«

»

Feb 25

INTELLECTUAL CAPITAL DAN KINERJA KEUANGAN PERUSAHAAN; SUATU ANALISIS DENGAN PENDEKATAN PARTIAL LEAST SQUARES

by: Ihyaul Ulum, Imam Ghozali, Anis Chariri (presented at SNA XI Pontianak, 2008)

Abstract

The purpose of this study is to investigate the association between the efficiency of value added (VAICTM) by the major components of a firm’s resource base (physical capital, human capital and structural capital) and three traditional dimensions of financial company’s performance: ROA, ATO, and GR. Data are drawn from 130 Indonesian banking sectors for three years (2004-2006). It is an empirical study using PLS for the data analysis. The findings show that: IC influences positively to financial company’s performance; IC influences positively to future financial company’s performance; and the rate of growth of a company’s IC (ROGIC) is not influences to the future financial company’s performance. Overall, the empirical findings suggest that human capital (VAHU) and profitability ROA remains the most significant indicator for VAICTM and financial company’s performance for three years. While physical capital (VACA) is significant only for 2006. The limitation of this research is: the data is drawn from all of Indonesian banking sectors, listed and unlisted, which have limited this research to choose the financial performance measure based on market value.

Key words: Intellectual Capital, VAICTM, company’s performance, Indonesian banking sector, partial least squares.

PENDAHULUAN

Sejak tahun 1990-an, perhatian terhadap praktik pengelolaan aset tidak berwujud (intangible assest) telah meningkat secara dramatis (Harrison dan Sullivan, 2000). Salah satu pendekatan yang digunakan dalam penilaian dan pengukuran intangible assest tersebut adalah intellectual capital (IC) yang telah menjadi fokus perhatian dalam berbagai bidang, baik manajemen, teknologi informasi, sosiologi, maupun akuntansi (Petty dan Guthrie, 2000; Sullivan dan Sullivan, 2000).

Di Indonesia, fenomena IC mulai berkembang terutama setelah munculnya PSAK No. 19 (revisi 2000) tentang aktiva tidak berwujud. Meskipun tidak dinyatakan secara eksplisit sebagai IC, namun lebih kurang IC telah mendapat perhatian. Menurut PSAK No. 19, aktiva tidak berwujud adalah aktiva non-moneter yang dapat diidentifikasi dan tidak mempunyai wujud fisik serta dimiliki untuk digunakan dalam menghasilkan atau menyerahkan barang atau jasa, disewakan kepada pihak lainnya, atau untuk tujuan administratif (IAI, 2002).

Bertolakbelakang dengan meningkatnya pengakuan IC dalam mendorong nilai dan keunggulan kompetitif perusahaan, pengukuran yang tepat terhadap IC perusahaan belum dapat ditetapkan. Misalnya, Pulic (1998; 1999; 2000) tidak mengukur secara langsung IC perusahaan, tetapi mengajukan suatu ukuran untuk menilai efisiensi dari nilai tambah sebagai hasil dari kemampuan intelektual perusahaan (Value Added Intellectual Coefficient – VAIC™). Komponen utama dari VAIC™ dapat dilihat dari sumber daya perusahaan, yaitu physical capital (VACA – value added capital employed), human capital (VAHU – value added human capital), dan structural capital (STVA – structural capital value added).

Menurut Pulic (1998), tujuan utama dalam ekonomi yang berbasis pengetahuan adalah untuk menciptakan value added. Sedangkan untuk dapat menciptakan value added dibutuhkan ukuran yang tepat tentang physical capital (yaitu dana-dana keuangan) dan intellectual potential (direpresentasikan oleh karyawan dengan segala potensi dan kemapuan yang melekat pada mereka). Lebih lanjut Pulic (1998) menyatakan bahwa intellectual ability (yang kemudian disebut dengan VAIC™) menunjukkan bagaimana kedua sumber daya tersebut (physical capital dan intellectual potential) telah secara efisiensi dimanfaatkan oleh perusahaan.

Penelitian ini berusaha mengukur pengaruh intellectual capital (dalam hal ini diproksikan dengan VAIC™) terhadap kinerja keuangan perusahaan sektor perbankan di Indonesia. Pemilihan sektor perbankan sebagai sampel mengacu pada penelitian Kamath (2006); Mavridis (2005); dan Firer dan William (2003). Sektor perbankan dipilih karena menurut Firer dan William (2003) industri perbankan adalah salah satu sektor yang paling intensif IC-nya. Selain itu, dari aspek intelektual, secara keseluruhan karyawan di sektor perbankan lebih homogen dibandingkan dengan sektor ekonomi lainnya (Kubo dan Saka, 2002). Pemilihan model VAIC™ sebagai proksi atas IC mengacu pada penelitian Firer dan William (2003); Chen et al. (2005); dan Tan et al. (2007). Kinerja keuangan yang digunakan adalah profitabilitas ROA, rasio pendapatan terhadap total aset (ATO), dan pertumbuhan pendapatan (GR). Pemilihan indikator kinerja tersebut mengacu pada penelitian Chen et al. (2005) dan Firer dan William (2003).

TINJAUAN PUSTAKA

Telaah Teori

Teori yang mendasari penelitian ini adalah stakeholder theory. Teori stakeholder lebih mempertimbangkan posisi para stakeholder yang dianggap powerfull. Kelompok stakeholder inilah yang menjadi pertimbangan utama bagi perusahaan dalam mengungkapkan dan/atau tidak mengungkapkan suatu informasi di dalam laporan keuangan. Dalam pandangan teori stakeholder, perusahaan memiliki stakeholders, bukan sekedar shareholder (Riahi-Belkaoui, 2003). Kelompok-kelompok ‘stake’ tersebut, menurut Riahi-Belkaoui, meliputi pemegang saham, karyawan, pelanggan, pemasok, kreditor, pemerintah, dan masyarakat.

Konsensus yang berkembang dalam konteks teori stakeholder adalah bahwa laba akuntansi hanyalah merupakan ukuran return bagi pemegang saham (shareholder), sementara value added adalah ukuran yang lebih akurat yang diciptakan oleh stakeholders dan kemudian didistribusikan kepada stakeholders yang sama (Meek dan Gray, 1988). Value added yang dianggap memiliki akurasi lebih tinggi dihubungkan dengan return yang dianggap sebagai ukuran bagi shareholder. Sehingga dengan demikian keduanya (value added dan return) dapat menjelaskan kekuatan teori stakeholder dalam kaitannya dengan pengukuran kinerja organisasi.

Definisi Intellectual Capital

Bontis et al. (2000) menyatakan bahwa secara umum, para peneliti mengidentifikasi tiga konstruk utama dari IC, yaitu: human capital (HC), structural capital (SC), dan customer capital (CC). Menurut Bontis et al. (2000), secara sederhana HC merepresentasikan individual knowledge stock suatu organisasi yang direpresentasikan oleh karyawannya. HC merupakan kombinasi dari genetic inheritance; education; experience, and attitude tentang kehidupan dan bisnis.

Lebih lanjut Bontis et al. (2000) menyebutkan bahwa SC meliputi seluruh non-human storehouses of knowledge dalam organisasi. Termasuk dalam hal ini adalah database, organisational charts, process manuals, strategies, routines dan segala hal yang membuat nilai perusahaan lebih besar daripada nilai materialnya. Sedangkan tema utama dari CC adalah pengetahuan yang melekat dalam marketing channels dan customer relationship dimana suatu organisasi mengembangkannya melalui jalannya bisnis (Bontis et al., 2000).

Value Added Intellectual Coefficient (VAIC™)

Metode VAIC™, dikembangkan oleh Pulic (1998), didesain untuk menyajikan informasi tentang value creation efficiency dari aset berwujud (tangible asset) dan aset tidak berwujud (intangible assets) yang dimiliki perusahaan. Model ini dimulai dengan kemampuan perusahaan untuk menciptakan value added (VA). VA adalah indikator paling objektif untuk menilai keberhasilan bisnis dan menunjukkan kemampuan perusahaan dalam penciptaan nilai (value creation) (Pulic, 1998). VA dihitung sebagai selisih antara output dan input (Pulic, 1999).

Tan et al. (2007) menyatakan bahwa output (OUT) merepresentasikan revenue dan mencakup seluruh produk dan jasa yang dijual di pasar, sedangkan input (IN) mencakup seluruh beban yang digunakan dalam memperoleh revenue. Menurut Tan et al. (2007), hal penting dalam model ini adalah bahwa beban karyawan (labour expenses) tidak termasuk dalam IN. Karena peran aktifnya dalam proses value creation, intellectual potential (yang direpresentasikan dengan labour expenses) tidak dihitung sebagai biaya (cost) dan tidak masuk dalam komponen IN (Pulic, 1999). Karena itu, aspek kunci dalam model Pulic adalah memperlakukan tenaga kerja sebagai entitas penciptaan nilai (value creating entity) (Tan et al., 2007).

Hubungan antara IC (VAICTM) dan Kinerja Perusahaan

Hubungan intellectual capital dengan kinerja keuangan perusahaan telah dibuktikan secara empiris oleh beberapa peneliti dalam berbagai pendekatan di beberapa negara. Tabel 1 merangkum beberapa penelitian yang dilakukan untuk menguji hubungan antara IC dengan kinerja perusahaan.

TABEL 1

Penelitian-Penelitian Empiris Tentang Hubungan Intellectual Capital

dan Kinerja Perusahaan

PENELITI

NEGARA

METODE

HASIL

Bontis (1998b) Kanada Kuesioner, PLS HC berhubungan dengan SC dan CC; CC berhubungan dengan SC; CC dan SC berhubungan dengan kinerja industri.
Bontis et al. (2000) Malaysia Kuesioner, PLS HC berhubungan dengan SC dan CC; CC berhubungan dengan SC; SC berhubungan dengan kinerja industri.
Riahi-Belkaoui (2003) USA Laporan tahunan, regresi IC (diproksikan dengan RVATA) secara signifikan berhubungan dengan kinerja perusahaan multinasional di USA.
Firer dan Williams (2003) Afrika Selatan VAIC™, regresi linier VAIC™ berhubungan dengan kinerja perusahaan (ROA, ATO, MB).
Chen et al. (2005) Taiwan VAIC™, korelasi, regresi IC berpengaruh terhadap nilai pasar dan kinerja perusahaan; R&D berpengaruh terhadap kinerja perusahaan.
Tan et al. (2007) Singapore VAIC™, PLS IC berpengaruh positif terhadap kinerja perusahaan, baik masa kini maupun masa mendatang; rata-rata pertumbuhan IC berhubungan positif dengan kinerja perusahaan di masa mendatang; kontribusi IC terhadap kinerja perusahaan berbeda berdasarkan jenis industrinya.

Sumber: Diolah dari beberapa hasil penelitian, 2007.

full version…silahkan donlot disini…..

Intellectual Capital dan Kinerja Keuangan Perusahaan-Ihyaul Ulum _full_2

Random Posts

Loading…

Did you like this? Share it:

14 comments

Skip to comment form

  1. rizka

    ass, salam kenal dari Rizka. Saya sedang mencari artikel atau jurnal penelitian mengenai pengaruh human capital terhadap kinerja manajerial. Bisa tolong bantu saya, sebagai bahan referensi u/ tugas akhir. Kalau ada bisa dikirim ke email saya, thanks before. wass.

  2. @cak_lum

    human capital versi yang mana yang mau dipake…kalo pakai Pulic berarti kan pake beban karyawan…kalo pake punya Bontis harus diukur dulu…trus kinerja manajerialnya apa? coba jelajahi Journal of Intellectual Capital…mudah2an ada disana yang Anda cari. terimakasih telah berkunjung…
    Salam

  3. ayusa

    ass.
    pak ulum. saya sedang mencari bahan – bahan yang dapat saya pake buat bahas ICD terhadap kinerja keuangan. lalu saya bisa dapat bahan – bahan itu drmna saja pak? soalnya saya cari referensi tapi sulit. trima ksih pak. wass

  4. @cak_lum

    telusuri lagi di blog ini…pernah tak upload artikel tentang itu. hasil penelitian skripsinya Aprilima. dan…tunggu aja disini lagi…nanti tak upload lagi artikel2 ttg ICD. OK. tq

  5. Syska

    Asslmkm wr wb.
    Pak Ulum, skripsi sy adalah replikasi dr penelitian bpk ttg performance IC di sektor perbankan, yg sy ubah adalah objeknya, yaitu perbankan syariah (Bank Umum Syariah). Tp kt pmbimbing sy, pnlitiannya akan susah dipolakan klo menggunakan statistik (kuantitatif) krn Bank Umum Syariah (BUS) yg ada saat ini hanya 6 BUS, itupun br 3 yg sudah brdiri dbwh thn 2004 shingga datanya sedikit.. Bgmn mnrut bpk?
    Trimakasih banyak sblumnya.
    Wsslmkm wr wb

  6. @cak_lum

    Pembimbingmu benar..kalo mau “dipaksakan” dengan statistik kuantitatif. tapi kan penelitian tidak harus pake statistik kuantitatif!! kamu tetap bisa meneliti 6 BUS itu dengan data mulai 2004..tidak masalah…hanya saja bentuknya memang cenderung deskriptif…kamu bisa menjelaskan kinerja IC masing2 BUS itu, tanpa bermaksud untuk menjeneralisir hasilnya…

  7. Syska

    Asslmkm wr wb
    Pak Ulum, setelah nanti didapatkan hasil terakhir dari IC lalu bgmn cara mengubahnya ke dlm bentuk rupiah sehingga bisa dimunculkan dlm lap keuangan?
    Lalu yg termasuk CE (Capital Employed) dlm perbankan apa saja? apa hanya ekuitas dan laba bersih? Hutang lancar termasuk tdk, pak? krn modal bank yg paling besar kan diperoleh dari DPK (hutang lancarnya)..
    Mohon dijawab, pak. Terimakasih banyak
    Wasslmkm wr wb

  8. Syska

    tambahan: perhitungannya dengan menggunakan VAIC, pak

  9. indri

    assalamu’alaikum,,,
    d jurnal bapak memakai proksi ATO dan GR dan memakai variabel ROGIC landasan teori nya seperti apa y….tolong jelasin,,,,,
    jika saya menggunakan perusahaan manufaktur d BEI,kriteria pnarikan sampel nya terdapat “perusahaan yang diteliti bukan milik pihak asing”. Knapa yang diteliti hanya perush. milik lokal saja??kira2 alasan na knapa y???

  10. Syska

    Asslmkm wr wb.
    Pak ulum, setelah nanti didapatkan hasil terakhir dari IC dg menggunakan VAIC lalu bgmn cara mengubahnya ke dlm bentuk rupiah sehingga bisa dimunculkan dlm lap keuangan?
    Lalu yg termasuk CE (Capital Employed) dlm perbankan apa saja? apa hanya ekuitas dan laba bersih? Hutang lancar termasuk tdk, pak? krn modal bank yg paling besar kan diperoleh dari DPK (hutang lancarnya)..
    Mohon dijawab, ya pak. Terimakasih banyak.
    Wasslmkm wr wb

  11. @cak_lum

    Logika penggunaan ATO, GR, dan ROGIC ada di paper…baca deh…

  12. Indri

    Assalamu’alaikum wr wb
    jika penelitian menggunakan sampel perush. manufaktur d BEI, kriteria pnarikan sampel nya terdapat “perusahaan yang diteliti bukan milik pihak asing”. Knapa yang diteliti hanya perush. milik lokal saja??kira2 alasan na knapa y???

  13. @cak_lum

    kalo soal penarikan sampel, alasannya ya terserah peneliti..dia punya justifikasi sendiri dengan pemilihan sampelnya…peneliti independen dalam menentukan sampel penelitiannya…jadi tanya penelitinya, kenapa pake kriteria itu…

  14. repliki

    That is some inspirational stuff. Never knew that opinions could be this varied. Thanks for all the enthusiasm to offer such helpful information here.

Comments have been disabled.