa begitu mudahnya. Pemerintah memberikan fasilitas berupa kemudahan perijinan untuk peneribitan – yang kemudian mendorong munculnya berbagai bentuk penerbitan yang mengarah kepada pornografi. Kalau kita amati dalam 5 tahun terakhir, jenis penerbitan yang paling banyak tumbuh dan bertahan adalah media-media yang mengeksploitasi tubuh perempuan. Sebut saja misalnya sederet nama tabloid dan majalah seperti X-file, Bibir, Gincu, dsb yang mengikuti jejak majalah Popular, Matra, dsb.

Terlepas dari semua itu, ada sisi positif yang patut kita syukuri bahwa untuk mendapatkan ijin penerbitan sebuah media tidak membutuhkan waktu dan biaya yang besar. Dalam dunia akademik misalnya, biaya pengurusan ISSN untuk menerbitkan jurnal, bulletin, dsb. hanya Rp 200.000,00 dan bisa selesai dalam waktu satu hari!.

Merancang Sebuah Media Berkala

Untuk memulai sebuah penerbitan media berkala, ada beberapa tahapan yang perlu ditempuh:

  1. Tentukan siapa yang akan menjadi calon pembaca media tersebut. Penetapan segmen pasar ini penting untuk menjamin keberlangsungan hidup media. Sering kali sebuah media terbit hanya untuk satu dua kali terbitan, setelah itu tamat karena tidak adanya pasar yang pasti.
  2. Tentukan jenis keberkalaan. Apakah dalam bentuk koran harian, majalah bulanan, jurnal tri wulan, tabloid mingguan, ataukah bulletin tahunan.
  3. Tentukan core issue. Hal ini penting untuk memberikan kekhasan media. Misalnya jika sudah dipilih bahwa core issue-nya adalah Akuntansi, maka untuk seterusnya hanya akan berbicara tentang Akuntansi. Tidak sekali penerbitan-pun akan mengupas perceraian Alya Rohali misalnya. Juga tidak akan latah membuat edisi khusus menyoroti penghasilan Inul Daratista yang konon mencapai Rp 700 M perbulan!
  4. Pilih nama yang disesuaikan dengan core issue. Pemilihan nama harus mencerminkan isi dari media. Jurnal Media Ekonomi miliki FE-UMM misalnya, mencerminkan isinya yang berbicara tentang ilmu ekonomi dengan segala pernak-perniknya. Jurnal Akuntansi dan Keuangan “Balance” milik Program Studi Akuntansi FE-UMM misalnya, memuat perkembangan ilmu Akuntansi dan Keuangan. Koran Kompas jelas berbeda dengan Republika. Jurnal Ulumul Qur’an juga sudah pasti berbeda dengan Economic Review. Bila perlu, nama media memiliki jargon khas yang semakin mempertajam core issue media tersebut. Majalah mahasiswa DIMEK misalnya memiliki jargon ‘Media Pengemban Wawasan’. Jurnal Balance berjargon ‘Menjaga Keseimbangan Wacana’
  5. Menentukan rubrikasi. Untuk media jenis koran harian, majalah, dan bulletin perlu dibuat rubrikasi yang bersifat tetap dan tidak diubah-ubah. Konsistensi rubrikasi merupakan salah satu point positif sebuah media. Sedangkan jurnal biasanya tidak membutuhkan rubrikasi karena merupakan kumpulan tulisan hasil penelitian yang agak sulit untuk dirumpunkan.
  6. Pembagian tugas dan tanggung jawab (menyusun dewan redaksi). Susunan redaksi mutlak diperlukan untuk setiap penerbitan. Bahkan, untuk media-media tertentu, kita dapat mengetahui keberpihakan sebuah media dari susunan redaksinya (jika kita mengenal nama-nama yang tercantum dalam susunan redaksi tersebut). Ketika kita membaca susunan redaksi tabloid Nyata, misalnya, kita akan mengetahui bahwa itu milik Jawa Pos Group. Atau sebaliknya, ketika kita membawa susunan redaksinya Jawa Pos, kita mengetahui bahwa ia satu kelompok dengan Nyata sehingga wajar jika berita-berita di Jawa Pos lebih didominasi berita entertainment daripada in-depth analysis
  7. Mengurus ISSN ke LIPI. ISSN yang dikeluarkan oleh LIPI ini sangat penting artinya, karena tanpa ISSN media yang kita terbitkan setengah illegal dan tidak mendapatkan pengakuan dari pihak luar. Proses pengurusan ISSN tidak sulit, hanya dengan mengajukan permohonan ISSN kepada LIPI disertai contoh Cover, susunan redaksi, dan rencana penerbitan perdana.

Manajemen Penerbitan Media

Setelah persiapan awal penerbitan siap, ISSN juga telah turun dari LIPI, maka kita dapat memulai proses penerbitannya. Dalam konteks ini yang akan kita diskusikan adalah penerbitan bulletin (karena untuk sementara yang dimiliki oleh Lab. Akuntansi adalah Bulletin Citra). Berikut adalah tahapan dalam mempersiapkan penerbitan bulletin:

  1. Melalui sidang redaksi, tentukan tema sentral edisi. Misalnya, diputuskan bahwa tema sentralnya adalah menyoal Standar Akuntansi Pemerintahan. Tema ini diilhami oleh ditetapkan PP. No. 24 tahun 2005 tentang Standar Akuntansi Pemerintahan. Maka semua rubrikasi dalam bulletin akan berbicara tentang masalah ini dari aspek spesifik masing-masing rubrik. Atau misalnya tema sentralnya tentang Audit Laporan Keuangan Partai Politik, maka semua tulisan dalam semua rubrik harus berbicara tentang Audit Laporan Keuangan Partai Politik. Kecuali jika dibuat ada rubrik khusus yang memang berbicara di luar konteks utama.
  2. Setelah ditentukan tema sentralnya, tentukan penanggung jawab masing-masing rubrik. Penanggung jawab rubrik tidak harus yang bertugas untuk menulis pada rubrik tersebut, tetapi dia bertanggung jawab atas tersedianya tulisan untuk rubrik tersebut.
  3. Tentukan dead line penyerahan naskah. Pada tanggal tertentu, penanggung jawab rubrik harus menyerahkan naskah untuk masing-masing rubriknya kepada redaktur pelaksana. Jika sampai pada batas dead line tersebut ada yang belum bisa menyerahkan naskah, maka penanggung jawab rubrik bertugas menulis untuk rubriknya. Dengan demikian, maka tanggal dead line ditentukan dengan mempertimbangkan waktu yang dibutuhkan oleh penanggung jawab rubrik untuk menulis jika ia belum memiliki naskah dari orang lain.
  4. Setelah semua naskah untuk masing-masing rubrik terkumpul, maka dilakukan proses editing awal oleh redaktur pelaksana. Editing awal ini hanya untuk memastikan kebenaran pengetikan dan ejaan.
  5. Proses editing berikutnya dilakukan untuk menilai substansi naskah. Proses ini dilakukan oleh dewan editor sekaligus untuk menentukan sebuah naskah layak muat atau tidak.
  6. Setelah semua naskah yang layak cetak selesai diedit, maka dilakukan proses lay out.
  7. Sebelum dicetak, dalam format setelah lay out, naskah-naskah tersebut diedit ulang untuk memastikan tidak ada salah ketik dan sebagainya.
  8. JADILAH SEBUAH BULLETIN YANG SIAP EDAR DAN SIAP BACA….

Terima Kasih.

Semanding, 10 Desember 2009. 20.55 WIB

Random Posts

Loading…

Did you like this? Share it: