Sep 07

Extended VAIC Plus (EVAIC+); a Comprehensive Measurement Model of Intellectual Capital Performance

Extended VAIC Plus (EVAIC+); a Comprehensive Measurement Model of Intellectual Capital Performance

Ihyaul Ulum

Ph.D student of Diponegoro University, Semarang

Lecturer of Accounting Department, University of Muhammadiyah Malang

Abstract

In the intellectual capital (IC) literature, the term of Value Added Intellectual Coefficient (VAIC) proposed by Pulic (1999, 2000) is very popular. VAIC is used to measure the performance of IC. VAIC not measure IC it self. Sometimes, IC is called as bussines performance indicator (BPI). This paper sets out to extend the VAIC model based on the international literature on IC, which then call as Extended VAIC Plus (EVAIC+). This model combine the value added formulation of Riahi-Belkaoui (2003) and extended VAIC model of Nazari and Herremans (2007). EVAIC+ add the third componen of IC which is not include in the VAIC model, ie. customer capital efficiency (CCE). Otherwise, EVAIC+ placed structural capital (SC) as an independent component, not a part of human capital (HC) as in the Pulic’s model.

Keywords: Intellectual capital performance, VAIC, extended VAIC, EVAIC+

Citation: Ulum, 2014. “Extended VAIC Plus (EVAIC+); a Comprehensive Measurement Model of Intellectual Capital Performance”. Proceeding 1st International Conference on Future Business and Innovations, 17 July 2014. University of Muhammadiyah, Malang.

#Best Presenter
Read the rest of this entry »

Did you like this? Share it:

Aug 12

Testimoni tentang software EndNote

“EndNote adalah cara cerdas bagi peneliti untuk mengelola referensi yang digunakan dalam penulisan akademik. EndNote memungkinkan peneliti untuk membuat data base referensi yang memudahkan peneliti dalam melakukan quotation. Akan sangat rugi, jika peneliti tidak memanfaatkan EndNote dalam menulis karya ilmiahnya.” (Anis Chariri, M.Com., Ph.D., Akt., Pembantu Dekan I FEB Undip Semarang).

“Saya menyesal banget baru belajar EndNote di tahun ketiga PhD saya. Tahun pertama saya malas belajar dan pakai cara manual. Ketika sudah mengenal EndNote baru menyadari betapa menulis karya ilmiah bisa jauh lebih mudah dan menyenangkan. Saya menggunakan buku pak Ihyaul Ulum edisi pertama ketika belajar EndNote. Sampai saya bawa ke UK bukunya.” (Ersa Tri Wahyuni, dosen Unpad Bandung, Ph.D student at Manchester Business Schools, UK).

“EndNote memberikan kontribusi yang signifikan ketika saya menulis paper untuk jurnal-jurnal internasional. Hanya dengan “one-click” saya dengan mudah bisa mengikuti gaya referensi yang disyaratkan Emerald, Wiley, atau publisher lainnya.” (Faisal, Ph.D., alumni  School of Accounting-Curtin University Australia, dosen FEB Undip Semarang).

“Buku yang luar biasa. Mas Ulum berhasil menyadarkan saya akan pentingnya pengelolaan sitasi dan cara smart dalam mengutip referensi. Memudahkan saya dalam international call paper dan publikasi internasional.” (Lalu Edy Herman M., kandidat Doktor, dosen FE Universitas Mataram). Read the rest of this entry »

Did you like this? Share it:

Aug 12

Enjoy mengelola Sitadi dan Bibliografi dengan EndNote X7

Sx7 3alah satu kesulitan terbesar mahasiswa dan peneliti dalam menulis adalah bagaimana melakukan sitasi dengan baik dan benar ser
ta bagaimana menyusun daftar rujukan dengan baik dan benar pada saat menyusun skripsi, tesis dan disertasi maupun penulisan artikel lainnya. Buku ini disajikan dalam bahasa Indonesia yang baik dengan tujuan yang sangat mulia yaitu membantu kita memahami untuk kemudian terampil menggunakan software EndNote yang sangat populer sebagai software sitasi dan referensi yang baik.

Saya berkenalan dengan software ini pada tahun 1998 pada saat menyelesaikan disertasi saya di Australia. Dari pengalaman itu saya merasa software ini sangat berguna untuk membantu peneliti menulis dengan baik sitasi yang disajikan dalam naskah serta daftar referensi yang disajikan di bagian akhir karya ilmiahnya. Oleh karena itu sejak saya menjadi Ketua Program Doktor di Fakultas Ekonomika dan Bisnis Universitas Diponegoro, saya mewajibkan semua mahasiswa menulis disertasinya dengan menggunakan tehnik sitasi dan referensi EndNote ini, sehingga terhindar dari berbagai kesalahan sitasi dan referensi.

Beberapa manfaat dasar yang diperoleh dengan tehnik  sitasi dan referensi yang baik adalah pertama penulis akan terhindar dari kesalahan menulis nama dan tehnik menyitir nama dalam karya ilmiahnya, yang kedua tidak mungkin terjadi kesalahan dalam menyusun daftar referensi, karena software ini secara otomatis akan menyusunkan daftar referen
si yang lengkap sesuai dengan style yang dipilih. Manfaat yang ketiga adalah penulis akan bekerja sangat efisien dalam proses telaah pustakanya sebab pada saat yang sama ia dapat melakukan “pemetikan makna dari sebaris alinea atau sub bab” secara langsung dari sumber aslinya yang tersedia dalam “jendela EndNote” sehingga pembahasan dapat dilakukan dengan lebih baik.

Terima kasih dan proficiat kepada saudara kita Ihyaul Ulum, Kandidat Doktor Ilmu Akuntasi di Program Pascasarjana Strata Tiga  Fakultas Ekonomika dan Bisnis Undip yang telah bersusah payah menyiapakan buku ini yang saya yakin sangat bermanfaat bagi kita semua. Harapan kami semua buku ini memberi manfaat dan memberi makna pada karya ilmiah kita.

Prof. Augusty Tae Ferdinand, DBA.

Ketua Program Studi Doktor Ilmu Ekonomi

Fakultas Ekonomika dan Bisnis Universitas Diponegoro

Did you like this? Share it:

May 05

Resource-Based Theory (RBT)

Resource-Based Theory kali pertama disampaikan oleh Wernerfelt (1984) dalam artikel pionernya berjudul “A Resource-based view of the firm” yang menggabungkan ide ‘distinctive competencies’ nya Selznick (1957) dan karya Penrose (1959) tentang ‘definition of the firm as a system of productive resources’ (Nothnagel 2008). Namun teori yang paling berpengaruh dalam hal ini dialamatkan kepada artikel Barney (1991) yang berjudul ‘Firm Resource and Sustained Competitive Advantage’. Kontribusi lainnya yang cukup signifikan dalam membangun teori ini  diberikan oleh Rumelt (1984, 1991), Grant (1991), Peteraf (1993, 2003), Dierickx and Cool (1989), Mahoney and Pandian (1992), Wernerfelt (1989, 1991, 1995) dan Barney (2001, 2003, 2005) (Nothnagel 2008).

RBT menyatakan bahwa perusahaan memiliki sumber daya yang dapat menjadikan perusahaan memiliki keunggulan bersaing dan mampu mengarahkan perusahaan untuk memiliki kinerja jangka panjang yang baik. Resources yang berharga dan langka dapat diarahkan untuk menciptakan keunggulan bersaing, sehingga resources yang dimiliki mampu bertahan lama dan tidak mudah ditiru, ditransfer atau digantikan. Read the rest of this entry »

Did you like this? Share it:

Jan 29

RSBI Bubar, “Sekolah Unggulan” Bagaimana?

Melalui surat keputusan nomor 5/PPU-X/2012 yang dihasilkan dari Rapat Permusyawaratan Hakim pada tanggal 2 Januari 2013 dan diucapkan dalam sidang pleno pada tanggal 8 Januari 2013, Mahkamah Konstitusi (MK) mengabulkan permohonan uji materi Pasal 50 ayat 3 UU Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional (UU Sisdiknas). Dengan dikabulkannya uji materi tersebut, RSBI dibubarkan oleh MK.

Uji materi ini diajukan oleh Koalisi Anti Komersialisasi Pendidikan (KAKP) yang terdiri dari sejumlah orang tua/wali murid yang anaknya sekolah di RSBI/SBI dan/atau yang anaknya gagal masuk sekolah ‘mahal’ itu karena faktor biaya. Mereka diadvokasi oleh Tim Advokasi “Anti Komersialisasi Pendidikan”, dari Indonesia Corruption Watch (ICW).

Dalam pembacaan amar putusan, Ketua Mahkamah Konstitusi, Mahfud MD mengatakan Pasal 50 ayat (3) Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional bertentangan dengan UUD 1945 dan tidak memiliki kekuatan hukum yang mengikat. Read the rest of this entry »

Did you like this? Share it:

Jan 22

Nomor Urut Parpol, Pentingkah?

Artikel ini dimuat di harian Malang Pos edisi Kamis, 17 Januari 2013

 

“Nomor 7 itu dalam bahasa Jawa artinya pitulungan (pertolongan)”, tulis seorang teman aktivis partai di Malang melalui akun facebooknya setelah proses undian nomor urut partai peserta pemilu 2014 di kantor KPU Pusat Senin (14/01) siang. Di dunia twitter lebih seru lagi, sejumlah politisi dan tokoh partai politik (parpol) berusaha ‘bahagia’ dengan hasil pengundian nomor urut yang diperoleh partainya.

Nomor empatnya PDI Perjuangan misalnya disambut dengan kicauan @PDI Perjuangan: (#Empat) Modal PDI Perjuangan; Ideologi, Organisasi, Kader, & Program PerjuanganTuk kesejahteraan Rakyat. Tak Cuma itu, mereka juga yakin bahwa nomor 4 itu artinya adalah bahwa @PDI Perjuangan S4H sebagai Sang Juara dalam meraih KEPERC4Y44N R4KY4T INDONESI4 dalam Pemilu 2014 nanti. Read the rest of this entry »

Did you like this? Share it:

Dec 04

Intellectual Capital; History, Framework, and Disclosure

Abstract

The purpose of this study is to describe the history of emerging and developing Intellectual Capital (IC) which is the value driver for the company’s competitive advantages. In this context, IC is presented as an integral part of Accounting discipline. IC began evolve as a study since the late 1990s. But in fact another form of IC already been discussed since the early 1980s. a symposium on the IC which was held in Amsterdam by the OECD to be a milestone tumuh blossoms IC as studies in various fields of science, accounting, management, information technology, communications, and so forth.

On the other hand, this paper also presents a study of the concepts, framework, and the components of IC according to some experts. The views from the experts on IC is presented in this section, such as Stewart, Bontis, Brooking, and Roos. The expert was later classifies IC into Human Capital, Structural Capital and Relational Capital.

In the last section, this paper discusses how the disclosure of IC, which is another way of reporting. This last section is based on empirical research conducted in European countries, Australia, ASEAN and Indonesia. Research on IC disclosure evolved since the 2000s. Because of the lack of standards governing the obligation to report the IC in the financial statements, the voluntary disclosure of IC then recommended. Research on IC disclosure mostly using base data from annual reports and company websites.

 

Keywords: intellectual capital, framework, IC disclosure, accounting

*) Paper ini merupakan tugas Mid Semester matakuliah Sejarah Pemikiran Akuntansi pada program S3 Akuntansi Undip Semarang (sudah dikumpulkan pada tanggal 3 Desember 2012) Read the rest of this entry »

Did you like this? Share it:

Nov 27

“yang ini jangan ditulis di daftar pustaka ya…”

Menulis (buku) bagi sebagian orang adalah hoby. Bukan (hanya) demi royalti dan kepangkatan akademi, tetapi menulis lebih merupakan media untuk menyalurkan hasrat. Selain itu, menulis adalah sarana lain dalam beribadah. Media untuk mengingatkan diri sendiri, dan mencari jalan untuk menjadi manusia yang bermanfaat bagi orang lain guna memenuhi hadits nabi bahwa sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi sesamanya.

Menulis bukan tanpa resiko. Jika menulis sesuatu yang tidak benar, tidak berdasar, dan atau tidak akademik, maka penulisnya bisa kena ‘marah’ forum pembaca. Itulah makanya ada kaidah, tata krama, etika, sopan santun, dalam dunia tulis menulis.

Kita diajari untuk menulis sesuatu yang benar, ada buktinya, bukan khayalan (kecuali memang untuk tulisan fiksi). Disini saya bicara tentang tulisan akademik, buku misalnya!

Ketika ‘meminjam’ kalimat dari tulisan orang lain pun kita diajari untuk secara jujur mengakui bahwa itu bukan kalimat kita dengan cara menyebut sumber kutipan dan kemudian mencantumkannya di daftar pustaka. Sesuatu yang kita kutip untuk kepentingan tulisan itu didasarkan pada kesesuaian topik dari tulisan kita.

Kita baca tulisan orang, artikel, hasil wawancara, buku, dan sebagainya, APAPUN JUDULNYA, yang penting sesuai dengan yang kita butuhkan, maka kita kutip tulisan itu. Kita mengutip berdasarkan KONTEN, bukan berdasarkan JUDUL BUKU!!!  Read the rest of this entry »

Did you like this? Share it:

Nov 20

Intellectual Capital, an ACCOUNTING perspective

Selama ini, kajian tentang Intellectual Capital (IC) masih dianggap sebagai ‘bidang asing’ di ranah ilmu Akuntansi. Bahkan, pada SNA XV kemarin di Banjarmasin, ketika salah satu pemakalah menyajikan paper tentang IC, moderator berkomentar yang kurang lebih begini: “topik ini memang menarik untuk diteliti. namun tolong dipertimbangkan aspek akuntansinya”.

Secara tidak langsung komentar itu ‘meragukan’ keAKUNTANSIan IC. Namun demikian, di SNA Purwokerto, sudah ada komisi yang khusus mendiskusikan paper2 dengan topik IC [mungkin karena waktu itu cukup banyak paper dengan topik IC yang lolos].

Di banyak kesempatan ujian akhir (skripsi, thesis) atau diskusi2 lepas juga sering dipertanyakan “DIMANA AKUNTANSInya” ketika membahas topik tentang IC.

Oleh karena itu, dalam kesempatan ini saya ingin berbagi tentang perspektif akuntansi dari IC untuk menjawab: INI LHO AKUNTANSINYA INTELLECTUAL CAPITAL, atau dengan kata lain IC itu Akuntansi Bos!!

Read the rest of this entry »

Did you like this? Share it:

Nov 19

Puasa ASYURA’

Bagi sebagian kalangan umat Islam, bulan Muharrom (Suro) adalah bulan baik untuk memperbanyak amal baik. diantaranya adalah puasa ASYURO’ yang dilakukan pada tanggal 10 Muharrom [ada juga yang bilang tanggal 9,10,11]. pada tanggal 10 Muharrom juga diyakini sebagai hari baik untk menyantuni anak yatim [tentu saja di hari yang lain juga tetap harus menyantuni mereka].

Terkait puasa asyuro ini, ada pula yang menganggap bahwa puasa pada tanggal 10 Muharrom itu tidak ada dalilnya. Hadits2 yang menyatakan kesunnahan puasa asyura dianggap tidak masuk akal dan diduga palsu.

Well, menurut saya…yang mau puasa dan meyakini kesunnahan puasa asyura silahkan berpuasa. yang TIDAK MAU BERPUASA ndak usah deh pake membodoh2kan yang puasa dengan menuding mereka yang berpuasa adalah orang2 yang tidak pernah belajar ilmu hadits! Miris sekali, hanya dengan modal ‘nyantri’ dari guru di blog2 di internet, sudah dengan mudahnya MEMBODOH2KAN dan MENYALAH2KAN pada kiyai yang bertahun2 mengaji kitab2 salafussalih.

Mari cek lagi niatan kita, ketika mencari2 ‘dalil’ tentang lemahnya dasar puasa asyuro’ itu, apakah benar2 karena ingin menjaga kemurnian ajaran Islam, ataukah sekedar mau mencari teman untuk tidak mau berpuasa sunnah? kalau memang tidak mau puasa sunnah asyura ya sudah…gak usah puasa, tapi gak usah ngajak2 dan nyalah2in mereka yang pengen puasa.

Masing2 punya dasar atas keyakinannya, ndak usah saling mencaci. saling menghormati itu jauh lebih indah bukan?! mari beramal sesuai keyakinan masing-masing, tanpa harus merasa paling benar dan yang lain pasti salah dan akan masuk neraka! LAKUM DIINUKUM WALIYA DIINy

 

Did you like this? Share it:

Older posts «