«

»

Mar 07

KLASIFIKASI HADITS SECARA UMUM

  1. PENDAHULUAN

Kita semua pasti sudah tahu dan faham apa itu hadits, bahkan kita sepakat bahwa hadits adalah sumber hukum islam yang kedua setelah Al-qur’an sehingga Al-qur’an sangat dijaga eksistensinya.Untuk menjaga eksistensinya, para sahabat,tabi’in-tabi’in sampai generasi seterusnya menghimpun atau mengkodifikasikan hadits. Sejak masa pertama hijrah, sebenarnya hadits sudah dikodifikasi oleh personal-personal Ahli hadits, tapi pada masa ini masih ada perdebatan bahkan Rasulullah, Khulafaurrasidin melarangnya untuk menulis dan membukukannya, karena dikhawatirkan akan tercampurnya antara ayat-ayat Al-qur’an dan hadits dan akan terlalaikannya Al-qur’an karena pada masa ini para sahabat masih mengandalkan hafalannya.

Pembukuan hadits terlaksana pada masa khalifah Umar ibn Abdul Aziz yang terkenal wara’i.dimasa ini sudah sepakat untuk membukukan hadits bahkan para ulama sepakat untuk membukukan hadits karena sudah tidak ada sebab yang muncul untuk dilarangnya untuk menulis atau menghiompun hadits.Namun sejalan dengan waktu maka haditspun mulai menyebar ke pelosok-pelosok negeri yang mana dalam penyampaian hadits mengalami perbedaan yang mengakibatkan hadits menjadi bermacam-macam dan beraneka ragam ( variatif ).

II.                PERMASALAHAN

Dalam pembahasan klasifikasi hadist secara umum ini, kami pemakalah akan mencoba membahas  macam – macam hadist ditinjau dari segi kuantitasnya dan macam – macam hadist ditinjau dari kualitasnya.

III.             PEMBAHASAN

A. Macam – macam hadist ditinjau dari kuantitasnya

Ulama’ berbeda pendapat tentang pembagian hadist ditinjau dari segi kuantitasnya ini. Maksud tinjuan  dari segi kuantitas disini adalah dengan menelusuri jumlah para perawi yang menjadi sumber adanya suatu hadist. Para  ahli ada yang mengelompokkan menjadi tiga bagian, yakni hadist mutawatir, hadist Masyhur, dan hadist Ahad dan ada juga yang membaginya hanya menjadi dua, yakni hadist Mutawatir dan Hadist Ahad.1 Akan tetapi kebanyakan dari para ahli membedakan dan membaginya hanya menjadi dua yakni hadist Mutawatir dan hadist Ahad.  Mereka beralasan bahwa hadist masyhur merupakan bagian dari hadist Ahad dan tidak berdiri sendiri. Alasan ini diikuti oleh golongan ulama Ushul dan ulama Kalam. Dan sebagian lagi  beralasan bahwa hadist Masyhur adalah hadist yang berdiri sendiri dan bukan termasuk bagian dari hadist Ahad. Alasan ini diikuti oleh sebagian ulama Ushul, diantaranya adalah Abu Bakar Al – Jassas. Namun dalam hal ini kelompok kedua sehingga para ahli membagi hadist menjadi dua, Hadist Mutawatir dan Ahad.

1. Hadist Mutawatir

Sebelum kita bahas hadist Mutawatir lebih dalam, sebaiknya kita selalu tahu apa itu hadist Mutawtir ?

Mutawatir menurut bahasa berarti mutabi yakni yang datang berikutnya atau beriring – iringan yang antara satu dengan yang lain tidak ada jaraknya. Sedangkan pengertian hadist mutawatir menurut istilah, terdapat beberapa definisi, antara lain sebagai berikut :

“ Hadist yang diriwayatkan oleh sejumlah besar orang yang menurut adat mustahil mereka bersepakat terlebih dahulu untuk berdusta “.

Ada juga yang mengatakan :

“ Hadist yang diriwayatkan oleh sejumlah besar orang yang menurut adat mustahil mereka bersepakat terlebih dahulu untuk berdusta. Sejak awal Sanad sampai akhir Sanad, pada setiap tingkat ( Thobaqat ).2

Secara definisi hadist mutawatir ialah :

“  Suatu hadist hasil tanggapan dari Panca Indra, yang diriwayatkan oleh sejumlah besar rawy, yang menurut adat kebiasaan mustahil mereka berkumpul dan bersepakat dusta “.3

Secara garis besar jika jumlah para sahabat yang menjadi rawy pertama suatu hadist itu banyak sekali, kemudian rawy dalam generasi tabi’in yang menerima hadist dari rawy – rawy generasi pertama ( sahabat ) juga banyak jumlahnya dan tabi’in – tabi’in yang menerimanya dari tabi’in pun seimbang jumlahnya, bahkan mungkin lebih banyak, demikian seterusnya dalam keadaan yang sama sampai kepada rawy – rawy  yang mendewankan hadist, maka hadist tersebut dinamakan Hadist Mutawatir.

Syarat – syarat hadist mutawatir :

  1. Pewartaan yang disampaikan oleh rawy – rawy tersebut harus berdasarkan Panca Indera

Artinya bahwa berita yang mereka sampaikan itu harus benar – benar hasil pendengaran atau penglihatannya sendiri.

  1. Jumlah rawy – rawynya harus mencapai suatu ketentuan yang tidak memungkinkan mereka bersepakat bohong.

Para ulama berbeda pendapat tentang batasan yang diperlukan untuk tidak bersepakat bohong.

–          Abu ‘ t – Thayyib menentukan sekurang – kurangnya 4 orang

–          Ash – habu ‘sy – syafi’y menentukan minimal 5 orang

–          Sebagian ulama menetapkan sekurang – kurangnya 20 orang berdasarkan ketentuan yang telah difirmankan Allah SWT dalam surat Al – Anfal : 65.

–          Ulama yang lain menetapkan jumlah tersebut sekurang – kurangnya 40 orang.4

  1. Adanya keseimbangan jumlah antara rawy – rawy dalam Thabaqoh ( lapisan ) pertama dengan Thabaqah berikutnya.

Dengan demikian, bila suatu hadist diriwayatkan oleh dua puluh orang sahabat, kemudian diterima sepuluh tabi’in dan selanjutnya hanya diterima lima tabi’in, maka hadist tersebut tidak bisa digolongkan sebagai hadist mutawatir.

Pembagian Hadist Mutawatir :

a. Mutawatir Lafzhi

Yang dimaksud dengan hadist mutawatir lafdzi adalah :

“ Hadist yang mutawatir periwatannya dalam suatu lafadz ada yang mengatakan, mutawatir lafadz adalah :

“ Hadist yang mutawatir lafadz dan maknanya “.

dengan kata lain Hadist Mutawatir lafadz adalah Hadist yang diriwayatkan oleh orang banyak yang susunan reaksinya dan maknanya sesuai benar antara riwayat yang satu dengan yang lain.

b. Mutawatir  Ma’ nawy

Yang dimaksud dengan hadist mutawatir ma’nawi adalah  hadist mutawatir yang rawy – rawynya berlainan dalam menyusun redaksi  pemberitaan tetapi berita yang berlainan – lainan susunan redaksinya itu terdapat persesuaian pada prinsipnya.5

Sebagian ulama berpendapat, hadist mutawatir adalah :

“ Hadist yang maknanya mutawatir, tetapi lafadz tidak “.

Al – Suyuthi mendefinisikan sebagai berikut :

“ Hadist yang dinukilkan oleh sejumlah orang yang menurut adat mustahil mereka  sepakat berdusta atas kejadian yang berbeda – beda, tetapi bertemu pada titik persamaan.

c. Mutawatir Amaly

Mutawatir Amaly adalah yang diketahui dengan mudah bahwa dia termasuk urusan agama dan telah mutawatir antara ummat islam, bahwa nabi SAW mengerjakan, menyuruhnya, atau selain dari itu.

2. Hadist Ahad

Al – Ahad Jama’ dari ahad, menurut bahasa berarti al – wahid atau satu. Menurut istilah adalah khabar yang jumlah perawinya tidak mecapai batasan jumlah perawi hadist mutawatir, baik perawi itu satu, dua, tiga, empat, lima dan seterusnya yang tidak memberikan pengertian bahwa jumlah perawi tidak sampai kepada jumlah perawi hadist mutawtir “.

Ada pula yang mengartikan hadist ahad secara singkat, yakni hadist yang tidak memenuhi syarat – syarat hadist mutawatir, hadist yang selain hadist mutawtir, atau hadist yang sanadnya sah dan bersambung hingga sampai kepada sumbernya ( nabi ) tetapi kandungannya memberikan pengertian zhanni dan tidak sampai kepada fath’I dan yaqin.6

Pembagian Hadist  Ahad :

a. Hadist Masyhur

Mashyur menurut bahasa, ialah al – Intisyar wal – dzuga’ : sesuatu yang sudah terbesar dan populer. Sedangkan menurutistilah terdapat beberapa definisi, antara lain :

“Hadist yang diriwayatkan dari sahabat, tetapi bilangannya tidak sampai ukuran bilangan mutawatir, kemudian baru mutawatir setelah sahabat dan demikian pula setelah mereka“.

Macam – Macam Hadist Masyhur

Dari segi yang terakhir inilah, hadist masyhur dapat digolongkan kepada :

  1. Masyhur dikalangan ahli hadist
  2. Masyhur dikalangan ulama ahli hadist, ulama – ulama lain, dan dikalangan orang umum.
  3. Masyhur dikalangan ahli Fiqih
  4. Masyhur dikalangan ahli Ushul Fiqih
  5. Masyhur dikalangan ahli Sufi
  6. Masyhur dikalangan ulama – ulama  arab
  7. b. Hadist Ghoir Masyhur

1) Hadist ‘Aziz

‘Azizbisa berasal dari ‘Azza – ya ‘Izzu yang berarti  la  yakadu yujadu atau qalla wa nadar ( sedikit atau jarang adanya ), dan bisa bersal dari azza ya ‘azzu berarti qawiya ( kuat ).

Sedangkan ‘Aziz menurut istilah, adalah hadist yang perawinya tidak kurang dari dua orang dalam semua Tabaqat Sanad.7

2) Hadist Gharrib

Gharrib menurut bahasa berarti al – munfarid ( menyendiri ) atau al – ba’id an  aqaribihi ( jauh dari kerabatnya ).

Ulama ahli hadist mendefinisikan hadist gharib adalah Hadist yang diriwayatkan oleh seorang perawi yang menyendiri dalam meriwayatkannya, baik yang menyendiri itu imamnya maupun selainnya.

B. Hadist Ditinjau Dari Segi Kualitasnya1. Hadist Maqbul

Magbul menurut bahasa berarti ma’khuz ( yang diambil ) dan Mushaddoq ( yang dibenarkan atau diterima ). Sedangkan menurut istilah adalah :

“Hadist yang lebih semourna padanya, syarat – syarat penermiaan”.

Syarat – syarat penerimaan suatu hadist menjadi yang maqbul berawi yang adil lagi dhabit, dan juga berkaitan dengan matangnya tidak syad dan tidak ber’illat.

2. Hadist Mardud

Mardud menurut bahasa berarti “yang ditolak” atau yang “tidakditerima”. Sedangkan mardud menurut istilah ialah :

“Hadist yang tidak memenuhi syarat  – syarat atau sebagian syarat hadist maqbul”.

Para ulama membagi hadist  ini menjadi tiga yaitu : hadist shahih, hasan dan dha’if. Menurut  Abu Isa Al – Tirmidzi, membagi hadist ini menjadi hadist shahih, hasan, ghorib.

1. Hadist Shahih

Menurut bahasa lawan dari kata saqin ( sakit ) yang artinya sah, benar, sempurna sehat. Secara definitif eksplisit belum dinyatakan oleh ahli hadist dan kalangan  Al – Muttaqaddimin.

Syarat – syarat hadist shahih :

  1. Sanadnya bersambung
  2. Perawinya adil
  3. Perawinya sabit
  4. Tidak syadz ( janggal )
  5. Tidak ber – illat ( Ghair mu’allal )

Macam – macam hadist shahih :

  1. Shahih li dzatihi
  2. Hadist li ghairihi
  3. 2. Hadist Hasan

Hasan menurut bahasa berarti sesuatu yang disenangi atau dicondongi oleh nafsu.

Menurut istilah adalah hadist yang diriwayatkan dari dua arah ( jalur ), dan para perawinya tidak tertuduh dusta, tidak mengandung syadz yang menyalahi hadist –hadist shahih.

Macam – macam hadist Hasan :

a)      Hadist Hasan Lidzatihi

b)      Hadist Hasan Lighairihi

c)      Hadist Dha’if

Kata Dha’if menurut bahasa berarti lemah, sebagai lawan kata kuat. Menurut istilah adalah hadist yang didalamnya tidak terdapat syarat – syarat hadist shahih dan syarat – syarat hadist  Hasan.

Macam – macam hadist Dha’if :

1)      Hadist Muhqathi’

2)      Muallaq

3)      Mursal

4)      Mu’dhal

5)      Udallas

IV. KESIMPULAN

Dari uraian diatas, kita tahu bahwa :

  1. Macam – macam hadist dilihat dari segi kualitasnya
    1. Hadist Mutawatir, dibedakan atas :

–          Mutawatir Lafdzi

–          Mutawatir ma’nawi

–          Mutawatir amali

  1. Hadist Ahad, dibagi menjadi :

–          Hadist Masyhur

–          Hadist ghairu masyhur

  1. Macam – macam hadist dilihat dari segi kuantitasnya :
    1. Hadist maqbul
    2. Hadist mardud

–          Shahih

–          Hasan

–          Dhai’if

V. PENUTUP

Demikian sedikit yang dapat kami uraikan dalam makalah ini dan kami berharap makalah ini berguna bagi pembaca pada khususnya dan bagi kita semua pada umumnya.

DAFTAR PUSTAKA

–          Suparta, Munzier, Ilmu Hadist, Jakarta : Raja Grafindo Persada, 2001

Rohman, Fatchur, Ikhtisar Musthalahul Hadist, Bandung : Al – MA’arif, 1981.


f1 Drs. Munzier Suparta.M.A, Ilmu Hadist, ( Jakarta, Raja Grafindo Persada, 2001 ), hal.95

2 Ibid, hal 96

3 Drs. Fatchur Rahman, Ikhtisar Mustalahul Hadist, ( Bandung, Al – Ma’arif, 1981 ), hal. 59

4 Ibid, hal, 60 – 61

5 Ibid, hal 64

6 Drs. Munzier Suparta.MA, Ilmu Hadist, ( Jakarta, Raja Grafindo Persada, 2001 ), hal 108.

7 Ibid, hal. 116

Random Posts

Loading…

Did you like this? Share it: